
Min ri sedang duduk di ruang tengah sembari mengerjakan tugasnya, lalu Nam joo keluar dengan baju rapinya, dia bercermin sembari memperhatikan wajahnya, apa masih ada yang terlewatkan atau sudah sempurna, Min ri menatap ke arah kakaknya dan berhenti menulis,"Min ri, kakak keluar dulu, kakak ada janji bertemu dengan teman lama katanya dan memakai topi kesukaannya.
"Apa kakak akan lama? Tanya Min ri kecewa.
Nam joo mendekat dan mengusap rambut adiknya,"Apa kau takut sendiri di rumah? Tenang saja kakak tidak akan lama. Kakak pergi katanya dan kembali menutup pintu rumahnya.
Min ri kembali menulis, walaupun tidak sesemangat seperti sebelumnya,"Dasar kakak, dia bukannya kembali karena untuk menemaniku, kenapa dia malah keluyuran.
Ketika Min ri selesai mengerjakan tugas sekolahnya, tiba-tiba ada pemadaman listrik di sekitar rumahnya,"Ah wae? Kenapa harus sekarang keluhnya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan sambil meraba-raba sekeliling, beberapa kali Min ri menabrak sesuatu, tapi tidak di hiraukannya hingga pada akhirnya dia berhasil menemukan sebuah lilin dan menyalakannya. Karena merasa udara semakin dingin Min ri membuat secangkir teh untuknya, dia menaruhnya di atas meja samping buku tulisnya, tapi Min ri masih merasa aneh, dia sebenarnya sangat takut dengan kegelapan, akhirnya Min ri memutuskan keluar ke pekarangan rumahnya, di sana ada sebuah meja dan beberapa kursi tersusun rapi di sana, Min ri meletakkan cangkir bersama lilinnya, dia memutuskan menunggu lampu menyala di luar.
Di luar ada banyak orang berlalu lalang, ada yang mengendarai motor, mobil, sepeda dan juga berjalan kaki, Min ri seperti mengenal anak lelaki yang kini sedang bermain sepeda di depan rumahnya, dia sepertinya ahli menggunakan sepeda, dia banyak melakukan atraksi,"Eoh? Bukankah dia Choi dal po adik Ban do? Bisiknya. "Dal po-ya? Sapahnya.
Dal po menghentikan sepedanya dan melirik ke dalam sebuah rumah yang dia rasa jika ada seseorang dari dalam memanggilnya, Dal po berusaha mefokuskan pandangannya dan dia menemukan sosok yang dia kenal,"Min ri noona? Apa ini rumahmu? Tanyanya tanpa basa-basi.
Min ri bangkit dari duduknya dan melambaikan tangannya, agar Dal po masuk ke dalam pekarangannya,"Iya, ini rumahku. Buka saja gerbangnya.
Dal po membuka gerbang rumah Min ri, menutupnya kembali dan mendorong sepedanya sampai di depan Min ri dan memarkirnya. Dia lalu duduk di samping Min ri. "Apa yang kau lakukan di luar?
"Aku sendirian di rumah jadi aku memutuskan menunggu di luar, nanti jika lampu sudah kembali menyala saya akan kembali ke dalam jelasnya.
"Eoh, memangnya kemana orang tua sunbae? Tanyanya lagi.
"Mereka ke Busan, kakak saya akan menikah, itu sebabnya mereka pergi untuk membicarakan hari pernikahannya.
"Jadi sunbae sendiri?
"Tidak, kakakku ada, cuman dia keluar untuk bertemu dengan teman lamanya.
"Begitu, apa aku boleh bertanya?
"Tentu saja, memangnya kau ingin menanyakan apa?
"Apa kau dan Ban do hyung berkencan? Tanyanya ragu.
"Apa? Kata siapa, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kakakmu, aku dan dia hanya teman sekelas, benar cuman itu saja.
Dal po tersenyum, senyumnya semakin mengembang karena perkataan Min ri dan Min ri melihat jelas senyuman Dal po saat lampu menyala dan menyinari wajah Dal po, karena ketahuan tersenyum, Dal po bangkit dari duduknya, mengendarai sepedanya dan mengayuhnya sekuat mungkin,"Min ri noona aku pulang katanya dan menghilang di ujung jalan.
"Dasar bocah aneh kata Min ri. Dia lalu meniup lilinnya dan masuk ke dalam rumahnya.
Sementara di Busan, Ayah sangat marah dia mengangkat pot kesayangan Eun joo dan memecahkannya di hadapan Eun joo,"Kau sungguh keterlaluan Eun joo! Bentak Ayah. Apa yang kau katakan pada orang tua sun joo? Tanyanya lagi.
Eun joo gemetar ketakutan, dia mulai menangis dan berbicara dengan nada terbatah-batah,"A..aa..aku hanya menyuruh mereka menyerahkan emas itu saja katanya.
Ibu tidak bisa menahan amarahnya lagi, dia mendekati Eun joo,"Plak! Ibu menampar Eun joo, dan Eun joo merasa ada darah segar yang mengalir masuk ke tenggorokannya,"Dasar anak tidak tahu malu, kau pikir kau siapa? Hingga kau menghancurkan pernikahan kakakmu kata ibu penuh emosi.
"Kenapa kau berani sekali berbicara seperti itu Eun joo, kau bahkan meminta sesuatu dengan mengatas namakan aku dan Ibumu, apa kau tidak pernah di ajarkan berperilaku baik bentak ayah lagi.
Eun joo tidak menjawab lagi dia hanya menangis sejadi-jadinya.
Ibu dan Ayah segera membereskan barang mereka dan ingin segera kembali ke Andong, mereka takut jika terus berada di Busan, mereka takut mereka akan membunuh Eun joo.
Di dalam kereta, Ibu bersandar di kursi dan memijat keningnya yang mulai berdenyut,"Aku tidak habis pikir, kenapa Eun joo bisa memperlakukan kakaknya seperti itu, aku merasa jika aku sudah salah mendidiknya.
Ayah menarik ibu dan merangkulnya,"Sudahlah yeobo, mungkin Mari belum berjodoh dengan anak itu kata Ayah mencoba menenangkan Ibu.
Kenapa Eun joo seperti itu, apa aku pernah melakukan kesalahan di kehidupanku sebelumnya batin Ayah.
*****
Namun Min ri terkejut saat melihat sosok Ibunya yang sedang sibuk menyiapkan makanan sementara Ayah, dia duduk di sofa dan membaca Koran harian, Min ri tersenyum dan berlari merangkul Ayahnya dari belakang,"Ayah, Ibu kalian kapan datang? Jadi bagaimana pernikahan ka Mari tanyanya serius.
Ibu mendesah,"Itu tidak akan terjadi.
Min ri membulatkan matanya,"Kenapa?
Ayah melipat korannya dan membaringkannya di atas meja,"Kakakmu Eun joo merusak semuanya, dia berani mengatasnamakan dirinya sebagai ayah dan ibu dan meminta banyak hal pada calon mertua Mari, dan itu membuat mereka marah dan menolak pernikahan ini alasannya pihak wanita terlalu banyak menuntut kata Ayah sembari melepas kacamatanya dan mulai mengusap kedua matanya yang terpejam.
Min ri menjatuhkan badannya ke lantai dan mulai menangis,"Aku tahu semua ini Ayah, Ibu. Sebenarnya waktu itu Ka Eun joo sudah memberitahuku jika pernikahan ini batal dan menyuruhku mengatakannya pada Ibu dan Ayah, tapi aku tidak mau mengatakan itu, aku takut aku akan membuat kebahagiaan kalian hancur, ini semua salahku harusnya dari awal aku katakan saja pada Ayah dan Ibu yang sebenarnya terjadi.
Ayah mendekati Min ri dan mengusap rambutnya pelan,"Ini bukan salahmu sayang, Ibu dan Ayah tahu kau anak yang baik.
"Sudahlah Min ri, kau lebih baik bersiap ke sekolah kata Ibu menimpali.
Min ri kembali ke kamarnya, tetap saja Min ri merasa bersalah, karena dia berpikir jika dirinya ikut turut andil dalam hal ini, Min ri pergi ke sekolah tanpa sarapan dan pamit pada kedua orang tuanya, sepanjang jalan dia terus melamun, kenapa dia melakukan hal seperti itu.
Di dalam kelas, Ji soo memutar badannya di kursi menghadap Min ri, sementara Sung ri duduk di sisi kiri Min ri,"Ada apa denganmu? Kau terlihat ada masalah Tanya Ji soo.
Min ri menidurkan pipinya di atas meja sembari menatap ke arah Sung ri,"Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan pada ka Mari.
"Apa? Memangnya kau melakukan apa? Tanya Sung ri kemudian.
"Penikahan ka Mari batal.
"Apa? Memangnya ka Mari mau menikah? Tanya Ji soo panik.
Min ri bangkit dari tidurnya dan menggangguk lemah,"Hmm..dan aku ikut dalam hal membatalkan pernikahannya.
"Kau jahat sekali kata Sung ri.
"Memangnya apa yang kau lakukan pada ka Mari Tanya Ji soo tenang.
"Ka Eun joo menyuruhku mengatakan pada Ibu dan Ayah kalau pernikahan Mari eonni batal, tapi aku takut menghancurkan kebahagiaan mereka, lalu aku menolak memberitahukan itu pada mereka.
"Lalu di mana letak kesalahanmu Tanya Ji soo lagi.
Bel jam pelajaran berbunyi, guru matematika masuk dan memberi pelajaran kepada kami, beberapa jam kemudian bel pulang berbunyi, Min ri tidak berkata apapun, dia pulang begitu saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Min ri? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya kata Sung ri khawatir.
"Mungkin dia masih merasa bersalah terhadap ka Mari, padahal menurutku dia sama sekali tidak ada hubungannya kata Ji soo lagi.
*****
Malamnya, Min ri tak bisa tidur, dia terjaga sepanjang malam dalam tangisnya, dan hujan deras yang turun semakin membuatnya puas menangis dan bahkan teriak sekencang-kencangnya,"Maafkan aku Mari eonni, eomma, appa ini semua kesalahanku.
Min ri menyesali perbuatannya semalam, Ayah dan Ibu menegur Min ri saat dia akan bergegas ke sekolah,"Apa kau akan ke sekolah dengan berpenampilan seperti itu ucap Ibu sembari menunjuk wajah Min ri.
Min ri hanya mengangguk, dia lalu membungkuk dan hilang di balik pintu, Min ri tak bisa lagi menahan kelopak matanya tertutup, dia akhirnya berjalan sembari menutup matanya, pagar sekolah sudah terlihat, tapi Min ri harus melewati jalan turunan demi mencapai kelasnya yang berada di bawah jalan turunan itu, seorang lelaki berjalan di belakang Min ri, dia beberapa kali melihat Min ri tersandung, tapi Min ri tak memperdulikannya dan terus saja berjalan, hingga tasnya yang sedikit terbuka menjatuhkan sebuah benda, dan lelaki itu memunggutnya,"Jepit rambut? Katanya dan segera berlari menyusul gadis itu. Yoon jae kini menghalangi jalan Min ri,"Maaf, tapi bukankah ini milikmu? Tanyanya dan dia lalu menahan tawanya saat melihat wajah Min ri, Min ri membuka matanya sejenak dan mengatupnya kembali, lalu Yoon jae meninggalkan Min ri saat dia menyadari ada dua orang yang mendekatinya sembari memanggil gadis itu, Yoon jae mengepal jepitan rambut itu dan meninggalkan Min ri.
Sung ri dan Ji soo berusaha membangunkan Min ri,"Ya! Kenapa kau tidur di sini? Bentak Ji soo.
Min ri membuka matanya dan berkata,"Aku ingin tidur keluhnya dan jatuh beruntung Ji soo menahan tubuhnya.
Sung ri membulatkan matanya saat melihat wajah Min ri, matanya merah, rambutnya berantakan dan di bawah matanya menghitam, dia memukul belakang Min ri dan berkata,"Dasar gembel!