Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 17. Senjata makan tuan.



Malam menjelang acara pembukaan restoran di hotel Wijaya, panitia telah siapkan segalanya.


Malam itu Anggy menutup hotelnya dan mengalihkan tamu dia untuk pindah ke hotel Wijaya. Selfy mengucapkan terima kasih kepada Anggy atas partisipasi dia.


Selfy sekilas melihat Deva di remang remang lampu serambi hotel. Dia bertanya dalam hati, " Ada apa dia datang malam begini dengan pakaian tertutup." Selfy akan mengikuti arah bayangan tetapi kehilangan arah. Tiba tiba lampu kamar hotel dari basement sampai lantai atas menyala terang. Kemudian Selfy lari ke ruang pusat pemantau cctv tetapi dia hanya bisa melihat bagian luar kamar banyak orang mondar mandir dan naik turun lift. Dia melihat cctv di kantor keamanan, beberapa satpam berdiri dengan sikap siaga. dipencet mikropon ," Hey...ada apa ini? Mengapa kalian tidak segera bertindak? Alarm mati?! Dari arah belakang Selfy berdiri, Deva datang akan menenangkan Selfy, memeluk dia tetapi segera Selfy memalingkan badan dan "Plak, Plak." hampir saja dua tinju kena wajah dan dada seandainya Deva tidak menangkis dengan cepat. Selfy siap dengan kaki kuda kuda dan akan menendang, " Hentikan Sel." Selfy mengenal suara itu dan berhenti.


"Tenang, semuanya baik baik saja. Maaf kami telah menganggu ketenangan hotel kamu. istirahatlah. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai polisi. Terima kasih. Selebihnya kita bicarakan besuk."


Selfy tidak ada kesempatan untuk berbicara dan Deva pergi dengan cepat.


Rencana Anggy telah dipatahkan oleh Ajun Kepala Polisi Deva. Dia diamankan di penjara kantor polisi. Karena Dia bertiga tersangka bandar narkoba sedangkan tamu tamu dia yang dipindah ke hotel wijaya para pengedar dan pemakai dan polisi telah mengumpulkan barang bukti.


Senjata makan tuan. Tujuan Anggy mengkacaukan acara Selfy agar tempat kejadian peristiwa di hotel Wijaya sehingga polisi menutup hotel dan acara grand opening gagal. Tetapi malah sebaliknya hotel dia yang dilarang operasional dan mereka bertiga harus berurusan dengan polisi.


Pagi itu Deo datang ke kantor polisi berkunjung di penjara Anggy.


"Aku sudah mengingatkan dan ketika kamu minta bantuan aku menolak, tetapi kamu selalu melakukan hal yang bodoh." Kata Deo.


"Ya. Aku tahu. Sekarang apa yang harus aku lalukan?" Anggy geser duduknya dekat di samping Deo dan dilihat oleh orang orang yang ada di dalam terali besi.


"Kamu harus menjalani hukuman ini."


"Ha,.. Aku takut." Anggy memeluk lengan Deo dan bersandar di bahu dia.


"Tenang saja, mereka tidak akan berani mengganggu kamu."


"Mengapa?"


"Karena mereka tahu kamu teman aku."


Mereka yang ada di dalam penjara mengenal Deo, karena dia pernah dipenjara ketika menjadi kurir Anggy dan dia sangat disegani.


"Kamu di sini temani aku." Anggy berkata manja.


Orang tua Anggy datang mereka sangat terpukul mendengar berita itu karena tidak mengira anak kesayangan mereka melakukan semua itu. Tetapi mereka tidak bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan. Akhirnya. mereka menyerah pada hukum yang berlaku.


Grand opening telah berlangsung dengan lancar aman dan meriah. Selfy memperkenalkan kepada seluruh tamu bahwa masakan yang telah dihidangkan adalah karya chef Puwaningtyas Wijaya, pemilik hotel dan restoran Wijaya.


Banyak tamu yang memuji rasa masakan restoran dan kenyamanan hotel, walaupun masih ada yang perlu disempurnakan. Maka Selfy butuh investor untuk mengganti fasilitas hotel yang rusak dan ketinggalan zaman. Banyak investor yang menawarkan kerjasama dengan dia.


Theo sudah nersfa di Jakarta. Dia chat Selfy lewat wa.


"Mengapa kamu tidak meminta suntikan dana dari aku."


"Ya, kalau nanti sudah lunas utangku"


"Aku masih ada dana. Tenang saja."


"Terima kasih."


Selfy tidak ingin dibantu Theo lagi. dia berusaha sendiri dengan investor lain yang tidak membebani secara moral. Karena ada seuatu yang ingin dia ketahui terkait dengan kematian ayahnya. Tetapi belum saatnya dia melakukan itu. Dia fokus pada hotel dan


restoran wijaya.


Bergulirnya waktu bersama dengan media sosial sangat berpengaruh terhadap kemajuan hotel dan restoran Wijaya. Selain tawaran investor, pesanan kamar dan makanan harus antre paling tidak 1 bulan. Hal ini terjadi setelah Selfy mengadakan pencerahan kepada manajer Public Relation dan logistik yang berhubungan dengan publikasi dan pemenuhan layanan fasilitas yang memadai.


"Nona, saya amati kerja anda sehebat mendiang Tuan Wijaya." Kata general manager dia ketika selfy sedang duduk santai di ruangan dia.


"Benarkah itu? Sejauh mana bapak tahu tentang Papa saya?"


"Saya bekerja dengan papa anda sejak hotel ini di tinggal Tuan Achille yang memiliki separuh saham sampai menjadi milik Papa Nona hingga meninggal."


"Siapa Achille itu Pak?"


"Dia orang Prancis rekan bisnis papa Nona. Dia ahli manajemen hotel dan Tuan Wijaya ahli memasak. Mereka bergabung mendirikan hotel ini. Setelah dia punya modal hasil dari keuntungan usaha ini, dia meminta separuh saham, pulang ke Perancis bersama mantan suami dari istri papa Nona. Apakah Nyonya tidak pernah cerita?"


"Tidak Pak. Mamak telah mengubur pengalaman itu. Mamak juga tidak tahu kalau hotel ini milik Papa."


Percakapan mereka terputus karena Deva datang untuk bertemu dengan Selfy menginformasikan kronologis peristiwa lusa.