
Min ri tidak mengatakan apapun, Yoon jae menatapnya dan mengajaknya bicara demi mencairkan suasana,"Kenapa kau terdiam? Harusnya kau mengoceh sesuka hatimu, karena itu adalah hobimu bukan?
Min ri mengedipkan kedua kelopak matanya berulang kali,"Tidak ada alasan apapun.
*****
Min ri menghentikan langkah kakinya dan menepuk-nepuk tangan Yoon jae,"Ya! Kau, aku sudah tidak bisa melanjutkannya lagi, aku sudah kehabisan tenaga, sebenarnya kau tahu jalan ini atau tidak? Atau mungkin kita tersesat?
Yoon jae menarik Min ri untuk tetap melanjutkan perjalanan,"Kau tidak perlu ragu, aku sudah menghapal rute pendakian kita, di depan nanti kita akan menemukan papan penunjuk jalan, jadi kita akan tahu sekarang kita ada di mana.
"Untuk apa kau menghapalkan rutenya?
"Tentu saja untuk datang lebih awal dan menang.
"Kau pikir kita sedang lomba mencari jejak? Sepertinya dia seorang maniak bisik Min ri pada dirinya.
"Tentu saja, bagiku ini adalah sebuah perlombaan. Yoon jae menghentikan langkah kakinya, dia membantu Min ri duduk di atas sebuah batu sementara dia mencari sesuatu.
Min ri memperhatikan Yoon jae berjalan ke sana ke mari dan membuatnya pusing,"Sebenarnya kau sedang mencari apa?
Yoon jae menunjuk ke arah pinggir tebing yang ada di depannya,"Di sini. Seharusnya papan penunjuk jalannya terpasang di sini, tapi kenapa papan itu menghilang?
Min ri tertawa dan menatap Yoon jae,"Apa kau salah mengingat rutenya Halabeoji? Kau sudah pikun karena sudah tua, jadi kau lupa rutenya, kurasa kita memang benar-benar tersesat.
"Kenapa kau malah tertawa dan mengataiku Halabeoji pikun. Tidak salah, aku yakin penunjuk jalannya itu ada di sini, tapi kenapa tiba-tiba menghilang? Tanyanya sembari terus mencari petunjuk.
Cahaya senter Min ri sepertinya menemukan sesuatu, Min ri memaksakan dirinya untuk melihat benda itu, dia menyeret kakinya dan berhasil mencapai tebing, lalu melihat papan penunjuk jalan berada di salah satu tangkai tanaman rambat yang lebat,"Oh bukannya ini papan yang kamu cari? Min ri membungkuk dan berusaha meraihnya.
Sementara Yoon jae yang melihat Min ri akan segera jatuh ke dalam tebing berlari mendekatinya dan berusaha menolongnya, tetapi Min ri sudah kehilangan keseimbangan tubuhnya karena hanya satu kakinya yang menumpuh berat badannya, pada akhirnya Min ri jatuh ke dalam tebing, tapi Yoon jae sempat meraihnya dan keduanya jatuh berguling-guling hingga ke dasar tebing.
Yoon jae bangkit dan mendekati Min ri yang berada tak jauh darinya,"Ya! Bangunlah. Sepertinya dia kehilangan kesadarannya, untung saja tebingnya tidak terlalu curam. Yoon jae melepas jaketnya dan menutupi tubuh Min ri.
Beberapa menit kemudian Min ri tersadar dari pingsannya, Yoon jae membantunya duduk. "Kau sudah bangun? Apa kau baik-baik saja?
"Apa yang terjadi?
"Kita terjatuh dari atas sana.
"Apa? Appo ucap Min ri saat mencoba menggerakkan pergelangan kakinya.
"Kenapa? Apa kau terluka?
Min ri menggeleng cepat,"Tidak, tapi kakiku terasa sangat sakit.
"Kakimu? Yoon jae membuka sepatu yang di gunakan Min ri dan memeriksa lukanya,"Ya ampun, kakimu membengkak, ini harus segera di kompres dengan es batu, agar memarnya berkurang.
"Benarkah? Kau tahu, sekarang kau terlihat seperti ibuku, dia pasti akan mengatakan hal yang sama jika melihatku terluka.
"Bagaimana kau bisa membandingkanku dengan seorang ibu, walau tidak ada yang bisa menandingi seorang ibu di dunia ini. Yoon jae terdiam dan menatap wajah Min ri, dia lalu memegang ujung bibir Min ri,"Bibirmu terluka, apa itu tidak sakit?
Min ri memegang bibirnya malu dan spontan menutup mulutnya yang berusaha untuk menguap, saat menguap rasa sakit di bibirnya terasa,"Ah!
"Kau menggantuk? Pasti rasanya sakit saat menguap.
Min ri menggelengkan kepalanya,"Tidak.
"Kau tidak perlu berbohong, Sembilan puluh persen orang yang menguap akan membuka lebar mulutnya, pasti rasanya sakit.
Yoon jae terkejut karena Min ri yang tiba-tiba memeluknya,"Ba..ba..baterainya sudah habis, itu sebabnya senternya mati, apa kau bisa melepasku sekarang?
"Maaf, tapi aku tidak suka kegelapan.
"Kau tidak perlu panik. Tenanglah, kau membuatnya jadi mencekam karena teriakanmu. Yoon jae merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya,"Aish! Baterai ponselku juga sudah habis, bagaimana denganmu? Apa kau tidak membawa ponselmu?
"Ponsel? Aku membawanya, ada di dalam tasku.
"Kau tidak perlu bergerak, aku akan membantumu mengambilnya dari tasmu.
Yoon jae membuka ponsel Min ri dan tersenyum melihat wallpaper ponselnya,"Apa kau menyukai Minho Shinee?
Min ri melepas pelukannya pada Yoon jae dan merebut ponselnya,"Kau jangan menghina suamiku.
"Menghina? Suamimu? Kapan aku menghinanya? Kau sama saja dengan fans girl di luar sana, kau jangan berhalusinasi, takutnya kau akan sakit hati nantinya. Dia kembali menarik ponsel Min ri dari tangannya dan menghidupkan senter ponsel Min ri.
*****
Yoon jae merasa jika sedari tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasinya, dia menoleh dan menangkap basah Min ri menatapnya,"Ke..ke..kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku? Katanya sambil memegang wajahnya.
Min ri menggeleng tapi masih tetap memperhatikan Yoon jae,"Kau membuatku terkesan, aku tidak menyangka jika kau bisa di andalkan di saat-saat seperti ini. Min ri mengeluarkan tangan kanannya dan menyentuh pipi Yoon jae,"Kau tidak dingin? Sayang sekali jika orang kaya sepertimu harus menderita kedinginan karena aku.
Pipi Yoon jae memanas dan memerah, dia lalu memegang tangan Min ri,"Apa yang sedang kau lakukan?
Min ri membulatkan kedua bola matanya, berusaha mencari alasan yang tepat. Min ri-ah apa kau bodoh? Apa yang sedang kau lakukan sekarang, aku harus menarik diri dari keadaan canggung ini batinnya. Min ri mencubit pipi Yoon jae dan melepasnnya.
"Aa..aa..aku melakukannya karena aku merasa bersalah padamu. Karenaku kau jadi ikut kesusahan, harusnya kau meninggallkanku saja.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, aku melakukannya karena aku mau, lagipula jika ada wanita yang mengalami hal sama denganmu, aku pasti akan menolongnya juga.
Min ri tersenyum hingga giginya terlihat dan menatap Yoon jae dengan menyipitkan matanya,"Astaga, ternyata selain kaya, rupanya kau adalah tuan muda penolong.
"Tunggu.
"Tunggu! Kenapa kau bisa tahu kalau aku anak orang kaya?
Min ri memalingkan pandagannya dan duduk tegak sembari memperbaiki jaket yang di berikan Yoon jae padanya,"Iii..ii..itu karena Soo rim mengatakan jika kau adalah tetangganya, dan seingatku Soo rim tinggal di kawasan elit, itu sebabnya aku menebak jika kau adalah anak orang kaya, pasti menyenangkan terlahir dari orang tua yang kaya, kau seperti gundukan emas di mataku.
Yoon jae mendorong pelan kening Min ri dengan jari telunjuknya,"Soo rim sunbae adalah senior kita, jadi kau tidak boleh menyebut namanya saja, jika ada yang mendengarmu mereka akan menganggapmu tidak sopan.
Min ri tersenyum kesal dan menatap tajam Yoon jae,"Kau masih berpikir jika kau dan aku seumuran?
"Tentu saja, memangnya kau lebih tua dariku?
Min ri mengigit bibir bawahnya,"Bisa saja.
Yoon jae tersenyum dan mendorong bahu Min ri pelan,"Ya! Di lihat dari postur tubuhmu saja, kau terlihat baru lulus dari sekolah dasar, apalagi wajahmu yang terlihat seperti bayi menegaskan betapa mudanya kau, jadi di mana letak tuanya? Sudahlah, jika kau berharap aku akan menghormatimu. Jangan terlalu bermimpi, tapi jika itu memang benar, aku akan mengendongmu dan membawamu mengelilingi sekolah.
"Ha! Kau memang pantas mendapatkannya, kau sendiri yang mengatakan akan mengendongku jika terbukti kalau aku adalah seniormu, jangan sampai kau menarik kata-katamu.
"Ya! Aku bukanlah lelaki yang suka mengingkari janjiku, aku akan menganggap ini sebagai sebuah tantangan.
*****
Sementara di tempat lain, semua siswa sudah kembali dari pendakian. Semua mengeluh lelah tapi mereka juga senang karena bisa menyatu dengan alam di malam hari. Pak choi mengabsen seluruh siswa. Lalu saat Ji soo, Sung ri, Kwon Min dan Kang haneul berdiri di depannya, dia spontan menunjuk kedua kelompok itu,"Sepertinya ada yang kurang dari kalian, di mana Min ri dan Yoon jae?