
Sekolah menawarkan makanan yang enak dan murah pada acara perpisahan kepada seluruh siswa, kalau peminatnya lebih dari satu akan diadakan seleksi dan makanan boleh pesan atau masak sendiri. Selfy salah satu peserta yang ikut partisipasi dalam penawaran.
"Eh.. warung berjalan, apa kau akan pesan Mamak kamu ?" Kata Anggy dengan sinis.
"Loh, aturan boleh pesan dan memasak sendiri, bukan?" Jawab Selfy dengan santai sambil menata dagangan.
"Kau terlau berani melawan masakan aku. Masakan mamak kamu itu kampungan. Kalau kau pesan dia, lewat lah." Semakin sombong dan merendahkan Selfy.
"Lihat saja nanti."
Seleksi dimulai masing masing peserta membawa contoh makanan. Juri makanan bapak dan ibu guru. Setelah beberapa guru merasakan dan memberi penilaian mereka mendekati Selfy.
"Pesan di mana, Sel?" tanya salah satu Ibu guru.
"Buatan Mamak saya, Bu."
"Enak sekali. Baiklah kapan kapan aku pesan ya?
Anggy kesal mendengar pembicaraan itu, setiap guru memuji makanan selfy. Kemudian juri memutuskan bahwa yang layak menjadi seksi konsumsi adalah Selfy Wijaya.
Anggy semakin dipermalukan. Dia tidak bisa menerima keadaan malah semakin membenci Selfy. Hanya saja sekarang dia tidak berani bertingkah secara langsung di depan selfy, tetapi di belakang dia tetap melampiaskan ketidakpuasan.
"Sialan. Penilaian ini tidak fair sebab berdasar pada rasa kasihan." Ucap Anggy
"Tidak Objektif!" Eva meniup bara kekecewaan Anggy. .
"Harap maklum, Jurinya bukan chef, ?" Prita menambahkan.
Mereka diam ketika Selfy lewat disamping mereka bersama Theo. Melihat Theo, Anggy berlari kecil mendekat Theo
"Kalian bertiga seksi keamanan ya?" kata Theo.
"Ya. Sayang. Apa saja kulakukan untukmu." Anggy memeluk lengan Theo agar Selfy panas hatinya. Tetapi Selfy menoleh pun tidak. Dia berlalu meninggalkan mereka. Theo melepas tangan Anggy dan mengejar Selfy.
"Tunggu Sel".
"Mengapa kamu mengikuti aku?"
Selfy sibuk mempersiapkan resep masakan yang akan mamak masak. Mamak pulang dari jualan dan menyimpan tempat makanan dan makanan yang tidak habis dijual di dapur. Lalu Mamak cuci muka, ganti pakaian dan berbaring. Dia berbaring di dapur yang disediakan tempat tidur kecil dipakai ketika menanti menghangatkan masakan. Karena Selfy sedang menyiapkan resep makanan dan memasak maka dia menemani dan sebentar lagi membantu.
“Aku sudah siapkan kardus kemasan makanan untuk besuk pagi dan menyuruh teman mamak membantu memasak nasi dan mengemas makanan sebentar lagi mereka datang.”
“Baik. Semua akan segera aku selesaikan jadi mereka datang tinggal memasak nasi dan mengemas.”
Setelah selesai tugas dia. lalu berbaring dan mamak melanjutkan memasak.
“Semoga mimpi indah.” Kata Mamak
“Lebih baik mimpi di saat bangun dari pada mimpi di saat tidur”
“Maksudnya?“
“Aku punya mimpi menjadi pengusaha jasa memasak atau chef, mempunyai restoran dan hotel pada saat bangun."
“Bagus itu berarti kamu mempunyai tujuan untuk mencapai sesuatu.”
“Akan aku capai dengan usaha, jerih payah dan atas kekuatan saya sendiri.”
“Benar, itu nama nya mimpi."
“Apa beda mimpi dengan harapan?"
"Beda. Harapan itu melibatkan orang lain atau membutuhkan bantuan orang lain."
Tidak lama kemudian dia tidur pulas.
kening anak gadisnya.
Teman teman mamak yang akan membantu mengemas makanan datang. Mereka sudah tahu tugas masing masing.
“Setiap saya di sini membantu, mengapa anak gadis kamu itu malah tidur?”
“Biar saja dia capek, dia sekolah dan membantu berjualan.” Jawab Mamak.
“Apakah tidak mau belajar memasak?” Tanya yang lain.
“Ya. Jadi bila saatnya nanti ditinggal Mamak, dia melanjutkan usaha ini.” Kata yang lain.
Selfy mendengar pembicaraan mereka tetapi dia pura pura mendengkur.
***
Suasana di sekolah saat itu hiruk pikuk, ramai siswa dan orang tua mereka. Mereka foto sendiri, bersama teman dan bersama orang tua di halaman sekolah, dan di taman sekolah, setelah acara perpisahan selesai. Selfy masih sibuk urusan konsumsi. Dia menyiapkan konsumsi untuk pertemuan acara pembubaran panitia.
Sebelum acara rapat dimulai.
“Terima kasih Selfy atas kerja keras kamu dan sampaikan terima kasih kami kepada Mamak.” Kata Theo selaku ketua Panitia
“Makanan buatan Mamak sesuai dengan selera kita dan mereka, enak.” Kata salah satu dari mereka yang datang.
“Buktinya apa?” Kata yang lain
“Nih. Aku makan habis tak ada sisanya.” sambil menunjukkan kardus makanan yang sudah kosong.
“Itu karena lapar bukan cocok dengan selera”
“Maksudku, biasanya makanan itu mereka buka dicicipi sedikit, kemudian dibawa pulang, tetapi kali ini mereka buka, dicicipi,.....loh, kok enak, .... langsung makan.”
“Ya benar katamu. Sebab banyak sekali sampah kardus bekas makanan itu.”
“Ya. Terima kasih tas kepercayaan kalian kepada mamak aku. Hanya itu yang dapat kami lakukan. Banyak sekali kekurangan kami, mohon maaf.” Dalam hati dia berterima kasih kepada Tuhan atas talenta yang telah dikaruniakan.
Anggy datang sebagai seksi acara, Prita dan Eva seksi keamanan. Mereka tidak berani protes tentang susunan panitia. Mereka mulai pikir pikir berurusan dengan Selfy. Mereka langsung duduk tidak komentar dan membuat gaduh seperti dahulu. Kemudian rapat dimulai.
Makanan masih sisa beberapa kardus, Selfy memberikan kepada penjaga sekolah dan dia mengucapkan terima kasih kepada penjaga itu atas pinjaman ruang yang telah dia gunakan berjualan selama dia sekolah.
Ketika dia masih di ruang itu, Theo menghampiri dia.
“Kamu akan melanjutkan sekolah ke mana?”
“Tidak. Mungkin aku akan kursus tata boga, itu pun kalau ada biaya.”
“Bagaimana kalau ikut aku, kuliah perhotelan di Ibu kota, biar papaku nanti yang membiayai semuanya?”
“Tidak.Terima kasih.”
“Kesempatan terakhir kita bertemu sekolah di sini. Aku tidak dapat melihat kamu lagi. kamu yang cantik, lincah dan enerjik.”
“Waow,...jangan terlalu memuji aku, aku takut jadi sombong nanti.”Selfy tahu arah pembicaraan Theo, dia sengaja membelok dengan sedikit kelakar.
“Serius, aku suka sama kamu. Aku kagum dengan cara hidupmu, mandiri, dan kamu memiliki bakat masak terpendam yang sengaja ku sembunyikan.
“Simpan saja perasan kamu itu di sini,” Selfy memegang kedua tangan Theo dan menempelkan ke dada theo.
“Maaf Theo, kalau kepalaku ini transparan mungkin kamu akan melihat simpul simpul saraf otak kehidupan aku berserakan. Okey, masa depan kita masih panjang, kita lalui jalan kita masing masing. Aku lebih sayang sama persahabatan kita. Ayo kita pulang.”
Ilustrasi Mamak istri Danang Wijaya