
Mamak dan Selfy kembali dari notaris dan telah melakukan transaksi pembayaran tanah yang di tempati Theo dan Deo. Rencana tanah itu akan dibangun sebuah restoran dan segera Selfy menghubungi kontraktor dan arsitek.
Tanah yang di beli oleh Mamak adalah tanah milik orang tua Anggy. Tanah itu dijual untuk biaya kasus narkoba dan rehabilatasi Anggy. Sedangkan Hotel Larasati milik orang tua Anggy juga sudah menjadi agunan Bank dan ibarat telur sudah di ujung tanduk karena beberapa bulan tidak membayar angsuran. Untuk itu Mamak membeli semua kekayaan orang tua Anggy. Mereka dihancurkan oleh anak tunggal mereka
Anggy yang bermain barang haram itu sejak lulus SMP sampai sekarang umurnya kurang lebih 25 tahun, akibatnya dia memiliki pola pikir berbeda dengan orang normal pada umumnya. Sering berbohong, mudah tersinggung, melakukan sesuatu sesuka hatinya. Maka alasan mengapa dia sangat membenci Selfy tidak jelas. Anggy menjalani masa rehabilitasi yang diharapkan dapat melanjutkan perjalanan hidupnya di jalan yang benar.
Selfy dan Mamak setelah mendapat informasi dari Deo tentang kepemilikan tanah atas nama orang tua Anggy, sekali dayung dua pulau terlampaui. Sekali berurusan dua area tanah dapat dibeli.
Hotel Larasati papan namanya diturunkan diganti nama Hotel dan restoran Wijaya 2. Hotel dan Restoran Wijaya berkembang dengan pesat. Kerja sama Selfy dengan investor dalam dan luar negeri telah selesai, malahan dia mulai menginvestasikan asetnya ke beberapa perusahaan. Di kalangan bisnis nama Mamak menempati papan atas. Dia dinobatkan menjadi konglomerat. Namun
Selfy masih dikenal sebagai gadis penjual makanan Mamak. Maka dari itu, suatu saat nanti dia ingin mengundang orang orang kelas bawah yang pernah dekat dengan dia, setelah kesibukan dia berkurang.
Theo tetap jualan walaupun warung nya dikelilingi oleh tumpukan material bangunan.
"Maaf Theo, warung terganggu."..
"Tidak apa apa, Sel." Sambil memasak.
Selfy mendekati Theo dan mencicipi masakan. Lalu dia memberi resep masakan nasi goreng dan mi rebus/goreng dan Theo memasak dengan resep itu, disajikan kepada tamu, setelah tamu selesai makan, mereka memesan untuk dibawa pulang beberapa bungkus, pertanda bahwa masakan dengan resep itu enak.
"Tika, perkenalkan saudaraku Selfy."
Lalu Tika menjabat tangan Selfy.
"Sudah lama kerja di sini?"
"Saya cuma bantu kakak Theo, Kakak."
"Aku belum kuat bayar karyawan, Sel. Tika itu keponakan Anggy, dia akan kerja di hotel milik Anggy tetapi hotel itu sudah dijual maka dia membantu saya." Theo tidak tahu kalau pemilik hotel itu sekarang Selfy karena dia tenggelam dari dunianya dahulu.
"Lho kamu pengin kerja di sana?"
"Sekarang tidak. Saya terlanjur nyaman di sini, Kak."
"Baik. Kerja yang bagus. Bulan depan aku gaji kamu."
"Terima kasih, Kak"
Theo terkejut memandang Selfy. Tapi Selfy pura pura tidak tahu.
"Tempat ini akan aku bangun seperti layaknya sebuah restoran. Theo yang kelola dan kamu kerja pada dia."
"Terima kasih, Kakak." Lalu dia kembali bekerja.
Theo tidak berani bertanya apa lagi usul dan menanggapi ucapan Selfy. Dia menjalankan ide Selfy karena dia sadar bahwa dirinya pekerja yang patuh pada bos. Selain itu dia kagum keberhasilan Selfy yang dicapai di atas kaki sendiri, percaya diri dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh, langkahnya cepat dan tepat. Keadaan ini telah melumpuhkan cinta Theo yang dahulu berdiri tegak menopang sejuta harap.
"Terima kasih, Sel. Kau adalah malaikat yang dikirim untuk hidupku."
"Ah,...kau terlalu berlebihan, The. Biasa aja kali."
Selfy memandang Theo menundukkan kepalanya dengan pandangan kosong.
"Theo, hadapi masa depan kamu dengan semangat, seperti Theo yang aku kenal dahulu."
Kemudian Selfy meminta alat masak yang sedang digunakan Theo, dia mengambil secawan nasi dan menaburkan segenggam garam.
"Rasakan ini." Theo mengambil sesendok, lalu dimakan dia merasakan asin sekali dan meludah. Selfy mencampur secawan nasi goreng tadi ke dalam wajan dan mengaduk.
"Rasakan ini." Theo mengambil beberapa sendok untuk menghilangkan rasa asin yang masih terasa di mulutnya.
"Nah, lapang kanĀ hatimu seluas derita kamu, akan terasa enak dan nyaman. Jika hatimu hanya seluas cawan segenggam penderitaan saja akan terasa menyesak." Selfy memberikan alat masak kepada Theo kembali.
Theo masih belum memahami perkataan Selfy.
"Paham?"
"Melapangkan hati, gampang diucapkan tapi ada yang harus diselesaikan".
"Maksudmu?"
"Butuh pikiran yang tenang dan berpola positif".
"Benar katamu, tapi kalau terlalu banyak pertimbangan untuk menenangkan hati hanya akan menyesatkan langkah, walaupun itu perlu".
Theo diam dan pikirannya kembali ke masa lalu, Theo sering memotivasi Selfy untuk menggapai masa depan menjadi kebalik Selfy tumbuh berkembang menjadi motivator dia.
"Hai, Theo melamun ya?"
"Enggak lagi mencerna kata kata kamu".
"Ya, aku hanya mengingatkan motivasi mu padaku aja".
"Seseorang bisa menciptakan kata kata yang dapat memotivasi orang lain, tapi kadang kalau dia sendiri yang terbentur, jadi enggak bisa mikir, dan melakukan sesustu yang seharusnya tidak dilakukan".
Bersambung.