Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 12. Membalas dengan kebaikan



Selfy sampai di restoran pintu sudah ditutup sebagian.


"Loh, mengapa tutup Mak?"


"Sudah habis."


Selfy melihat salah satu karyawan masih di depan komputer mendata pesanan yang masuk.


"Jangan ditutup dahulu, tampilkan data pemesanan. sekalian aku mau pesan bahan bahan."


"Baik, Non."


"Permisi." Dua orang dari pemerintah datang.


"Mari, Pak. silakan duduk."


"Kami dari Dinas Pariwisata akan periksa Surat ijin restoran anda"


"Baik, Pak. Tunggu sebentar"


selfy masuk, lalu keluar membawa Surat surat.


"Ini, Sertifikat Usaha Pariwisata, sejak TDUP diterbitkan melalui OSS. (Usaha Besar), Sertifikat Usaha Pariwisata sejak TDUP diterbitkan melalui OSS. (Usaha Menengah)


Sertifikat Usaha Pariwisata sejak TDUP diterbitkan melalui OSS. (Usaha Kecil dan Mikro)."


"Terima kasih, Non."


"Loh, Bapak yang memberikan semua surat ini kemarin, Bukan?"


Pria yang datang bersama petugas itu gagap menjawab.


"Maaf Non, jujur kami mendapat laporan dari restoran sebelah yang belum lengkap perizinan, dia mengadu katanya di sini juga belum ada ijin. Padahal bapak ini sudah menjelaskan, tetapi dia tidak percaya."


"Ya. Non, kami meyakinkan dia"


Di saat yang sama, Deo datang ke restoran Anggy.


"Baru dua hari yang lalu anak buahmu ke sini. Mengapa kamu datang lagi."


"Aku datang tidak meminta uang. Tetapi Aku minta kamu jangan ganggu Usaha Restoran Selfy nanti urusannya dengan aku. Saingan boleh tetapi secara sehat." Tanpa menunggu kata kata Anggy, Deo memakai helm nya kembali dan pergi dengan motor.


Anggy buka hotel dan restoran letaknya 1 km dati tempat Selfy. Dia memantau perkembangan restoran Selfy dan berupaya menjatuhkan tanpa alasan yang jelas.


Tetapi di balik perbuatan Anggy ada Deo dan anak buahnya yang berdiri di belakang Selfy. Deo mengamankan usaha restoran nya secara diam diam, bahkan membantu memasarkan di luar pengetahuan Selfy.


Deo membantu Selfy secara sembunyi, karena dia malu pada pekerjaan yang selama ini dia kerjakan tetapi dia merasa utang budi karena Mamak telah banyak membantu ketika mama nya sakit. Hutang budi yang tidak dapat dibayar dengan apa pun kecuali melakukan apa pun yang dia mampu lakukan.


Deo tidak tahu alasannya mengapa mamak memberi makan dan biaya pengobatan pada mendiang mama nya ketika sakit. Dia tidak akan melupakan kebaikan Mamak selama hayat masih di kandung badan. Betapa tidak, uluran kasih Mamak diterima saat dia masih usia kira kita dua belas tahun, tempat tinggal tidak punya dan mama sakit keras, dia belum dapat mencari nafkah.


Flash back on


"Nak, kamu tinggal di mana?"


"Di batas kota, ada tempat pembuangan sampah di samping tempat itu kami berteduh Mak dan saya tinggal bersama Mama yang lagi sakit."


"Nih, buat makan kamu dan mama kamu. Ada sedikit uang ini buat berobat ya."


"Ya. Mak. Terima kasih."


Anak itu pergi dan Mamak mengikuti sampai di tempat dia tinggal. Mamak sangat terkejut setelah melihat perempuan yang berbaring di atas tumpukan kardus bekas. Dia adalah perempuan selingkuh mendiang suaminya. Perasaan Mamak antara kasihan dan benci bergulat di hati.


"Mamak habis menangis ya? Kenapa?" Tanya Selfy ketika Mamak sampai di warung.


"Tidak sayang. Mata mamak kena debu."


Mamak berbohong, dia tidak menangisi perjalanan hidupnya yang miskin karena ditinggal selingkuh dan kehilangan suami, tetapi menangisi nasib perempuan yang menderita melebihi dirinya karena perbuatan mendiang suaminya.


Walaupun Mamak telah disakiti dan hidup menderita, tetapi dia sangat mencintai suaminya. Dia berdoa dan memohon ampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan suaminya dan kasih Allah yang telah tercurah dalam hidupnya. Dia menyatakan dengan mengasihi sesama, selebihnya kepada Deo dan mama nya. Karena dia percaya bahwa kejahatan harus dibalas dengan kasih dan kebaikan dengan rela.