Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 4. Seperti Jarum Jam



Di pusat pertokoan kota itu sangat ramai semua orang sibuk dengan pekerjaan masing masing. Mereka mengkais rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan cara mereka. Ketika Selfy sedang keluar dari kantor bank, dia berpapasan dengan Anggy dan kawan kawan di pintu masuk.


"Hai, kawan, " di antara mereka tidak ada yang menjawab sapaan dia.


Anggy berkata dengan yang lain, "Sebel aku bertemu dia. Pembawa sial."


"Paling juga hutang di bank," sahut Prita


Kebetulan Theo juga masuk lewat pintu itu dan berjalan paling belakang berhenti dan menghampiri dia.


"Hai, menabung atau menarik tabungan?"


"Menarik tabungan, kamu?"


"Ambil uang saku kiriman dari orang tua, biasa anak kos."


"Silakan. Nanti ditinggal mereka lo."


"Mereka siapa? Aku berangkat sendiri."


"Saya kira bersama mereka."


Ketika mereka sedang bercakap cakap. mereka mendengar ada orang berteriak minta tolong ada copet. Selfy melihat ada orang berlari dan berhenti sembunyi di antara deret mobil parkir. Dia menuju ke orang itu.


"Lepaskan tas itu!" Ketika orang itu akan berlari, dia maju dan menendang tepat di dada, dia jatuh, bangun dan berusaha melawan, tetapi tendangan telah mendarat di tangan, tas terpental jatuh tepat di depan Anggy, pemilik tas itu. Dia memutar badan dengan tendangan kena wajah, orang itu pergi lari sambil menutup wajah.


Anggy dan kawan mendekati Selfy.


"He, sengaja kamu bersekongkol dengan orang itu, kan?"


"Sok jago, " kata Prita. Dia masih ngos ngosan, tidak peduli mereka, mengelus kaki yang masih sakit dan minum air putih. Lalu mereka pergi dengan begitu saja.


Dia meninggalkan tempat itu dan pergi ke bengkel mengambil motor butut yang rusak kemarin dan mengganti dengan yang baru dari hasil tabungan.


"lo benar kan. motor baru hasil mencuri." Dia mengeluarkan wajah dari jendela mobil. Tetapi Selfy tidak mendengar dengan jelas karena suara kendaraan bising. Dia hanya menganggukan kepala dan tersenyum.


Selfy sering berbuat baik kepada orang lain dan tidak peduli orang itu terima atau tidak. Seperti jarum jam yang terus berputar, berbuat baik, menunjuk waktu tanpa peduli orang melihat atau tidak.


Ketika dia sampai di dekat tempat berjualan, melihat galian selokan dan pekerja sedamg memperbaiki tempat mereka berjualan.


Kemudian dia pulang. Mamak tengok motor baru lewat jendela dapur sambil masak.


"Motor siapa?"


"Memang pernah lihat aku pinjam motor orang?."


"Kirain motor kamu masih di bengkel."


"Ada camilan yang sudah masak? Selfy membuka tempat camilan.


"Ada, baru sedikit, " dia masukkan camilan itu ke dalam tas plastik dan membuat satu porong minuman. Dia berikan kepada pekerja yang sedang memperbaiki selokan di depan warung.


Setelah dia kembali.


"Motor itu kamu kredit atau bayar tunai, " tanya Mamak.


"Kredit sebagian, mengapa?"


"Apakah uang kamu tidak cukup bayar tunai?"


"Cukup dan masih sisa. Tetapi kalau tunai, kasihan tukang kredit, nanti tidak punya kerjaan?" Mamak tersenyum.


Selfy memasak bahan belanjaan dia pagi tadi. dan Mamak mengemas masakan yang masak, menata dan menyiapkan peralatan yang diperlukan. Mamak sibuk di dapur. memasak resep masakan selfy, sedangkan dia menggosok kaki dengan minyak penghangat dan mengenakan deker kaki biar tidak sampai salah urat atau keseleo, karena kaki terasa nyeri. Dia berkata dalam hati, "Mengapa dia tidak melawan? Padahal badannya besar. Maka Anggy menuduh aku bersekongkol. Tuduhan itu masuk akal juga. Tetapi kasihan dia. Mengapa dia sangat membenciku. tidak tahukah dia, semakin dia membenci aku semakin hidupnya tidak tenang.