Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 9. Membuka Restoran



Walaupun banyak media yang ingin meliput, dia selalu menghindar.dan banyak pemilik hotel dan restoran yang ingin mengontrak dia, tetapi dia tidak tertarik. Dia tidak ingin meraih harapannya karena mereka. Dia masih ingin tetap menjadi Selfy yang dahulu membantu orang orang punya hajat dengan dana sedikit tetapi dapat menyajikan masakan kelas atas dan enak.


Selfy dan Mamak serta para karyawan sedang membersihkan bekas bengkel mobil yang lumayan luas yang disewa. Selfy mampu menyewa tempat itu, dari tabungan dan hadiah sebagai pemenang yaitu, sejumlah uang dan seperangkat alat masak.


Dia merancang sendiri tempat itu menjadi restoran yang tampil mewah dan menyediakan menu kelas bawah sampai kelas atas, masakan lokal dan dunia.


"Ada yang dapat saya bantu, Tuan?" Tanya salah satu karyawan kepada dua pemuda yang datang ke restoran.


"Pemilik restoran ini mana?"


"Ada tuan. Ya. Sebentar."


Selfy melihat mereka dan dia tahu yang datang preman.


"Anda pemilik restoran ini?"


"Benar. Ada apa?"


"Di sini daerah operasi kami, maka anda wajib membayar pajak."


"Apakah anda dari dinas pajak?"


"Tidak maksud kami, uang keamanan"


"Maaf sejak kecil saya tinggal di sini dan aman aman saja."


"Ya. Kalau anda tidak membayar kami, jangan salahkan terjadi apa apa dengan restoran ini."


"Bukan begitu, maksud saya,..." Belum selesai dia bicara ada pemuda di seberang jalan berhenti dia masih di atas motor membunyikan bel dan memanggil mereka dengan anggukan. Kemudian mereka pergi tanpa permisi.


Selfy melihat pengendara motor itu. Walaupun wajahnya tertutup helm tetapi dia mengenal dia dari bentuk tubuhnya bahwa dia pencopet yang pernah dia hajar.


Di seberang jalan.


"Jangan ganggu dan jaga restoran itu tetapi jangan sekali kali minta uang makan kepada dia"


"Mengapa Bos?"


"Dia temanku."


"Baik. Maaf Bos."


Kemudian mereka berdua pergi, tinggal bos yang masih duduk di atas motornya dan memperhatikan Selfy yang masih berdiri di depan pintu. Tiba tiba  ada mobil berhenti menghalangi pandangannya.


Yang mereka panggil bos, adalah Deo nama panjangnya Theodeo Suryawan, saudara kembarnya Theo yang memiliki nama panjang sama. Dia ketua preman yang disegani.


Di depan restoran, Theo keluar dari mobil.


"Silakan, duduk."


"Seperti terjadi sesuatu?"


"Tidak. Minum Apa?"


"Terserah."


Selfy membuat minuman Citron Presse, sesuai dengan namanya minuman ini menggunakan bahan baku buah lemon,  terdiri ari campuran perasan lemon, air dingin, dan gula, sajian jus klasik khas Prancis.


"Terima kasih."


"Papa akan membukakan aku Hotel dan Restoran di kota ini, maksud aku, ingin mengajak kamu mengelola. Mau tidak?"


"Maaf, Aku belum siap melangkah terlalu jauh."


"Kalau tidak mulai dari sekarang, kamu akan kehilangan kesempatan."


"Walaupun ada kesempatan tetapi tanpa persiapan nanti hasilnya tidak seperti yang kita harapkan."


"Aku akan persiapkan semuanya."


"Persiapan materi aku percaya, tetapi persiapan mental itu tidak kalah penting."


Theo diam sambil menganggukkan kepala.


"Aku ingin membantu mengembangkan restoran ini."


"Tidak usah repot. Doakan saja aku bisa berkembang."


"Katanya mencari saudara kembar kamu, bagaimana?"


"Nah, aku menunggu informasi dari kamu."


"Belum ada kesempatan untuk itu." Dia ingin menyampaikan peristiwa yang telah dialami terkait dengan pria misterius itu, tetapi dia tidak berani karena dia belum yakin.


"Seandainya bertemu dengan dia aku juga memikirkan bagaimana mengatakannya dan meyakinkan dia. Karena tidak ada bukti nyata."


"Ya.Jangan cemas. Pasti nanti ada jalan."


"Baik. Terima kasih ku tunggu kabar dari kamu."


"Ya."