
Sehari setelah Theo dan temannya mengadakan pertemuan di restoran Selfy. Dia datang lagi minta bantuan Selfy menemani dia mencari makam mama. Kebetulan Mamak juga baru saja mengajak Selfy mencari makam Papanya yang berada di kota lain tetapi rencana mereka minggu depan. Berhubung terlanjur mereka buka restoran, maka mamak mengizinkan Selfy pergi bersama Theo.
"Bagaimana tanggapan mereka terhadap masakan aku?" Sefly membuka pembicaraan selama perjalanan ke makan.
"Katanya mereka seperti makan di rumah. menu kamu cocok dengan selera mereka dan meminta untuk me-recriut kamu menjadi chef di hotel ku nanti."
"Benarkah itu? Suka aku mendengar."
"Aku tidak setuju."
"Mengapa?"
"Karena lebih dari itu, aku ingin kamu jadi owner -nya."
"Hem... "
"Bagaimana?"
"Awas!" Ada orang memotong jalan mendadak.
"Ha... "
"Fokus setir dahulu. Jalan lagi ramai."
Theo membaca papan nama makam, lalu dia mengikuti tanda panah ke kiri menuju arah makam.
Theo dan Selfy sedang berkeliling di tempat pemakaman mencari makam Papa nya. Dari jauh selfy melihat pemuda sedang jongkok di sebuah makan yang masih berupa gelombang tanah. Selfy tidak mudah melupakan sesuatu yang pernah dia lihat sehingga sekilas dia melihat pemuda itu dia mengenal bahwa pemuda itu misterius. Dia yang pernah mencopet, pernah ditolong dan setiap bertemu selalu menghindar. Selfy ingin mendekati dia maka berjalan agak tergesa gesa.
"Sel, tunggu." pada saat dia berpaling ke arah panggilan itu, kakinya terantuk batu dan jatuh. pemuda juga mendengar dan melihat, kemudian dia lari menyelinap di balik pohon setelah dia melihat semua aman dia pergi dengan cepat.
"Kamu mencari siapa?"
"Kamu lihat tidak pemuda yang sedang jongkok di makam depan sana?"
"Tidak. Penampakan kali?" Theo bercanda.
"Serius."
"Ada apa dengan dia?"
"Pemuda itu aneh. Setiap bertemu pasti menghindar." Kemudian Selfy menceritakan peristiwa yang pernah dialami dengan pemuda itu. Lalu Selfy menuju ke makan di mana pemuda itu berziarah. Setelah dia sampai di sana matanya tertuju pada sebuah makan yang paling bagus diantara yang lain, makam itu dikelilingi oleh batu marmer dan batu nisan terbuat dari batu alam. Terkejut setelah membaca papan nama bertuliskan "*Danang*Wijaya" makam papa yang dia cari. Dia tidak segera berdoa dan tabur bunga, tetapi membaca tulisan pada kayu nisan makam yang masih berupa gelombang tanah.
"Theo, coba kamu bertanya papa kamu siapa nama mama?"
"Ya." Theo menelepon Papa dia.
"Sudah?, baca tulisan nisan pada nisan kayu itu.
"Ha,...Mama? Benar ini makam Mama?" Theo bersujud di makam itu dan menangis. lain dengan yang dipikirkan dan dirasakan oleh Selfy. Dia membatalkan niatnya untuk mencurahkan kerinduan dia pada papa nya walaupun hanya dengan batu nisan yang tertinggal. Dia telah menduga sebelumnya bahwa Mama nya Theo telah merebutĀ papa dari mama nya, telah merusak hati mama nya dan menyengsarakan hidupnya. Ternyata benar. Kerinduan dia kepada papa nya berubah menjadi benci.
"Sudah? Mari pulang."
"Mengapa tidak melanjutkan mencari makam papa kamu?"
"Lain kali saja. Kasihan Mamak di restoran sendiri."
Dalam perjalanan pulang mereka berdua diam. Theo memikirkan tentang mama dia, Selfy juga tentang papa. Beda mereka Theo senang bisa bertemu makam Mama dia, sedangkan Selfy memendam rasa benci setelah menemukan makam papanya.