
Di sebuah kampus Akademi Perhotelan banyak orang keluar masuk melihat pengumuman lomba memasak. Walaupun telah di share di berbagai media sosial, mereka ingin melihat tempat dan teknik lomba, serta persiapan panitia.
Anggy salah satu mahasiswa di akademi tersebut jurusan Tata Boga juga ikut lomba. Dia berkumpul dengan teman teman satu kampus beda jurusan antara lain Prita dan Eva teman pada waktu sma.
"Theodeo Suryawan ini apa anak IPS1 ketua OSIS itu?". Kata Prita sambil membaca brosur lomba.
"Ya. Dia menjadi bintang tamu dari Le Cordon Bleau, Perancis, tapi lembaga di Jakarta."
"Kamu naksir dia, kan? Si gendut menyela.
"Benar, tapi dia perhatian ke warung berjalan."
"Lihat itu dia?"
Selfy datang
"Ada apa kamu ke sini?" Tanya Anggy.
"Mendaftar dan melihat tempat kontes."
"Mendaftarkan Mamak kamu?"
"Saya"
"Eh,..enggak salah dengar aku? Kontes ini bukan main main. Ini kontes besar, peserta chef semua."
"Kamu itu cocok ikut lomba tingkat kampung bukan di sini."
"Ya, coba coba"
"Masakan yang di adu bukan masakan kampung, seperti masakan mamak kamu."
Mereka tertawa bersama sama.
"Permisi."
Selfy berlalu tanpa peduli omongan mereka.
"Lihat itu siapa yang datang?"
"Tambah tampan dia."
Lalu, Anggy membenahi pakaian, dandanan dan rambutnya.
"Apa kabar." Dia bersalaman kemudian cium pipi kanan pipi kiri.
"Baik, kalian kuliah di sini?"
"Ya. kabarnya kamu dapat bea siswa belajar di Perancis?"
"Betul. Tapi bea siswa itu hanya untuk biaya kuliah saja dan berlaku hanya 1 tahun."
"Ya, tidak apa apa. Penting pengalaman dan tidak semua orang dapat kesempatan itu'" Eva menyela.
"Saya kira bea siswa itu gratis dari apartemen sampai biaya hidup." Prita ikut berbicara.
"Maaf, saya permisi akan mengikuti technical meeting."
Theo meninggalkan mereka menuju ke ruang rapat.
"Selfy, kamu kuliah di sini?"
"Ha, tidak," dia gugup karena Theo memanggil dari arah belakang dan memegang pundaknya.
"Saya tadi ke rumahmu, Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
"Apa itu?"
"Panjang ceritanya. Ayo kita ke kafetaria bercakap cakap di sana."
Mereka berdua sampai di kafe sementara Anggy dan kawan sudah ada di sana. Theo cuek lalu, mengambil tempat duduk di sudut ruang.
"Aku sementara tinggal di Prancis. Kebetulan papaku juga bekerja di sana, di sebuah hotel berbintang"
"Dalam rangka apa kamu kembali?"
"Ada tugas dari kampus, yang paling penting aku mengemban tugas dari ayah untuk mencari saudara kembar aku"
...Flash back on...
Suryawan dan istrinya serta dua anak kembarnya yang baru berumur 1 tahun sedang di ruang tamu. Keduanya bernama sama Theodeo Suryawan yang membedakan nama panggilan yang pertama, Theo dan yang ke dua Deo.
Istrinya duduk tampak tidak tenang dan Surya memandang kedua anaknya dengan sedih.
Tiba tiba telepon genggam istrinya berdering.
"Mengapa tidak kamu angkat?"
"Salah sambung"
"Tidak ada yang salah"
"Bicara apa kamu?"
"Aku tahu semua yang kamu lakukan di belakangku selama ini"
"Ya. Syukur kalau begitu. Aku pernah bilang, kalau kamu tidak bekerja, jangan salahkan aku selingkuh."
"Aku telah berusaha mencari pekerjaan, sabar."
"Kamu bisa sabar tapi aku anak anakmu makan apa?! Istrinya bicara keras sekali hingga kedua anaknya menangis.
Suara bel mobil di depan rumah terdengar keras sekali.
"Sekarang aku akan pergi. Urus Theo dan Deo aku bawa."
Surya tidak menjawab sepatah kata pun. Dia menggendong Theo dan menyaksikan kepergian istrinya bersama pria lain. Pria itu adalah seorang chef di sebuah hotel berbintang dan dia sudah beranak satu perempuan berumur sebaya dengan Theo dan Deo.
flash back off
Ilustrasi Theo dan Deo