
Ketika Selfy berada di puncak karier yang telah dicapai sendiri dengan susah payah di balik nama Mamak, ada yang terbengkalai dan dilupakan yaitu cinta. Dia sibuk mengejar karier karena balas dendam. Dia sering direndahkan orang lain dan diragukan kemampuan dia. Semangat dan mandiri bekal dia untuk membuktikan bahwa dia berbakat memasak dan mengelola Hotel dan restoran berbintang.
Cinta dan karier sering tidak dapat berjalan seiring, masing masing membutuhkan pemusatan perhatian dan pikiran. Kadang sibuk bercinta, karier tersendat dan sebaliknya.
"Anakku, kerja keras dan pengorbananmu untuk hidup kita telah tercapai melebihi dengan harapan kamu, atas berkat Tuhan yang luar biasa".
"Ya. Berkat doa Mamak".
"Kesekian kalinya aku meminta padamu untuk segera menikah".
"Maaf, Mak. Masih banyak hal yang aku pikirkan".
"Apa lagi?"
"Kadang aku butuh teman pria pendamping, tapi aku terlanjur nyaman menjalani hidup ini bersama Mamak".
"Mamak semakin tua dan pada saatnya nanti kamu akan hidup sendiri, bila Mamak tiada".
"Aku tahu Mak, tapi saat ini belum bisa aku keluar dari zona ini. Aku belum siap hidup diatur orang lain dan melayani".
"Tapi siklus hidup yang harus kamu lalui, lahir, menikah dan mati".
"Mak, aku mengerti. Sudahlah,...katanya jodoh dah ada yang ngatur. Aku ke kantor dahulu Mak ada tender besar yang harus ku selesaikan".
Selfy berdiri dan mencium pipi Mamak kemudian pergi.
Selfy ikut merasakan beban hidup yang telah dipikul Mamak, akibat perlakuan Papa yang meninggalkan dan tidak menopang hidup mereka. Mamak yang harus berjuang tanpa lelah. Hal inilah sedikit banyak telah berpengaruh terhadap kepercayaan dia kepada lelaki. Cinta yang terpendam kepada Theo semakin tertimbun masalah masa lalu orang tua mereka dan masih menghantui pikiran selfy. Tetapi perkataan Mamak telah membuka pintu hati Selfy untuk mengubah hubungan dia dengan Theo sebagai sepasang kekasih dalam suatu hubungan romantis.
Tetapi mungkin sulit bagi Selfy membagi antara cinta dan karier. Selfy mungkin juga hanya bisa fokus pada salah satu.
"Benar kata Mamak aku memang harus tidak memikirkan karier terus. Baiklah aku akan membuat pertemuan dengan Theo dan menikmati waktu berkualitas tapi dia setuju enggak ya? Saya pikir langkah yang sangat menentukan bagi kelangsungan masa depan kami, agar kehidupan cinta dan karier berjalan seimbang. Dengan beberapa resolusi yang kita buat untuk membuka lembaran baru. Saya akan membatasi baik itu waktu bekerja atau juga waktu santai, komunikasi dan menetapkan harapan yang jelas, tentang pengelolaan karier yang telah aku genggam, bisa berjalan seimbang dengan kehidupan cinta. Akan membuat momen spesial, mencoba menjadwalkan kencan malam atau hanya untuk menikmati secangkir kopi di kedai favorit. Intinya adalah mencari waktu bersama yang berkualitas. Bila saatnya nanti pekerjaan membawa kami pada kondisi stres dan bahkan membuat emosi. Hubungan ini akan menjadi fondasi dan meminimalkan stres. Kami akan Sering berkomunikasi dengan dia, sebagai cara meningkatkan suasana hati. Kami akan membuat komitmen yang jelas".
Semua direncanakan dalam pikiran. Selfy, kemudian dia tersenyum sendiri. Dia meninggalkan tempat parkir dengan langkah santai tidak seperti biasanya, selalu kelihatan terburu buru.
"Pak, tolong nanti kalau ada tamu mencari saya, suruh ke ruangan saya ya?"
"Siap Bos".
Tidak lama kemudian Theo keluar dari mobil inventaris kantor yang tertulis Resto Wijaya. Satpam yang masih berdiri di situ diam terpaku melihat Theo yang sedang berjalan ke arah dia. Theo dikira Deo seorang ketua Preman yang mempunyai anak buah terkenal sadis.
"Mas, mau ketemu Nona Bos ya?"
"Benar, Pak. Apakah beliau ada?"
"Ya. Tadi Nona pesan, Mas langsung saja ke ruangan beliau?"
"Wow,... Begitu? Ya Pak terima kasih". Theo berlalu sambil sedikit menundukkan badan.
"Itu bukankah Deo?" Tanya Security yang lain.
"Iya. tapi saya heran, kok dia berubah jadi sopan, tambah bersih dan tampan".
"Kita sebaiknya siaga".
"Siap".
Kemudian kedua Security itu berjaga di dekat ruangan Selfy.
"Maaf, ada yang penting? Karena baru kali ini kamu memanggil aku".
'Theo, tolong kamu sekarang fokus ke hotel ya? Sedangkan aku akan kelola restoran".
"Ya, baiklah"
"Karena walaupun sudah dibantu GM Saya pikir tidak akan berkembang karena GM di Hotel sudah tua dan sebentar lagi pensiun"
"Ya. Baiklah Sel. Aku menurut saja".
"Maksudmu?"
"Eh...maksudku kamu menangkan tender pertandingan Sepak Bola Dunia di kota ini. Pertama saya perkenalkan dahulu kepada klien atau EO yang menghandle dan seterusnya kamu yang jalankan".
"Apa aku mampu?"
"Pasti bisa".
"Tapi dampingi aku ya?"
"Ya. Iya lah".
"Pelajari tentang event itu kemudian buat proposal, kalau sudah kita evaluasi bersama".
Theo bekerja di ruang Selfy. Selfy mencuri pandang ketika Theo sedang mengetik, dan Theo pun tidak fokus.
"Boleh aku kerjakan di Resto?".
" Kena apa?"
"Aku enggak fokus, nih".
"Ya karena belum terbiasa saja. Baik, sekarang mari kita makan aja".
Ketika Selfy membuka pintu terkejut melihat dua satpam berada di depan pintu.
"Lho, kenapa kalian di sini?"
Salah satu satpam mendekat Selfy dan berbisik, "Bukankah dia Mas Deo, kami takut kalau terjadi sesuatu dengan Nona".
"Terima kasih. Enggak pa pa. Sudah kembali ke Pos sana".
"Siap, Nona".
"Mari Pak". Theo permisi pada satpam.
"Pakai mobil aku aja. Nih, kuncinya". Selfy memberikan kunci mobil kepada Theo.
Baru pertama kali Theo berduaan dengan Selfy, sebab biasanya selalu ada Mamak. Theo nampak canggung dan kaku. Semakin dia ingin menetralisir perasaan hatinya, rasa takut semakin menutup jalan pikiran.
"Kenapa sekarang kamu jadi pendiam?"
"Maksudmu?"
"Dahulu kamu itu, kreatif, dapat memotivasi banyak orang, termasuk aku, dan kamu mengajak aku untuk jemput bola tapi sekarang kamu malahan sebaliknya, ...diam dan menunggu datangnya bola.
Theo diam, dalam hati dia berkata," Aku memang menanti kamu mencairkan hati untuk aku dan penantian ini yang membekukan hati".
"Lah,,...begitu kan, malah melamun".
"Eh,...maaf jalan lagi ramai".
"Ya sudah kamu fokus ke jalan". Kemudian dia bersandar di bahu Theo. "Bagaimana bisa fokus?" Protes Theo dalam hati.
Tiba tiba sepeda motor memotong jalan mendadak di depan mobil mereka, Theo rem agak keras sehingga Selfy jatuh di pangkuan dia dan mobil terhenti. Ketika mereka sedang saling bertatapan mata, pintu mobil digedor oleh seseorang pengendara taxii belakang mereka yang terhalang.
"He...buka pintunya. Emang gak ada tempat lain buat pacaran?!" Setelah Theo membuka pintu mobil, turun dan memandang gadis sopir taxi itu ternyata Anggy.
'Theo?! Selfy?! Ternyata kalian?"
"Maaf, saya salah".
"Ya. Enggak pa pa. Saya jalan dulu". Lalu, Anggy segera pergi sehingga Selfy tidak ada kesempatan menyapa dia.
Bersambung..........