
Selfy keluar dari bengkel motor, tiba tiba seorang pejalan kaki memotong jalan, hampir saja dia menabrak.
"Maaf, " Orang itu melirik dia, memalingkan wajah, lalu lari. Karena dia mengenal Selfy.
Orang itu adalah pria yang pernah mencuri camilan di warung dan pencopet yang pernah dia hajar. Pria itu duduk di sebuah taman merenungkan perbuatannya. Dia telah kehilangan ibu yang telah diperjuangkan sampai dia melakukan semua tapi sia sia.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Kata Selfy yang telah duduk di samping dia beberapa saat. Tanpa dia ketahui.
"Perjalanan hidup." Pria itu menutup wajah dengan menurunkan kap topi yamg dia pakai.
"Agar perjalanan hidupmu sampai ke tujuan, ubah dirimu."
"Maksudnya?"
"Arus air kecil itu tidak akan sampai ke laut kalau tidak berubah menjadi awan." Dia semakin tidak mengerti.
"Walaupun dia telah lewat hutan dengan banyak rintangan tetapi akan hilang ditelan tanah tandus dan kering. Kalau dia berani berubah menjadi awan, dia akan terbang menjadi hujan dan sampai ke laut. Nah, Sekarang arus air itu telah menjadi awan dan akan turun hujan, maka Aku pulang dahulu ya."
"Ya. Terima kasih,"
Dia masih tinggal dan merenungkan perumpamaan Sefy. Pria itu kagum akan cara hidupnya. "Gadis itu luar biasa. Dia bersekolah sambil jualan, membantu ibunya dan masih punya waktu untuk ikut kegiatan ekstra sekolah serta kegiatan sosial yang lain. Aku pasti bisa mandiri seperti dia kalau aku mengubah pola pikir dan cara pandangku terhadap hidup ini."
Selama becakap cakap dengan pemuda itu, Selfy sengaja tidak membicarakan peristiwa perkelahian degan dirinya, karena dia takut menyinggung perasaan. Selfy melihat postur tubuh dan warna suaranya tidak asing lagi bagi dia. Pria itu mirip Theo. Tetapi menurut dia hanya kebetulan saja mirip. Dia menyayangkan tidak bisa melihat wajahnya karena sengaja dia menutup wajahnya dengan topi dan menundukkan kepalanya.
Selanjutnya, Selfy belanja bahan makanan yang sudah menjadi kebiasaannya dan dia menjadi pelanggan pedagang di pasar sore kota itu.
"Potong sisa uang kemarin, Neng."
"Tidak usah, kemarin sudah berlalu. Aku sudah lupa itu. Belanjaan sekarang saja."
"Lo, kemarin katanya untuk besuk."
"Benar Bi, itu untuk besuk, besuk, ya besuknya lagi. sudahlah Bi, untuk Bibi saja."
"Sama sama, tidak seberapa saja kok"
Dia suka belanja ke pedagang yang sepi pembeli dan uang pengembalian yang tidak seberapa dia biasanya tidak meminta kembali.
Bukan berarti dia sok kaya, tetapi dia juga pedagang jadi dia tahu persis apa yang mereka rasakan.
Setelah sampai di rumah, dia bertemu dengan Nyonya pemilik toko swalayan, tempat dia berjualan, sedang bercakap cakap dengan Mamak.
"Ada yang dapat saya bantu, Nyonya?".
"Saya akan meresmikan toko baru di pinggir kota dan akan mengundang kira kira 500 orang. Saya pesan 1 paket makanan dan minuman, kamu bisa tidak?"
"Maksudnya?"
"Minuman, snack dan makan, menunya seperti pada waktu ulang tahun anak saya kemarin, ala Jawa, tapi nanti disajikan secara prasmanan.
"Bisa Nyonya. Kapan?"
"Bulan depan, nanti 1 minggu sebelumnya saya kabari hari dan tanggalnya."
"Baik, Nyonya."
"Nih, uang muka, mungkin bisa untuk persiapan."
"Terima kasih atas kepercayaan Nyonya."
Setelah Nyonya pulang, Dia dan Mamak diam saling memandang satu sama lain dan mereka berbicara degan pikiran masing masing.
"Tenang, Mak. Serahkan padaku semua akan beres. Kita tidak sendiri, ada Tuhan yang menyertai."
"Amin."