
Ini ga flashback lagi ya guys
Double sial, ups salah double beruntung. Setelah keluar dari mansion yang mempunyai penunggu tampan juga hot. Sekarang di jalan aku bertemu Pangeran tampan berkuda.. ralat bermobil keemasan. Hidupku dikelilingi oleh pria tampan nan hot. Aku harus lebih banyak beramal lagi, siapa tau pangeran dari Inggris tiba-tiba melirikku. Kurasa itu tidak mustahil setelah aku melihat Connor dan Silverduke yang secara kebetulan menggentayangiku akhir-akhir ini. Mereka juga tak kalah mempesona dari keturunan kerajaan Eropa.
Ku lirik sekilas penampilan si kuning pisang ini. Lama-lama lirikanku berubah menjadi mengamati. Tak lama kemudian dari mengamati aku menjadi terbengong. Oh tidak, aku benar-benar menjadi wanita yang meneteskan air liur saat melihat para ikemen ini.
"Jadi... Apakah kau mau kuberi tumpangan." Mark menurunkan sunglasses miliknya. Gerakannya bagai adegan slow motion di film Hollywood yang aku tonton. Itu menyebabkan seorang wanita haus belaian menahan nafas.
Sunglasses itu terlepas, Mark Silverduke mengigit ujung binkai mereka. Mata indah yang cantik itu plus pose cool langsung menggoda iman. Sama seperti oniks mereka memiliki pesona masing-masing. Sama seperti membuatmu membandingkan malam dengan siang.
"Baiklah, lagi pula kakiku sudah lumayan protes." Benar kakiku sudah lelah berjalan dari kawasan mansion milik Connor ke jalan raya ini.
Seperti pria sejati, dia melompat dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untukku. Itu manis sekali. Aku tersenyum sekilas dan mulai masuk. Sesaat bayangan daddy mesum itu melintas, tanpa sadar aku membayangkan wajahnya yang kesal karena aku menumpang di mobil Mark Silverduke ini. Bayangan wajah kesalnya membuatku hampir terkikik.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya padaku.
"Antara iya dan tidak. Aku begitu lelah dan ingin beristirahat." Jawabku. Memang Connor sialan itu benar-benar membuatku lelah.
"Jika boleh tau, bagaimana bisa kau berjalan sendirian di jalan." Mark langsung minta maaf ketika merasa pertanyaannya seperti menuduhku seperti wanita yang menawarkan diri di jalan. Itu wajar karena pakaian yang dipilih oleh Connor itu begitu yah kau tau sendiri...
" Em maaf, kau tidak perlu menjawab."
"Huh, aku tersesat karena menumpang mobil pada orang asing, ku harap kali ini aku tidak tersesat karena menumpang mobil lagi." Aku meliriknya dengan sorot mata jahil.
"Wow, aku berharap membuat mu tersesat." Goda pisang kuning itu.
"Kurasa kakiku tidak akan menuruti kemauanku lagi karena mereka terlalu lelah." Kami berdua terkikik. Aku tidak menyangka jika berbincang dengan Mark begitu menyenangkan. Sangat berbeda jauh dengan atmosfer ketika berbincang dengan Connor.
Tak lama aku sampai di apartemen sederhana ku. Aku tidak menyangka jika sangat merindukan apartemen ku memenuhi kerinduanku pada kakek dan nenek.
"Terima kasih tumpangannya tuan Mark, dan aku sangat bersyukur karena tidak tersesat kali ini."
Mark menyeringai itu cukup membuat ratusan wanita meleleh. Termasuk aku, ayolah aku tidak munafik. Dihadapan pria yang mengagumkan itu membuatku mati-matian menahan kakiku agar bisa tetap berdiri kokoh.
"Lain kali aku akan membuatmu tersesat."
Lelucon yang bagus, terasa seperti godaan atau aku yang terlalu percaya diri.
"Aku akan mempertimbangkan tawaranmu untuk menyesatkan ku. "
Diapun kembali ke mobil cantiknya. Lalu melesat meninggalkanku yang masih menebak-nebak maksud ucapannya tadi. Kurasa kami tidak akan bertemu lagi. Tapi ucapannya tadi seolah yakin kita akan bertemu kembali.
Well let's we see...
.
.
.
Masalah apalagi sekarang...
Dengan memaksakan senyum aku bertanya secara profesional pada ayam mesum itu.
"Ada yang anda butuhkan, tuan?" Rasakan itu, kau kira bisa membuat Emerald menjadi lemah karena cemburu. Tentu saja aku cemburu, pria sialan itu telah mengambil keperawanan ku. Dan sekarang dia bercumbu dengan Miss universe dan Miss world. Apakah dia menyamakan aku dengan mereka? Go the hell.
Tapi jika yang dia inginkan adalah tatapan mata indahku yang terluka dan menangis histeris, maka dia salah besar. Aku malah memasang wajah manis dan profesional.
Makan tuh.
"Segera siapkan mobilku, aku ingin keluar dengan Miss Sarah."
Wtf, okey sabar Emerald. Tetap senyum, berpose cuek, dan profesional. Kau tidak boleh kalah.
"Baik, ada lagi yang anda butuhkan tuan?" Aku menyorot langsung ke arah matanya. Ternyata dia juga menatap diriku tajam. Entah apa yang dia pikirkan, tapi melihatnya diam membuatku tidak nyaman.
"Ehem, Edward... . Tidak butuh apapun. Kau boleh pergi." Suara dehaman itu mengejutkan dirinya. Aku bahkan tidak menyangka jika dia begitu terkejut dengan suara Miss universe.
Ow ternyata dia mewakili ayam mesum bicara. Baiklah.
"Saya akan segera menyiapkan keperluan anda tuan dan nona."
Aku segera undur diri. Bisa-bisa aku bersikap konyol jika terus berada di dalam ruangan itu. Apalagi dada pirang itu menghadap langsung ke wajah ayam mesum. Huh, menyebalkan.
Setelah aku mengecek persiapan mobil connor mesum, aku segera menghubunginya. Dia hanya menjawab dengan gumanan yang agak aneh. Setelah selesai aku melihat bayangan yang sulit aku lupakan.
"Sudah ku bilang kita akan bertemu lagi. Dan aku tidak sabar membuatmu tersesat."
Mark tersenyum sambil mendekat padaku. Awalnya ia berjalan biasa, tanpa aku duga jaraknya semakin mendekat ke arahku. Dan semakin menempel. Aku mencoba mundur agar bisa memberi jarak aman padanya. Tanpa aku sangka dia justru semakin mendekat ke arahku. Karena sudah tidak ada ruang lagi karena punggung ku menabrak tembok. Aku terdiam. Bahkan aku menunduk karena tidak ingin dia mencium ku. Okey bukannya terlalu over confidence. Tapi yang aku lihat di film biasanya seperti itu. Lama menunggu ternyata yang aku dapatkan malah kuning pisang itu menyentil jidad lebar kebanggaanku. What... Okey, bukannya aku kecewa tapi ini diluar perkiraan ku sama sekali.
Tak'
"Aw...!"
Aku memegangi jidadku yang dia sentil dengan kejamnya.
"Dasar mesum, kau kira aku akan menciummu, eh?"
"...! Menyebalkan."
"Hahaha aku tau itu, baiklah sampai ketemu lagi."
"Dalam mimpimu!"
Teriakku jengkel, setelah itu aku akan pergi menuju ruangan ku. Tanpa aku duga, Connor mesum itu berdiri tak jauh dari kami. Matanya menatap dingin diriku. Rasanya tubuhku membeku karena tatapan mata seindah malam itu.
"Dia mau membunuhku ya? Memandang orang dengan pandangan membunuh seperti itu, benar-benar tidak sopan." Gerutuku.
TBC.