
Setiap hari Selfy berangkat ke sekolah seperti orang berangkat ke pasar karena sepeda motor butut di depan dan belakang penuh dengan dagangan makanan camilan dan nasi bungkus. Sebagian dagangan dititipkan di kantin sekolah lain dan sebagian dia bawa ke sekolah menyediakan untuk teman teman yang membutuhkan dan mereka yang uang saku sedikit. Sebab kalau anak yang uang saku banyak mereka pesan makanan melalui layanan pengiriman. Saat dia pulang sekolah mampir ke kantin mengambil uang dagangan dan sisa dagangan yang tidak laku. Dia percaya diri dan berpikir positif kepada yang akan dilakukan. Dia pergi ke sekolah sambil menjual masakan dan hasil jualan dipakai membeli bahan makanan lagi dan sebagian di tabung untuk biaya sekolah.
Selfy terlambat lima menit, sehingga dia berlari menuju ke kelas. Ketika dia akan menaiki tangga dia berpapasan dengan Anggy, orang tuanya pemilik kantin sekolah, setiap bertemu dengan dia ada ada saja cara dia untuk menyakiti baik dengan kata kata maupun secara fisik karena merasa saingan dia.
“Ha, kalau berjalan itu pakai mata, " Anggy sengaja menyenggol Selfy dan membentak.
“Berjalan itu pakai kaki, masa pakai mata?”, kata salah satu temannya yang kebetulan berlari di belakang.
“Maaf, aku tergesa gesa, " mengambil tas yang jatuh dan membersihkan pakaian, karena terpelanting dan jatuh ke lantai.
“Ingat kalau kamu tidak ingin berurusan dengan aku. Ambil dagangan makanan kamu di kantin Mama aku. Makanan kamu tidak enak, basi. Akibatnya makanan aku ikut tidak laku.”
“Mengapa kamu minta maaf? Jelas dia menabrak kamu, " seorang teman tidak rela melihat peristiwa itu.
“Sudah. Tidak apa apa. Baik aku ingat. Maaf."
Lalu dia berlari menuju ke kelas, meninggalkan mereka yang masih ribut. Theo nama pria itu, ketua OSIS. Dia selalu memperhatikan Selfy dan ingin membantu kesulitan dia. Sebaliknya Selfy tidak peduli.
Anggy terkenal galak dan suka mencari masalah dengan teman di sekolah. Dia anak pemilik Yayasan Pendidikan pada sekolah itu dan mama dia mengelola kantin sekolah. Dia yang memasak dan membayar beberapa karyawan yang menjual.
Pada waktu istirahat, Anggy dan teman teman berkumpul di kantin dan banyak siswa menanyakan makanan Selfy tetapi disimpan oleh penjaga kantin. Mendengar itu Anggy semakin kesal.
“Aku lagi kesel sama si Warung Berjalan itu."
“Selfy yang kau maksud?” tanya Prita, anak Gang Motor
“Ada masalah dengan dia?” Gadis gemuk anak seorang pengusaha sukses.
“Ya."
“Boleh aku kasih pelajaran dia?," kata Prita.
“Terserah. Dia menitipkan dagangan di kantin."
"Enggak punya Otak itu anak. Bukan dia yang masak aja berlagak." Si gemuk tambah memanaskan suasana.
"Dia enggak bisa masak.dan masakan mamak dia menu kampungan. Beda dengan masakan
calon chef seperti aku." Anggy berkata dengan sombong.
Tetapi dia kecewa dan semakin kesal, setelah mendengar banyak siswa yang datang ke kantin menanyakan dagangan Selfy , karena karyawan kantin bilang sudah habis maka mereka kembali ke kelas dan tidak membeli makanan dia. Memang dia menyuruh karyawan kantin menyimpan makanan itu dan melarang karyawan menjual semua makanan milik Selfy.
Bel tanda pelajaran telah selesai. Selfy ke kantin sekolah mengambil dagangan.
“Maaf, dagangan kamu tidak laku, karena kantin lagi sepi," kata karyawan kantin sambil memberi dagangan yang masih utuh belum keluar dari pembungkus.
“Tidak apa apa, Bi. Jualan itu kadang laku kadang tidak, hal yang biasa. Terima kasih dan maaf merepotkan."
"Selain itu, dagangan kamu sama dengan dagangan di sini."
"Ya, Bi kalau begitu, besuk aku tidak ikut berjual"
"Maaf ya."
"Ya, Bibi. Kalau bibi bilang kemarin, aku tidak ikut berjualan di sini. aku merasa bersalah dengan Anggy. Tolong sampaikan maaf ku Bi."
Kemudian dia pulang sekolah dan membagi bagi makanan yang tidak laku kepada teman teman, pengemis, orang yang mencari barang bekas sebelum makanan itu basi.
Tiba tiba dari belakang, motor Prita mendahului kemudian berhenti mendadak di depan dia. Dia terkejut, menabrak dan jatuh.
"He,...kalau mengendarai motor itu mata dipakai." Prita berdiri dan bertolak pinggang. sedangkan Selfy masih duduk di tanah.
"Kamu yang salah, sengaja berhenti mendadak di depan dia. Untung dia pelan" kata salah seorang pencari barang bekas yang kebetulan dia berada di dekat kejadian itu.
"Pak, tidak usah ikut ikut. apa kamu mau berurusan dengan saya?"
"Sudah sudah. Tidak apa apa, maaf." Kata Selfy. Lalu, Prita pergi dengan begitu saja sambil menarik gas motor melaju dengan kencang.
Selfy menahan kemarahan. Lalu, dia membawa motor ke pinggir jalan,"Motor tua, kasihan kamu tidak bisa jalan," berkata sendiri sambil menuntun motor ke pinggir jalan, lalu memungut sisa dagangan yang akan di bagi bagi berserakan. Kemudian membawa motor ke bengkel. Dia diantar oleh pegawai bengkel pulang, karena motor di reparasi selama dua hari ke depan. Dia akan menghampiri dagangan di kantin sekolah lain, tetapi semua sudah tutup. Padahal sebagian besar makanan itu tidak tahan sehari semalam berarti besuk sudah basi.
Setelah sampai di rumah, Mamak agak terkejut melihat anak nya pulang tanpa motor.
"Ada apa dengan kamu?, " tanya Mamak.
"Motor mogok." Mamak melihat luka di lengan dan kaki tetapi dia tidak bertanya. Penting anak itu baik baik saja.
Mamak mengajar kepada anak untuk berpikir positif. Dengan sabar, membentuk kepribadian dia menjadi orang yang mandiri, membangun citra diri yang positif sehingga dia percaya diri dan menghargai orang lain.
***
Dia telah selesai memasak tetapi tidak membantu mamak menata makanan di warung. Dia merasakan sakit di lengan dan kaki. Pada saat jatuh belum terasa sakit tetapi beberapa saat kemudian, perih terasa sampai ke tulang.
“Mengeluh kepada siapa? Apakah keluhan itu bisa mengurangi rasa sakit? Ah, tidak aku tidak sakit. Ini hanya luka biasa, " dia bicara sendiri.
walaupun masih merasakan nyeri tetapi dia harus memasak karena kemarin pagi, dia sudah terlanjur belanja bahan bahan mentah kalau dia tidak memasak akan layu. Dia bangkit dari pembaringan, menggerakkan otot lengan dan kaki seperti saat dia melakukan pemanasan dalam latihan pencak silat dan mengobati luka agar tidak membengkak. Lalu mempersiapkan bahan bahan dan memasak.
***
Keesokan hari, Selfy berangkat ke sekolah menyewa dua orang antar jemput, satu membawa dagangan dan yang lain membawa dia. Dia mampir ke beberapa kantin sekolah mengambil dagangan kemarin dan menukar dengan yang baru. Dia bersyukur karena dagangan yang tidak dia ambil kemarin habis semua dan berubah menjadi uang untuk modal hari berikutnya.
Setelah dia sampai di sekolah, dia bertemu dengan penjaga sekolah yang tinggal di ruang kelas yang tidak digunakan, dia izin berjualan di depan ruang itu pada waktu istirahat dan penjaga sekolah itu mengizinkan.
Bel berbunyi tanda istirahat pertama. Ruang tempat Selfy berjualan kelihatan dari segala penjuru kelas. Sehingga siswa melihat dengan mudah dan mereka banyak yang datang membeli makanan. Lebih banyak siswa di tempat Selfy dari pada di kantin Anggy.
“Ha, Warung berjalan.” Selfy mendengar panggilan Angy itu di tujukan kepada dia, tetapi dia masih sibuk melayani pembeli sehingga tidak menjawab.
“Ha, tuli kamu ya?” Mendengar kata itu Selfy hilang kesabaran dia. Lalu, menyuruh pembeli untuk mengambil sendiri makanan yang mereka butuhkan.
“Silakan duduk. Kita bicara yang enak jangan teriak seperti itu” Selfy nada bicara agak keras. Anggy agak terkejut karena biasanya selfy dihina dia hanya diam dan minta maaf. Karena dia bertiga dengan temannya dan banyak siswa, maka dia malu merendah. Dia masih berdiri dan bertolak pinggang.
“Sengaja kamu mau bersaing dengan aku?”
“Tidak.”
“Sekarang mau kamu apa?” Prita tidak sabar, maju akan meraih rambut Selfy, tetapi datang
Theo dari belakang dan menarik tangannya.
“Theo, Kamu tidak usah ikut campur. Biar aku selesaikan sendiri.” Selfy berdiri mendekat Prita. Theo melepaskan tangan Prita dan Prita bergerak cepat akan meraih rambut Selfy, tetapi kalah cepat dengan gerakkan tangan Selfy menangkap kemudian melipat tangan Prita dan menekuk dengan gerakkan mengunci seperti yang diajarkan dalam bela diri.
“Aduh! Sakit! lepaskan!” Dia kesakitan tetapi masih bicara dengan nada membentak, maka Selfy tidak segera melepaskan, bahkan mengunci semakin kencang.
“Ku patahkan tanganmu!” Dia berkata keras, lalu Anggy dan Eva mundur beberapa langkah ketakutan.
“Jangan, Maaf, maaf, maaf, tolong lepaskan.” Selfy melepaskan tangan dia dan mendorong ke arah Anggy dan Eva, si gendut. Mereka diam ketakutan tetapi dari sorot mata mereka masih menyimpan dendam. Mereka lupa kalau Selfy pelatih kegiatan bela diri di sekolah dan melanjutkan latihan di sebuah perguruan pencak silat.
“Sama sama penjual makanan itu, adu rasa bukan adu fisik. Kalau banyak anak yang beli dagangan aku, seharusnya kamu sadar, dagangan kamu bukan selera mereka.” Kata Selfy sambil tersenyum seperti tidak sedang terjadi apa apa tetapi senyuman itu sangat menyakitkan hati mereka.
Semua anak yang ada, diam dan tidak mengira kalau Selfy yang ramah, bersahabat, suka mengalah dan rendah diri berani melawan Anggy dan kawan.