Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 20. Pertemuan yang menyedihkan.



"Aku tidak mengizinkan kamu."


"Loh, kenapa Mak?"


"Kamu menuruti emosi cinta dan berlari dari masalah mencari masalah baru. Pelarian yang kurang bijak menurutku. Bukan berarti aku melarang kamu untuk bercinta, tetapi jangan dikuasai oleh cinta dan diperbudak oleh cinta."


Selfy sadar baru pertama kali dia merasakan perasaan ini. Di setiap dia membuka mata hanya Deva yang ada dalam pikiran. Elusan tangan Deva yang dia rasakan penuh kasih telah membius.


Nasihat Mamak menyadarkan dia karena dia sangat mencintai Mamak melebihi dari segalanya. Demi harkat dan martabat Mamak Dia rela dihina dan direndahkan serta menyembunyikan bakat memasak hanya untuk sebuah nama Mamak. Dia tidak ingin mengecewakan Mamak yang dia berjuang selama ini.


"Mak,.. Trima kasih." Dia memeluk Mamak dengan air mata mengalir di pipi.


"Kamu gigih dan tegar serta mandiri dalam menghadapi permasalahan hidup tapi sebenarnya perasaanmu peka terhadap penderitaan orang lain. Kamu haus akan belaian kasih seorang papa, sehingga pada masa pertumbuhan kamu saat ini, kamu mudah ditaklukkan oleh sentuhan mesra dari seorang pria. Hati hati."


Berbicara tentang papa dia ingat bahwa kemarin dia batal berziarah ke makam Papa.


"Mak, Ayo kita ke makam Papa?"


"Sendiri saja. Aku belum siap."


Selfy berangkat sendiri ke makam Papa di perbatasan kota lain. Mamak tidak ikut karena dia masih takut luka lama kambuh kembali.


Setelah dia sampai di makam. dia berhenti melihat ada dua pemuda duduk di samping sebuah makam dan seorang laki laki tua duduk dan menangis di makam Papa dia. demikian juga dua pemuda itu kelihatan sangat sedih. Tiba tiba laki laki tua itu menjerit histeris terdengar menggema. Selfy terkejut dan berlari mendekati mereka. Laki laki tua itu sujud di makam papa Selfy dan kepalanya dibenturkan di atas lantai berulang kali hingga berdarah.


"Aku berdosa. Bunuh saja aku." Hanya dua kalimat itu yang diucapkan berulang ulang.


"Papa..papa kenapa?" Dua pemuda itu berdiri dan memeluk laki laki tua itu yang terkulai lemas matanya sayu pandangannya kosong dan darah mengalir dari pelipis nya.


"Cepat angkat ke mobil."


"Selfy?"


"Sudah. Ayo cepat."


Laki laki tua itu Suryawan dan pemuda itu kedua anak kembarnya, Theo dan Deo. Setelah semuanya ditangani suster dan dokter, Selfy pergi. Dia tidak ingin terlalu lama di sana karena dia tidak ingin melibatkan diri dalam masalah mereka. Dia tidak ingin tahu lebih dari sesuatu yang sudah dia ketahui kalau akhirnya menyakitkan. dia gagal lagi menjenguk makam Papa nya.


******


Pertemuan Theo dengan saudara kembarnya, Deo, di makam Mamanya, ketika dia bersama Suryawan sedang berziarah. Deo berada di sana lebih dahulu.


"Deo,..." Sapa Suryawan


"Siapa Kalian?


"Ini Papa kita." Jawab Theo.


"Loh kamu teman Selfy, bukan? Kamu salah orang. Papa saya sudah meninggal itu makam dia." Deo menunjuk makam di samping makam mama mereka yaitu makam Danang Wijaya. Suryawan berjalan menuju ke makam yang ditunjuk Deo lalu duduk bersila.


Theo menceritakan dari cerita papa mereka kisah Papa, Mama dan Danang Wijaya kepada Deo.


"Ah.. kalau dia belum mati aku yang akan bunuh lelaki perebut bini orang."


"Tenang dulu."


"Kamu bisa tenang karena kamu tidak merasakan penderitaan aku dan Mama. Anak keturunan dia akan aku habisi."


"Dia papa teman baikku."


"Selfy?"


"Ya."


"Apa?!" Kepalan tinju dia pukul ke pohon di dekatnya untuk melampiaskan emosi nya. "Ach... kenapa harus dia?!" Dia memukul lagi pohon itu bertubi tubi hingga mengelupas kulitnya.


"Kamu kenal dia?"


"Ya. Mamak yang memberi makan aku dan mama setiap hari, membiayai pengobatan dan pemakaman Mama."


Mereka berdua diam. Api amarah Deo turun seketika. Tiba tiba Papa berdiri dan berteriak "Aku berdosa, bunuh saja aku."


Flash back off


Bersambung.