
Hotel dan restoran wijaya menghiasi berbagai iklan di media sosial sehingga menjadi besar dan terkenal.
Hotel dan restoran Wijaya kelas atas di gedung bertingkat tinggi yang indah mimpel dilengkapi dengan Wi-Fi, TV layar datar, kulkas mini, ketel, serta jendela setinggi langit-langit dengan pemandangan kota. Kamar di kelas yang lebih tinggi dilengkapi dengan ruang duduk, sementara suite menyediakan ruang keluarga terpisah dan mesin Nespresso. Room service tersedia 24/7.
Fasilitas terdiri dari 2 kolam renang outdoor (1 untuk anak-anak), spa, dan gym, serta restoran internasional mewah dan bar di lobi. Terdapat juga ruang acara, termasuk 8 ruang pertemuan dan aula. Tersedia sarapan prasmanan.
Selain 8 ruang pertemuan dan aula, Restoran tidak juga pernah sepi juru masak seorang chef berbakat. Bila pelanggan akan menggunakan ruang pertemuan dan aula mereka pesan 1. sampai 2 bulan sebelumnya.
Di belakang Purwaningtyas Wijaya, pemilik hotel dan restoran ada Selfy, asisten pribadi, seorang chef berbakat dan putri satu satunya yang cantik, cerdas, dan mandiri dan telah mengubah warung kecil menjadi restoran besar, melarat menjadi konglomerat muda.
"Mak, sekarang kita sudah berhasil mewujudkan cita cita papa karena doa Mamak dan berkat Tuhan yang luar biasa."
"Kerja keras kamu juga."
"Maka sekarang Mamak sudah tua, nikmati keberhasilan ini, Mamak tidak usah membantu memasak, saatnya aku harus membuka diri, telah tiba waktunya mereka mengenal diriku yang sesungguhnya."
"Terus aku kerja apa?"
"Mamak sudah kerja keras sebagai single parent setelah papa meninggal pada saat aku aku masih kecil, sekarang biar aset Mamak yang bekerja keras bersama aku dan Mamak menikmati hasilnya. Silakan mau keliling dunia?"
Mamak hanya tersenyum.
Theo dan Deo membersihkan teras rumah kontrakan, menata alat alat masak dan MMT. Theo melihat kertas majalah bekas, pembungkus salah satu alat dapur, terdapat gambar hotel dan restoran wijaya. Dia membaca dan berkata dalam hati ,"Luar biasa. Selamat dan Sukses Selfy."
"Apa The?"
"Hotel dan restoran Wijaya."
"O,.. Aku tadi tahu mobil Selfy parkir di depan toko alat dapur."
"Kau bertemu dia?"
"Aku sengaja menghindar. Malu bertemu dia."
Pembeli datang dan pergi satu per satu. Kebanyakan yang mampir gadis, tante dan ibu ibu. Karena Theo tampan, kulitnya bersih, dan ramah. Cewek cewek yang datang mengajak foto bersama, mereka mendekat Theo yang sedang masak, ada yang selfy ada yang meminta orang lain mengambil gambar.
"Ganteng, Dua jadikan satu ya."
"Apa Nya?"
"Hati kita."
Yang mendengar tertawa dan Theo tersenyum.
"Maksudnya mi goreng dua porsi jadi satu. "
"Maka gendut, makan dia banyak." Theo berkata dalam hati.
"Tampan, makan disini serasa di restoran Wijaya." Seorang tante memuji setelah makan.
"Terima kasih Tante."
"Melamar kerja di sana saja, aku yakin pasti di terima, atau saya antar ke sana karena aku kenal dengan Mamak Purwaningtyas pemilik Hotel dan restoran itu. Sungguh aroma dan rasanya sama.
"Ya. Tante saya akan mencoba." Basa basi Theo. "Nama Mamak yang melejit dan mengapa nama Selfy tidak pernah disebut?" Theo heran.
Baru saja buka, dagangan habis karena persediaan sedikit. saat Theo sedang membersihkan alat dapur dan tempat jualan tiba tiba Papa dia jatuh dari kursi dan tidak sadar. Theo bingung tidak ada kendaraan, lalu dia berdiri di pinggir jalan menunggu mobil lewat.
"Theo, sedang apa kamu di sini?"
"Deva, tolong papa aku pingsan"
Kebetulan Deva dengan kekasihnya lewat. kemudian membawa Suryawan ke rumah sakit. Sambil mengemudi dia memencet nomor telepon Selfy tapi di tolak.