
Suryawan mengalami depresi berat, suasana hati atau mood telah terganggu sehingga cara berpikir dan perilaku dia berubah menjadi lebih murung, tidak semangat menjalani hidup, bahkan muncul ide atau percobaan untuk mengakhiri hidup. Dia mengalami masalah kejiwaan serius fungsi otak terganggu dan jaringan otak rusak.
Theo dan Deo harus menanggung beban hidup yang berat akibat perbuatan orang tua mereka.
Mereka bertiga tinggal di rumah kontrakan Deo di perbatasan kota. Harta mereka telah habis tidak tersisa.
"Seperti mimpi, baru kemarin aku memiliki uang miliyaran rupiah. Sekarang tidak punya. Semua terjadi sangat cepat. Aku harus segera menentukan langkah, tetapi apa yang harus saya lakukan kalau semua butuh dana." kata Theo sambil menghempaskan naas kekuatiran. .
"Sudahlah. Selama masih ada hari ada rezeki. Aku tidak pernah kuatir karena setiap hari aku selalu dihadapkan kenyataan seperti ini selama bertahun tahun, nyatanya aku bisa hidup." Deo menguatkan saudara kembarnya,. "Kalau terlalu banyak berpikir tanpa tindakan, kau akan ikut gila nanti."
"Tolong ide kamu apa?"
"Jual Nasi goreng, mi rebus dan goreng, kamu malu enggak? Katanya kamu sekolah tinggi jurusan memasak?"
"Ya tidak apa apa."
"Kalau begitu aku belikan alat masak tapi yang murah loh. Nanti kau belanja bahan bahannya."
"Ya."
Deo berangkat membeli alat masak, meninggalkan Theo dengan papa mereka. Theo tidak tahu beban pikiran yang ditopang oleh papa dia.
"Selfy mungkin tahu penyebab sakit papa, tapi aku tak sanggup bertemu dia. Aku tidak pantas berteman lagi dengan dia apalagi mendapatkan cintanya. Harapan ku telah musnah." Dia bicara sendiri.
Suryawan duduk di atas kursi roda, tidak bisa melakukan apa apa dan raut wajah dia menunjukkan penyesalan yang dalam.
***
Selfy membuka daftar pesanan lalu dia membuat resep masakan dan diserahkan kepada mamak kemudian mamak memasak dengan juru masak yang lain tetapi dia hanya mengarahkan saja. Setelah selesai Selfy dan mamak istirahat di kamar pribadi. Sedangkan manajemen hotel, dikelola oleh General Manager dan manager yang lain.
"Benar kata mamak dia akhirnya menuai hasil perbuatannya sendiri."
"Tapi, kasihan anak anak yang tidak berdosa harus ikut menanggung akibat dari perbuatan mereka."
"Mak, aku tidak tahu kejahatan mereka, aku hanya mendengar dari cerita saja. Tapi yang kulihat sekarang Theo dan Deo menderita. Sedangkan kita berkelimpahan. Maka kita harus melakukan sesuatu untuk meringankan beban hidup mereka. Bagaimana pun juga Papa ikut andil menyengsarakan mereka."
"Kau cerdas anakku, lakukan saja."
"Baik Mak."
Selfy akan pergi ke rumah Theo di perbatasan kota, dalam perjalanan dia melihat Deo masuk ke sebuah toko alat masak, dia sering membeli di situ dahulu. Dia membelokkan mobil nya ke tepi jalan pada saat mundur menabrak mobil di belakangnya, lalu dia turun dan mengamati mobil itu, "Aku tidak asing dengan mobil ini, coba aku tengok mungkin dia ada dalam toko."
Deva ada dalam toko itu juga. Dia bersama dengan teman kerjanya yang telah menjadi kekasihnya. Deva melihat Selfy kemudian dia izin kekasihnya ke toilet.
Selfy akan meninggalkan tempat itu tetapi dia mampir dahulu ke toilet. Pada saat dia masuk toilet Deva keluar dari toilet dan kekasihnya sudah menunggu. Mereka berdua pergi.
Selfy keluar saat mobil di belakang akan pergi dia melihat sekilas penumpang di dalam. Lalu, Dia menelepon Deva tetapi tidak aktif, "Sialan dengan siapa dia." Kata Selfy berbicara sendiri.
Akhirnya, Selfy kembali menuju ke hotel dan bertemu dengan General Manager, ayah Deva ketika akan menuju ke ruang masing.masing.
"Pak, Kapan Deva pulang?"
"Kemarin sore, Non."
"Jangan lupa undang saya ke pernikahan dia."
"Loh, Kok tahu Nona?"
"Saya bertemu dia tadi pagi." Dia berbohong.
"Ketika dia di Bali bertemu dengan mantan pacar SMA. Ya mungkin karena beberapa bulan bekerja bersama di sana sehingga cinta lama bersemi kembali." Tanpa Selfy bertanya, GM bercerita tentang hubungan Deva dengan kekasihnya.
"Dia juga polisi?"
"Ya, Non."
"Ya. Bagus itu satu profesi." Tanpa permisi Selfy masuk ke ruangnya.
Selfy melempar tas ke atas meja sambil berjalan, lalu duduk dan berkata sendiri,"Gila,...semuanya berubah dengan cepat."
"Ada apa?"
"Deva mau nikah Mak. Untung Mamak mengingatkan aku kemarin."
Lalu Selfy cerita tentang peristiwa yang dialami.
"Kamu seharusnya senang, belum jauh melangkah. Seandainya kamu sudah terlanjur jatuh cinta lalu peristiwa ini terjadi, bayangkan betapa sakitnya."
"Enggak mau. Ku mau membayangkan yang indah." Berkata dengan manja sambil memeluk lengan mamak dan bersandar di bahumya.
bersambung