Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 13. Pucuk dicinta Ulam tiba.



"Sebelum kita sepakat tentang harga yang Bapak tawarkan, boleh saya melihat sertifikat tanah?"


"Ada Non, tapi foto copy. Sedangkan yang asli di Bank."


"Tidak apa apa Pak."


"Ya. sebentar Non."


Selfy membayangkan seandainya Hotel itu menjadi miliknya nanti.


"Ini, Non"


Selfy menerima sertifikat tanah dan membaca luas tanah. Dia terkejut ketika membaca nama pemilik tanah. Dia membaca berulang ulang tertulis nama pemilik "Danang Wijaya" nama mendiang papa dia.


"Apakah nama Bapak, Danang Wijaya?"


"Bukan Non, itu nama mendiang Bos di sini."


"Loh, Bapak anaknya?"


"Bukan Non."


"Kalau Bapak tidak punya hubungan keluarga dengan pemilik hotel ini, andaikan saya beli, saya kesulitan Pak mengurus kepemilikan tanah ini."


"Ceritanya begini Non, Bos mempunyai pinjaman di bank dan hotel ini sebagai agunan nya. Dahulu saya bisa bayar angsuran, tetapi akhir akhir ini hotel sepi tidak bisa bayar beberapa bulan. Berhubung akan dilelang maka saya akan jual."


"Ya. tidak bakal laku Pak, kalau pemiliknya tidak jelas."


"Saya juga bingung Non."


"Bapak cari dahulu istri atau anak bos terus urus kepemilikan tanah dan bangunan ini."


"Sudah Non. Tapi tidak ada kartu keluarga karena bos kawin resmi secara agama tapi ilegal di pemerintah Itulah yang yang membuat saya bingung."


"Bapak siapa?"


"Saya orang kepercayaan mendiang bos. Saya mempertahankan hotel ini, agar saya dan karyawan yang lain tidak kehilangan pekerjaan, tetapi kalau keadaan seperti ini, ya terserah pihak bank saja."


"Terima kasih informasinya. Kapan kapan saya akan kembali sebelum bank menyegel hotel ini dan lelang."


"Baik, Non."


Sampai di rumah dia cerita Mamak. lalu dia mengumpulkan berkas untuk mengurus sertifikat di Departemen Pertanahan Nasional setelah melunasi hutang mendiang Papa di bank, tentu saja. Karena Hotel itu dibeli setelah menikah dengan Mamak, termasuk harta "Gana Gini" berarti yang berhak memiliki adalah Mamak.


Lebih cepat lebih baik pikir Selfy. Dia selesaikan sendiri tetapi harus ada Mamak karena perlu legalisasi dari Mamak.


Ibarat pucuk dicinta ulam tiba, mendapatkan sesuatu melebihi dari pada apa yang diharapkan. Sertifikat tanah dan bangunan hotel besar telah ditangan Selfy.


"Benarkah semua ini?" Kata karyawan hotel, orang kepercayaan mendiang Danang Wijaya tertegun dengan surat berharga yang bernilai milyar-an rupiah itu.


"Secepatnya akan saya balik nama atas nama Mamak saya, Nyonya Danang Wijaya."


"Tapi nasib kami bagaimana Non?"


"Bapak dan semua karyawan, tenang saja.Tetap bekerja seperti biasa, nanti setelah urusan sertifikat tanah ini selesai, saya akan membenahi hotel ini lebih baik lagi dengan manajemen yang sehat."


Orang kepercayaan mendiang Danang Wijaya dan semua karyawan tidak menuntut apa pun. Malah mereka senang karena keberadaan hotel jelas dan mereka tidak kehilangan pekerjaan.


Selfy telah mempersiapkan berkas balik nama sertifikat dan dia serahkan kepada notaris untuk bertindak lebih lanjut dengan pihak yang berwenang sampai nanti terbit sertifikat baru.


Mamak telah rela mengorbankan kebahagiaan dia sendiri demi kebahagiaan mendiang suami dan doa pengampunan atas segala kesalahan dia. Untuk itu maka Tuhan memberi anugerah yang tidak pernah dipikirkan sama sekali dapat memiliki hotel besar dan tanah yang luas.


Tepat pada waktunya, Selfy mempunyai uang hasil dari restoran sehingga dia mampu mengejar layang layang yang putus, dia dapat membayar utang papa nya dan mengurus kepemilikan tanah atas nama Mamak.


Tepat pada saatnya Selfy habis masa kontrak tempat restoran mendapat tempat yang baru. Anggy yang akan kebakaran jenggot karena Dia chef di hotel itu.