CHEOS NAMJA CHINGU/FIRST BOYFRIEND

CHEOS NAMJA CHINGU/FIRST BOYFRIEND
Episode 13 Salah Paham



          Yoon jae menurunkan tangan Min ri,"Aku akan membayar makanan yang sudah kau makan dan yang kau pegang saat ini, kau tidak keberatan bukan?


Min ri menyimpan kembali uangnya ke dalam dompet miliknya,"Terima kasih, tapi lain kali aku tidak akan membiarkan kau melakukan ini lagi, karena aku tidak ingin kau terlihat tidak keren di depan ahjumma. Min ri lalu menepuk pantat Yoon jae bentuk terima kasihnya pada lelaki ini,"Terima kasih untuk traktirannya, aku pergi.


Pipi Yoon jae memerah, dia spontan memegang bokongnya,"Apa-apaan dia, dia memperlakukanku seolah aku ini adalah anaknya. Dasar tidak sopan. Aku jadi terlihat seperti bocah baginya.


Senyum penuh kemenangan terlihat di raut wajah Min ri, membuat kedua sahabatnya merasa prihatin.


Ji soo menyenggol Min ri yang tak berhenti tersenyum,"Kau kenapa? Apa ada yang mengganggumu?


Min ri beberapa kali mengedipkan kedua kelopak matanya pada kedua sahabatnya,"Aku senang karena aku makan dengan gratis.


"Kenapa? Tanya Sung ri heboh.


"Tenang, dia hanyalah seorang anak anjing, jadi tidak ada yang spesial.


Keduanya berhenti berjalan lalu menatap intens pada Min ri,"Aish! Aku bilang dia bukan pria, dia hanya anak anjing yang lucu dan luguh, jadi menjauh dariku kata Min ri dan mendorong wajah keduanya menjauh darinya.


*****


"Hagsaeng dengar, hari ini kita akan berkemah musim panas tahun ini di sini. Kalian istirahat terlebih dahulu, jika sudah malam kita akan mendaki dan melihat matahari terbit di sana. Itu adalah ucapan Pak choi kepada kami, itu sangat mengusikku, aku jujur sangat membenci hal-hal yang menguras tenaga.


Min ri memilih tidur di sisi kiri sementara Ji soo di sisi kanan dan Sung ri di tengah keduanya, Min ri menarik selimut yang di bawahnya menutupi tubuh kecilnya,"Aku harap Pak choi lupa jika kita ikut perjalanan ini dan lupa membangunkan kita ucapnya pada kedua sahabatnya.


Sung ri membalikkan badannya menghadap Ji soo, seolah dia sedang bermusuhan karena tidak setuju dengan ungkapan Min ri,"Semoga kita adalah orang pertama yang di bangunkan Pak choi.


Ji soo menepuk bahu Sung ri,"Sudah, kau terus saja mencari masalah, sebaiknya kita tidur saja.


*****


"Hagsaeng, ayo bangun sudah waktunya kita akan melakukan pendakian malam. Cepat!! Cepat!!


Min ri menggeliat dan menendang-nendangkan kakinya di balik selimut, dingin yang sekali-kali mencoba menerobos ke dalam selimutnya terhalang oleh tangan Min ri, rasa hangat dari selimut membuatnya malas untuk bangkit atau sekedar membuka matanya.


Ji soo duduk dan membangunkan Sung ri,"Ya! Bangun, hal yang kau nanti-nantikan sudah tiba, malam pendakian faforitmu.


Sung ri sontak membuka matanya dan duduk dengan senyum lebarnya, lalu mereka melirik ke seseorang yang masih tidak bergeming dari tempatnya meski dia mendengar suara Pak choi.


Ji soo dan Sung ri kompak menepuk keras bokong Min ri, Min ri mengerang kesakitan, dia mengangkat sedikit kepalanya menjauh dari bantal, Min ri menatap kedua sahabatnya dengan sebelah matanya,"Aish! Aku lebih baik tidur daripada harus keluar dan melakukan pendakian. Apalagi di luar udaranya sangat dingin, bias-bisa aku mati kedinginan ucapnya dan kembali melanjutkan tidurnya.


Ji soo dan Sung ri saling menatap. Sung ri mengangkat sudut bibirnya ke atas. Mereka lalu menyerang Min ri.


Pada akhirnya Min ri berbaris di depan Pak choi, demi mendengar penjelasan dan mengetahui rute pendakian.


Min ri mengacak rambut depannya dengan kesal,"Aku sudah minta pada kalian untuk mengizinkanku pada Pak choi, tapi kenapa kalian malah menyeretku ke sini, menyebalkan.


Sung ri, Ji soo dan Min ri saling bergandengan tangan dan masing-masing memegang senter,"Ayo kita mendaki, mendaki itu sehat, jangan malas-malasan sorak Sung ri bersemangat.


Tapi Sung ri sama sekali tidak perduli dan terus saja bersorak gembira.


Harusnya aku tidak pernah datang ke tempat ini. Semua itu berawal dari Sung ri yang tiba-tiba ingin buang air kecil di tengah hutan saat kami melakukan perjalanan.


Sung ri menghentikan langkah kaki keduanya,"Kalian, sepertinya aku ingin buang air kecil ucapnya dengan ekspresi menyedihkan dan itu menyakinkan kami untuk bersimpati padanya.


Ji soo mengacak rambutnya kesal,"Aku sudah peringatkan padamu tadi, sebelum kita pergi, apa kau tidak ingin buang air kecil atau melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan di tengah hutan.


"Aku tidak tahu jika akan seperti ini, jadi tidak perlu menceramahiku, sekarang kau harus menemaniku ke semak-semak yang ada di sana ucapnya sembari memegang perutnya.


Min ri terpaksa mendorong keduanya pergi,"Pergilah temani dia, sepertinya Sung ri tidak bisa berkompromi lagi dengan kantung kemihnya kata Min ri dan memberi mereka botol minum miliknya.


Sung ri memeluk Min ri,"Terima kasih, kau memang selalu bisa di andalkan di saat genting seperti ini. Sung ri lalu menarik Ji soo pergi meninggalkan Min ri.


"Kalian jangan pergi terlalu jauh, kalian sudah tahu kalau aku tidak bisa melihat saat gelap dan aku sungguh benci kegelapan.


"Iya, kami hanya akan pergi sejauh tiga meter darimu.


"Mwo? Tiga meter? Ya! Itu terlalu jauh. Ji soo-ah? Sung ri-ah? Aish, kenapa mereka tidak menjawab? Apa sebaiknya aku menyusul mereka?


Min ri mengikuti jalan yang ada di depannya dan jalan itu jelas berlawanan arah dengan jalan yang di lewati Ji soo dan Sung ri. Beberapa kali pun Min ri memanggil mereka, dia tidak mendapat jawaban apapun. Dia hanya mendengar suara burung hantu berbunyi,"Me..me..mereka ke mana? Aku sudah jauh berjalan, tapi aku sama sekali tidak menemukan mereka.


Setelah suara burung hantu memenuhi telinga Min ri, kini suara lolongan anjing liar, Min ri ketakutan dan menarik ranting kayu sembari berjalan mundur, Min ri siap mempertahankan diri jika anjing itu menyerangnya.


Min ri berbalik dan mengarahkan ranting kayu itu pada sosok yang bertabrakan dengannya,"Pergi! Pergi kau. Jangan membunuhku ku mohon ucapnya sambil menutup matanya.


Min ri membuka kedua kelopak matanya karena merespon kayu yang di ayunkannya itu seperti tertahan sesuatu, Min ri membulatkan kedua bola matanya saat melihat sosok itu, sosok itu adalah Yoon jae,"Kau? Kata Min ri sembari menunjuk ke arah Yoon jae.


Yoon jae merebut ranting Min ri dan membuangnya jauh,"Apa kau sedang melatih beruang? Kau hampir saja membunuhku, Ahjumma.


Min ri berdesis,"Ahjumma? Kau ingin mati?


Yoon jae tersenyum dan hendak meninggalkan Min ri, tapi Min ri menarik ujung jaket Yoon jae,"Ka..ka..kau mau ke mana?


Yoon jae menoleh dan melepas tangan Min ri pada ujung jaketnya,"Tentu saja menyelesaikan pendakian. Kenapa? Kau mau tetap di sini atau ikut denganku tawarannya tanpa basa-basi.


Min ri menghela napas panjang dan berkata,"Aku akan ikut denganmu, tapi apa aku boleh tetap memegang ujung bajumu? Aku takut jika aku akan ketinggalan langkah kakimu, kau juga harus tahu satu hal, aku kurang bisa melihat saat dalam kegelapan, tidak sepertimu yang masih bisa melihat samar-samar meski dalam kegelapan sekalipun dan terlebih lagi kaki ini tergilir saat berjalan tadi ucap Min ri sembari melihat ke kaki kanannya.


Yoon jae memasukkan tangan kanannya ke dalam kantung celananya, sementara tangan kirinya menggaruk ujung alisnya, itu adalah ciri khas dari seorang Yoon jae,"Kenapa kau selalu merepotkanku?


Min ri berdecak,"Apa? Selalu? Kenapa aku merasa ada yang salah dengan kata selalu yang kau ucapkan.


Yoon jae sepertinya malas berdebat dengan Min ri, dengan rasa gugup dia memberanikan dirinya meraih tangan Min ri lalu mengandengnya,"Aku bukannya mengambil kesempatan atau suka, aku hanya terpaksa melakukan ini, lebih baik aku memegangmu dari pada harus merusak jaketku, jadi pastikan kau jangan sampai ketinggalan.


Min ri menatap Yoon jae yang kini mengandeng tangannya, dia merasa jika tangan Yoon jae besar dan menghangatkan. Aku suka, aku merasa ayah sedang menggandeng tanganku batinnya. Yoon jae juga menatap Min ri dan membuat keduanya merasa canggung.