
Mereka bertiga terkejut melihat Deo, biasanya dia tidak pernah lepas helm sekarang terbuka . Mereka kira Theo. perbedaannya Deo rambutnya panjang dan acak acakan, sorot matanya tajam dan cara bicaranya kasar.
"Aku cuma mau bilang pada kalian. Jangan ganggu hotel Wijaya. Terima kasih." Dia berdiri akan pergi. Tetapi Anggy mencegahnya.
"Tinggal sebentar. Aku tidak mengganggu? Aku datang ke sana ingin ikut merayakan grand opening restoran di Hotel Wijaya dan aku ingin bantuan kamu mengamankan."
"Kapan?"
"Kita tunggu undangan."
"Ya." Deo memakai helm kemudian pergi tanpa menunggu Anggy yang masih ingin bicara.
Setelah Deo pergi, Mereka bertiga membicarakan kemiripan dia dengan Theo dan merencanakan niat jahat mereka ingin menghancurkan Hotel Wijaya.
*****
Restoran di hotel Wijaya sudah siap digunakan. Sedangkan ruang lobby, ruang pertemuan dipindah di lantai atas.
Grand opening akan dilaksakan dua hari lagi. Theo sudah datang dan tinggal di VVIP hotel itu. Ketika dia akan menuju ke kolam renang, Dia melihat Selfy dan Deva sedang duduk berdua di sudut ruang cafetaria yang terletak satu lokasi dengan kolam renang. Dia akan mengurungkan niat renang tetapi kepalang tanggung. Karena Selfy melihat dia.
"Selamat Pagi. Theo. Mari bergabung dengan kami." Dia berkata setengah berteriak karena jarak agak jauh. Lalu Theo mendekati mereka berjabat tangan dan izin renang.
Theo badannya terasa dingin terendam air kolam, tetapi hatinya panas dan pikiran dia menguap, melihat mereka berdua.
"Tolong tunjukkan laporan dan berapa nominal yang harus aku bayar."
"Loh, sudah aku kirim lewat email, Bukan?"
"Maaf Aku belum sempat buka."
Kemudian Selfy membuka ponselnya.
"Baik. Aku transfer sekarang, ya?"
"Jangan. Kamu cukup bayar material dan beaya tukang saja yang lain tidak usah."
Deva menurut saja.
"Theo beruntung punya calon istri seperti kamu. Cantik, cerdas dan mandiri."
"Calon Istri? Dari mana kamu tahu?"
"Ayah."
"Perlu kamu tahu ya. Aku dan dia sebatas teman sejak sma dan sekarang dia investor aku." Deva menganguk anggukkan kepalanya pertanda mengerti tetapi hatinya berbunga bunga sebab masih punya peluang untuk mencuri hatinya. Tinggal keberanian untuk mengungkapkan yang belum ada, karena Selfy terlalu sempurna baginya.
"Bagaimana? Sudah selesai?" kata Theo setelah bergabung dengan mereka.
"Sebentar, aku kirim ke email kamu."
"Aku percaya kerja kamu bagus."
"Maaf. Aku ada urusan. Pergi dahulu ya?"
Deva pergi karena kalau dia bergabung dengan mereka terlalu lama, perasaan dia semakin tersiksa.
Selfy dan Theo membicarakan acara pembukaaan restoran dan membuat draft acara. Theo ahlinya dalam pengadaan event dia pengalaman sejak sma dan Selfy menyusun menu makanan. Mereka berdua kompak.
Draft acara diserah kepada event organizer hotel untuk memoles dan mengemas sebaik mungkin. Dekorasi dan riasan serta hiburan ditangani karyawan hotel.
Selfy mengadakan pertemuan dengan seluruh manajer dan mamak memberikan pengarahan terkait dengan pembukaan restoran "Kita harus menampilkan yang terbaik dalam segala hal. karena penampilan pertama akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kelak."
Di sisi lain niat jahat Anggy untuk membuat onar pada acara nanti telah tercium oleh polisi karena perbuatan yang mereka rencanakan sangat berbahaya dan mereka telah menjadi target opersional polisi.
"Siapkan semuanya dengan baik dan jangan gegabah serta teledor dalam bertindak." Kata AKP Deva
"Siap. laksanakan. Tunggu perintah, Ndan."
Deva lulus sarjana teknik arsitek, kemudian ikut seleksi secapa (seleksi calon perwira) dan sekarang dia menjadi polisi selama empat tahun, menjabat sebagai Kanit Narkoba.