Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 15. Pandangan Pertama.



Anggy masih kompak dengan teman lama Prita dan Eva. Mereka mencari informasi tentang keberadaan restoran Selfy di hotel Wijaya. Ketika sampai di hotel mereka ingin bertemu dengan pemilik hotel. Tetapi bagian resepsionis mengatakan bahwa tidak sembarang orang dapat bertemu dengan pemilik hotel tanpa seizin dia.


"Maaf Non, Nama anda tidak ada dalam agenda Nyonya Wijaya, maka tidak bisa bertemu dengan anda."


"Kamu belum tahu Nona ini? Dia adalah pemilik hotel "Larasati." Prita menyela pembicaraan Anggy dengan Karyawan hotel.


Hotel "Larasati" adalah hotel bintang lima, milik Orang tua Anggy berasal dari warisan turun temurun. Tetapi hotel itu menjadi target operasional polisi yang telah mendapat informasi dari laporan masyarakat bahwa di hotel itu tempat transaksi dan pengedar serta pemakaian narkoba.


Anggy dan kawan melihat Theo sedang duduk dengan santai di ruang lobby hotel sambil menatap layar monitor pada hand phone.


"Theo, mengapa kamu di sini?" Anggy menyapa.


"Ha,.. sedang apa kalian di sini juga?" Theo pura pura terkejut, sebenarnya dia ada ditempat itu sejak mereka datang sehingga dia telah mendengar percakapan mereka dengan karyawan hotel.


"Aku mau bertemu dengan pemilik hotel ini, susah sekali."


"Mau apa?"


"Minta informasi tentang keberadaan restoran Selfy di sini."


"Maksudnya?"


"Aku mau ngajak Mamak kerja sama. Kita berteman dengan Selfy sejak sma, bukan? Kalau Mamak mau, dia chef di hotel aku."


Theo diam. Dia tahu bagaimana sikap dan perlakuan Anggy kepada Selfy.


"Loh,... kapan kamu datang? Katanya kamu di Prancis?" Kata Eva menghidupkan komunikasi mereka."


"Aku tinggal menyelesaikan skripsi dan penelitianku di sini. Bagaimana dengan kalian?"


"Kami bertiga sudah selesai, dan bekerja di hotel Anggy."


Sementara mereka asyik bercakap cakap, Selfy datang dengan Mamak masuk lewat pintu pribadi dan dia memberi isyarat bahwa dia tidak ingin bertemu mereka, kepada Theo yang kebetulan melihat.


Setelah mereka pergi Selfy dan Mamak bertemu Theo dan pengacara pribadi Mamak.


"Ha,.. mengapa kamu memandang mamak seperti itu?" Selfy menepuk pundak Theo.


"Mamak semakin cantik." Dia menjawab terbata bata karena terkejut.


Setelah pengacara membacakan berkas perjajian Theodeo Suryawan dengan Purwaningtyas Wijaya, mereka berdua menanda tangani, Lalu Theo metransfer biaya dan sejumlah uang investasi melalui internet banking.


tut


tut


Notifikasi pada handphone Selfy berbunyi tanda transfer sudah masuk. Mereka saling berjabat tangan. Theo masuk ke kamar. Mamak menuju ke ruang pribadi dan Selfy ke ruang General manager. Selfy akan masuk tetapi ada seorang pemuda yang sedang berbicara dengan GM, langkahnya dilambatkan dan ketika GM melihat dia. GM tergopoh gopoh mempersilakan Sefy duduk.


Ketika sampai di depan pintu Selfy beradu pandang dengan pemuda itu, mereka berdua saling terpukau sejenak. Mereka berdua belum pernah saling bertemu.


"Mari Nona, kenalkan ini Deva anak saya yang akan saya tawarkan untuk membangun restoran di sini."


"Baik, Pak. Sudah membawa Proposal?"


"Nanti Nona. Saya akan cek lokasi dahulu."


"Ya. Silakan. Saya tunggu."


Kemudian Selfy pergi. Baru kali ini dia bingung menghadapi pria. Ketampanan pria itu masih melekat di pelupuk mata, tatapan matanya telah mendebarkan jantung. Senyumnya menyumbat jalan pikiran. Dia duduk di ruang Mamak menenangkan hatinya.


Deva belum pindah dari tempat duduknya. Dia diam mengagumi kecantikan Selfy.


"Silakan lihat lokasi" Kata ayah membangunkan dia dari lamunan.


Di saat yang sama, Theo mandi sambil bernyanyi seolah olah lampu hijau telah menyala dia siap berjalan di atas jalan cinta bersama Selfy.


Di saat yang sama pula, Anggy setelah sampai di hotel Larasati, Deo sudah menunggu di sana bercakap cakap dengan security