
Mereka berdua duduk di sudut ruang lobby hotel.
Deva menceritakan tentang petistiwa itu awal hingga akhir Selfy hanya diam dan kadang menganggukan kepala tetapi pikiran dia melayang jauh dia membayangkan bersadar di dada Deva dan dipeluk sambil bercerita banyak hal.
"Non,.." Deva menepuk tangan Selfy. Selfy sadar dari lamunan.
"Ha... " Dia terkejut. "Deva, saya itu heran sama kamu." Selfy tidak sadar memanggil nama dan sebutan kamu
"Mengapa?"
"Datang pertama sebagai arsitek. Tiba tiba jadi polisi. Besuk datang lagi jadi apa?"
"Jadi pengantin laki laki. Maaf canda Non."
"Tidak apa apa aku suka. Panggil saja nama aku. Sejak kapan kamu jadi polisi?"
"Empat ahun yang lalu setelah lulus dari arsitek.
Selfy gagal fokus pada cerita Deva. Dia melihat Deva memakai deker pada pergelangan tangan.
Tangan dia keseleo akibat menangkis tinju Selfy lusa.
"Tanganmu kenapa? Coba lihat."
Tanpa basa basi Selfy mendekat, memegang tangan Deva, membuka deker lalu memijit.
"Aduh,.. " Deva mengeluh dan meletakkan tangan lain ke bahu Selfy. Karena tangan Selfy kecil sehingga dia harus mengeluarkan tenaga sehingga wajahnya berkeringat dan Deva mengambil tisu kemudian mengusap. Pijitan dan elusan mereka mengalirkan aliran postif dan negatif ketika aliran itu bertemu Selfy berhenti memijit menatap mata Deva lalu memejamkan mata dan Deva akan menempelkan hidungnya ke pipi Selfy, tiba tiba
"Permisi. Maaf saya menggangu."
"Theo." Deva mengangkat wajahnya danTheo menjawab dengan tersenyum.
"Kapan datang?" Selfy menggeser duduknya di samping Deva yang sedang mengenakan deker kembali. Theo masih berdiri. Lalu Selfy mempersilakan dia duduk.
Banyak orang mengatakan bahwa cinta datang dari pandangan pertama dan ada juga terjadi karena kebiasaan. Deva melalui jalur pandangan pertama sedangkan Theo melalui kebiasaan untuk sampai pada pintu hati Selfy dan Deva yang sampai duluan kemudian membuka pintu hati Selfy untuk cinta.
Theo merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa melepas semua yang dipakai. Dia sangat kecewa, sakit hatinya melihat adegan tadi. Dia hanya bisa menghela napas dan menghembus dengan keras melepas kekesalan.
Setelah dia bertemu dengan Ayah Deva, General manager dia.
"Sampai di mana tadi ceritamya Pak?"
"Satu tahun kemudian, Suryawan datang ke hotel ini, katanya disuruh Tuan Achille minta salah satu resep masakan. Sebelum dia kembali dia memperkenalkan resep masakan kepada Tuan Wijaya, kemudian mereka berdua makan bersama.
"Mengapa berhenti? lanjut."
"Dua hari setelah Suryawan kembali ke Perancis, Tuan Wijaya berangsur angsur sakit.
Saya yang menghantar setiap periksa ke dokter."
"Keluhan Papa apa?"
"Sakit di bagian perut yang katanya sakit sekali melilit, lalu rawat inap di rumah sakit dan ditangani oleh dokter ahli penyakit dalam." Dia diam memandang ke atas dan matanya berkaca kaca. Selfy tidak berani bertanya.
"Tuan Wijaya berkata kepada aku menjelang wafatnya,
Pak. Sakit aku ini tidak seberapa dibanding sakit yang dirasakan oleh Suryawan, anak dan istriku. Impas aku dengan dia. tetapi dosa dengan anak dan istriku tak bisa ku tebus walaupun aku harus mati. Tolong urus hotel ini sampai suatu saat nanti ada yang ber hak mengambilnya."
Perasaan Selfy terbawa oleh cerita itu, dia meneteskan air mata. Antara sayang, benci dan rindu kepada mendiang Papa begulat dalam benak nya.
"Sekarang saya bekerja di sini semangat lagi Non. Lega hati saya setelah keberadaan hotel ini jelas dan Nona layak menjadi penerus Tuan Wijaya. Karena hanya hitungan bulan setahun belum genap Nona telah berbuat banyak kepada hotel dan restoran ini sendiri dan mandiri dengan kemajuan yang luar biasa."
"Ah... Bapak jangan terlalu memuji. Tanpa kerjasama seluruh karyawan saya tidak bisa berbuat apa apa. Oleh karena itu, mari pak kita wujudkan cita cita Papa agar dia tidak merasa berdosa dan bahagia di sana."
Pikiran Selfy memikirkan mistery dibalik kematian papa dia. Tetapi di pelupuk matanya masih lekat wajah Deva, Deva yang tampan, Deva yang lembut dan tentram dirasakan ketika dia bersamanya. Selfy telah jatuh cinta.