
Min ri terus menatap kedua insan yang menjadi pusat perhatian, Soo rim kembali berhenti mengerjakan tugasnya, dan berdiri tepat di belakang Min ri,"Apa yang kau lihat? Tanya Soo rim penasaran.
Min ri menoleh dan menarik Soo rim ke sampingnya dan jari telunjuk Min ri dijadikannya alat untuk menuntun Soo rim melihat In ha yang berjalan Membuntuti Yoon jae di sepanjang pinggir lapangan,"Kau lihat mereka, sepertinya lelaki itu akan menjadi sainganmu Soo rim ssi ungkap Min ri menggoda.
"Eoh? Bukankah dia itu Yoon jae? Kata Soo rim.
Min ri menatap Soo rim,"Kau mengenalnya? Tanyanya penasaran.
Soo rim mengangguk membenarkan,"Hmm..dia tetanggaku.
"Kau lihat dia, dia sepertinya akan mengalahkan ke populeran kamu, semua orang memandangnya, lalu apa yang akan kau lakukan dengan saiganmu itu ucap Min ri lagi.
"Aku tidak merasa harus bersaing dengannya, lagipula kami memiliki karisma tersendiri, jadi kurasa aku tidak akan kehilangan ke populeranku katanya mantap.
"Heol! Dasar narsis kata Min ri sembari memutar bola matanya malas.
*****
Min ri selesai mengerjakan hukumannya, karena lelah dia bersandar di belakang Sung ri, dan berusaha mengipas dirinya yang gerah dengan sebelah tangannya,"Ya! Sung ri, tolong kipas aku, aku sudah tidak sanggup lagi, kenapa toilet itu kotor sekali, aku tidak akan mencari masalah lagi katanya.
Sung ri membantu Min ri dengan mengipasnya menggunakan selembar daun yang jatuh di sampingnya dan kemudian menatap Ji soo,"Aku malu melihat tingkah laku In ha keluh Sung ri.
"Kau benar, sudah jelas dia di tolak oleh Yoon jae, tapi dia masih saja mengikutinya seperti anak dan induk ayam, dia seperti sudah kehilangan harga diri tambah Ji soo yang semakin membuat raut wajah Sung ri terlihat tak bersemangat.
Min ri memperbaiki posisi duduknya dan menatap kedua sahabatnya,"Apa yang kalian bicarakan? Tanyanya antusias.
Sung ri menghela napas berat,"Kau tahu sepupu aku In ha, dia mempermalukan dirinya dengan mengikuti Yoon jae ke kelasnya, bahkan ketika dia sudah menerima penolakannya, aku sungguh malu punya kerabat seperti dia ungkap Sung ri dan menundukkan kepalanya.
"Aku juga menyaksikannya, semua orang membicarakannya, dia bahkan punya sebutan baru, gadis tak tahu malu tambah Ji soo.
Min ri menarik napas dalam dan menepuk bahu Sung ri,"Ya! Itu bukan salahmu, aku tahu jika kau dan dia adalah kerabat, tapi kenapa kau harus merasa malu jika itu bukan kelakuanmu? Lagipula di sekolah masih banyak yang tidak tahu jika kau memiliki hubungan keluarga dengan In ha, jadi kau harus tetap semangat, eoh?
Sung ri seolah terobati dengan perkataan Min ri, dia mengangkat wajahnya dan tersenyum,"Kau benar, kenapa aku harus ambil pusing soal ini.
"Ini baru Sung ri kami kata Min ri dan semuanya tertawa gembira.
*****
Sepulang sekolah, Min ri tidak langsung mengganti seragamnya, dia hanya melempar tasnya di atas sofa, lalu duduk dan menyalakan tv dan menyetel program faforitnya. Dia lalu menarik toples berisi keripik dan memakannya, hingga remahannya bertebaran di lantai, Ibu menyaksikan kelakuan putrinya, dia mengambil remot dan mematikan tv,"Ah omma! rajuknya.
"Sekarang kau naik ke atas, ganti seragammu dan turunlah untuk makan kata Ibu tegas.
Min ri meletakkan toples itu, menyambar tasnya dan bangkit dari duduknya,"Baiklah ucapnya dan bersegera berjalan ke atas kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Min ri turun dan bergabung di meja makan bersama Ibu dan Ayahnya,"Min ri setelah makan kau harus mencuci piring kata Ibu dan masuk ke dalam kamarnya dan di susul oleh Ayah.
Min ri menatap pintu kamar orang tuanya,"Mereka sudah selesai makan? Aku kan benci makan sendiri keluhnya dan mengaduk-aduk makanannya.
Setelah selesai mencuci piring, Min ri menutup kamarnya dan berbaring di atas kasurnya, dia membaca sebuah buku dengan headset di telingannya, tak terasa jam dinding Min ri sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Min ri menutup bukunya, menyimpan headsetnya dan bersiap untuk tidur, dan saat dia menarik selimutnya, telpon rumah berdering keras,"Omma, appa ada telpon teriaknya. Tetapi karena tak ada jawaban Min ri mengambil bantal dan berteriak keras di atasnya,"Siapa yang menelpon di jam sekarang! Setelah puas berteriak dia turun dan mengangkat telpon yang masih saja berbunyi, Min ri menyambar gagang telpon dan mengangkatnya,"yomoseo?
Terdengar suara legah dari seberang sana,"Ah, Min ri kenapa kau lama sekali mengangkatnya.
"Eonni? Ada apa? Tanya Min ri.
"Apa ayah dan ibu sudah tidur?
Min ri menatap kamar kedua orang tuanya,"Lampu mereka sudah dimatikan, kemungkinan mereka sudah tidur.
"Benarkah, tapi apa kau mau membantuku? Tolong bangunkan mereka, aku ingin manyampaikan hal penting ucapnya dengan nada serius.
"Baiklah, kakak jangan menutup telponnya, aku akan memanggilkan Ayah maupun Ibu.
Min ri membaringkan gagang telpon di atas meja dan dia berlari kemudian mengetuk dan membuka gagang pintu kamar kedua orang tuanya,"Ayah, Ibu apa kalian sudah tidur? Tanyanya hati-hati.
Ayah menyalakan lampu di sisi kanannya,"Ada apa Min ri? Tanya Ayah.
Ibu juga bangun dan menggaruk kepalanya,"Apa yang kau inginkan di jam selarut ini tanya Ibu kesal.
Min ri memutar bola matanya malas,"Ka Mari menelpon, katanya ada hal penting yang dia ingin sampaikan, tapi jika Ibu terlalu lelah, aku akan mengatakan padanya jika Ayah dan Ibu sudah tertidur.
Mendengar itu keduanya kompak mengangkat kepalanya,"Mari menelpon?
Min ri mengangguk, Ayah dan Ibu segera bangkit dari tidurnya dan keluar sembari menabrak tubuh Min ri yang menghalangi jalan,"Ya! Eomma appa kata Min ri kesal.
Ayah dan Ibu mendengarkan Mari berbicara, tapi karena mereka sudah tua, mereka tidak terlalu mendengar suara Mari dan disitulah peran Min ri lagi, dia kemudian membuat telpon rumah dalam mode speaker, dan kini suara Mari terdengar lebih jelas.
Itulah kata terakhir Mari, Min ri menyaksikan raut wajah kedua orang tuanya, mereka sangat gembira, bahkan Ibu menangis haru, Min ri tidak berkata apapun hingga kedua orang tuanya hilang di balik pintu.
Min ri terduduk sendiri di ruang tengah,"Apa mereka sedang mengabaikanku? Katanya dan kembali ke kamarnya.
*****
Ke esokan paginya, Min ri terbangun karena suara gaduh yang berasal dari bawah, Min ri menjambak rambutnya kesal,"Apa lagi ini? Aku masih mengantuk katanya, dia merapikan tempat tidurnya, berjalan keluar menuju kamar mandi, menyikat gigi dan membasuh wajahnya, setelah itu dia turun dan melihat kedua orang tuanya yang sibuk menyiapkan barang mereka, Ibu yang menyadari kehadiran Min ri membuka suara,"Min ri? Kau sudah bangun rupanya, Ibu minta tolong gosokkan baju Ayah dan ibu dan masukkan ke dalam koper katanya.
Min ri berjalan malas ke depan tv, dia duduk dan mulai menggosok dan tak lupa menyalakan tv, saat di tengah-tengah asyiknya menggosok baju dan menonton acara faforitnya, tiba-tiba tv mengabur dan menghitam, kini hanya suara yang ada tapi gambar menghilang,"Aish! Appa, bagaimana ini? Tvnya rusak, jika Ayah dan Ibu pergi aku akan kesepian tanpa tv keluhnya.
Ayah mengambil napas pelan dan menghembuskannya,"Iya nanti ayah belikan yang baru, jika sudah kembali dari acara pernikahan Mari katanya.
Min ri tersenyum,"Ayah sudah janji katanya lagi.
Ibu memberi selembar baju lagi untuk Min ri,"Kau tidak akan sendiri, kakakmu akan datang untuk menemanimu selama Ayah dan Ibu di Seoul.
"Maksud Ibu, Nam joo oppa? Kata Min ri lalu menelan ludahnya keras.
"Iya nak.
Nam joo oppa yah, aku sudah beberapa tahun tidak bertemu kakak, apa aku dan dia bisa akur? Aku senang karena aku tidak akan sendiri, tapi aku sudah lama tidak bertemu dengan kakak. Suara telpon kembali berbunyi dan itu membuyarkan lamunan Min ri, Min ri meletakkan setrika di atas alas setrika dan berlari mengangkat telpon,"Halo?
Min ri mendengar suara cemas dari gagang telpon,"Min ri? Apa ayah dan ibu sudah berangkat ke Seoul?
"Eun joo Eonni? Belum, Ibu dan Ayah masih sibuk menyiapkan barang-barangnya, ada apa kak?
"Baguslah katanya legah. Kau jangan mengambil tiket ke Seoul, tapi ambil tiket ke Busan yang sudah ku pesan, mengerti?
"Tapi kenapa? Kak Mari menyuruhku mengambil tiket untuk ke Seoul kenapa kakak malah menyuruhku mengambil tiket ke Busan?
"Kau jangan banyak Tanya, pernikahan kak Mari gagal.
"Apa? Kata Min ri terkejut.
"Jadi kau katakan pada Ayah dan Ibu, jika Mari Eonni tidak jadi menikah.
Min ri menggelengkan kepalanya walaupun Eun joo tidak akan melihatnya,"Aku tidak bisa mengatakan itu pada Ayah dan Ibu, mereka sangat senang dengan kabar ini, bagaimana kejamnya aku jika kau menyuruhku mengatakan itu pada mereka.
"Kalau begitu suruh mereka ke Busan dan aku akan menjelaskannya pada mereka, kau mengerti katanya dan menutup telpon.
Ibu keluar dari kamar dan melihat Min ri baru saja menutup telpon,"Ada apa Min ri, apa Mari menelpon lagi?
"Ti..ti..tidak bu, tapi kak Eun joo menelpon menyuruh Ayah dan Ibu jangan ke Seoul tapi ke Busan.
"Apa maksudnya kata Ayah.
"Mungkin Mari yang menyuruh adiknya seperti itu, kalau begitu sekarang juga kita harus ke stasiun, takutnya kita ketinggalan kereta katanya, Ayah masuk ke kamar mandi milik mereka sementara Ibu mandi di kamar mandi samping kamar Min ri.
*****
Ayah dan Ibu sudah memegang tiket mereka, Min ri berdiri di samping Ayah menunggu kereta datang, dan tak lama kemudian kereta ke Busan datang, Ibu mengecup kening Min ri,"Kau jangan ke mana-mana, tetaplah di rumah pesannya dan masuk ke dalam kereta sementara Ayah dia memberi beberapa lembar uang,"Ini uang saku untukmu, belilah makanan yang enak dan tunggu kakakmu hari ini dia juga akan datang kata ayah dan naik ke atas kereta, Min ri melambaikan tangannya hingga kereta menghilang dari pandangannya, Min ri menunduk dan duduk di kursi stasiun,"Ayah dan Ibu baru saja pergi, tapi aku merasa mereka sudah pergi terlalu lama. Min ri bangkit dari duduknya saat matanya melihat tteobokki kesukaannya. Dia kembali di kursi stasiun dan menikmati kue beras miliknya,"Amasta ungkapnya.
Seorang lelaki berjalan mendekat ke tempat Min ri, dia lalu menepuk bahu Min ri pelan, Min ri terkejut, dia bangkit dari duduknya dan memeluk lelaki itu,"Oppa.
"Apa ibu membuatnya untukmu katanya dan melirik tteobokki bekas milik Min ri yang di letakannya di ujung kursi stasiun.
Min ri tersenyum dan berkata,"Salgeyo.
"Eoh, jadi kau membelinya, baiklah ayo kita pulang. Nam joo merangkul adiknya sepanjang jalan begitupun Min ri, jika ada yang tidak mengenal mereka, mereka akan mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih.
"Oppa? Panggilnya.
"Wae?
"Apa saja yang kakak lakukan selama ini? Tanya Min ri penasaran.
"Oppa bekerja di gangnam style.
"Astaga, apa oppa suka menguntit para idol tanyanya menggoda.
Nam joo tersenyum dan mengacak rambut Min ri,"Kakak tidak mungkin melakukan itu katanya lagi.
"Ah oppa ucap Min ri kesal. Min ri sangat tidak suka jika rambutnya di kacaukan, dan Nam joo tahu soal itu, itu sebabnya dia menggoda adiknya.