Chef Talent Girl

Chef Talent Girl
Episode 23.Pasca Meninggal dunia



Suryawan meninggal dunia akibat serangan jantung yaitu penyumbatan di pembuluh darah koroner secara mendadak, coronary artery disease atau penyakit jantung koroner.


Satu minggu kemudian, Theo masih sangat sedih kehilangan orang yang sangat dicintai dan dalam hatinya bergejolak antara benci dan cinta. Benci karena papa selfy telah merusak kehidupan keluarga dia tetapi dia memendam rasa cinta kepada anaknya. Sedangkan Deo tidak begitu terasa kesedihan itu karena dia sejak kecil tidak mengenal papa nya dan dia telah menjadi dewasa oleh karena penderitaan.


"Sabar dan kuatkan hatimu, Theo."


"Kami berdua mengucapkan terima kasih Sel, engkau telah membiayai pengobatan papa sampai biaya pemakaman."


"Sama sama. Semoga mereka semua diampuni dosanya dan ditempatkan di surga-Nya."


"Ya. Perbuatan mereka sudah terkubur bersama. Kita yang ditinggalkan tidak perlu mengungkap masa lalu mereka. Semua telah menuai yang ditanam.


"Selfy, aku kagum pada perjuangan hidupmu. Kamu adalah wanita mandiri maka layak kamu mendapatkan mahkota kehidupan."


"Ah,... jangan terlalu memuji, takut terlena."


Selfy terkejut mendengar perkataan Deo. Ternyata Deo yang berperangai kasar, memiliki hati yang bijak.


"Deo, mengapa kamu selalu menghindar dariku?"


"Aku malu dengan hidupku."


Theo diam hanya kadang dia memandang Selfy tetapi ketika Selfy menatap, dia menundukkan wajah. Dia merasa kecil dihadapkan Selfy.


"Theo, apa rencana kamu?"


"Jual nasi goreng."


"Bagus itu. Kalian kontrak rumah ini?"


"Ya. Ini kontrakan Deo."


"Kamu tahu kan Sel, dahulu aku tinggal dimana." Deo mengingatkan Selfy bahwa dia bersama mama nya pernah tinggal di rumah kardus, sudut tempat pembuangan sampah yang selfy pernah kunjungi saat mengantar makanan.


"Ya."


'Tempat pembuangan sampah itu, dibangun untuk kantor pemerintah daerah. Kebetulan ada lahan dan rumah kecil ini kosong, sebelum laku dijual aku disuruh menempati."


Selfy berpikir sejenak kemudian dia menelpon Mamak dan menjauh dari Theo dan Deo.


"Deo, bisa kamu antar aku ke tempat tinggal pemilik rumah ini?"


"Bisa. Kapan? "


"Sekarang."


Mereka berdua pergi, Theo tinggal di rumah buka warung karena baru sekali buka lalu seminggu tutup.


Dia membersihlan tempat, menata alat, dan meracik bumbu nasi goreng dan mi. Setelah semuanya siap, pembeli yang pernah datang kembali membeli dan mengajak teman mereka.


Dia sendiri kerepotan melayani tamu. Kemudiam ada gadis cantik. yang ikut antre, kasihan melihat Theo.


"Saya bantu, Kak"


""Tidak usah saya bisa sendiri dan saya tidak mampu bayar kamu."


"Tidak perlu bayar, aku rela kok." Tanpa menunggu izin dari Theo, gadis itu membantu mengemas makanan yang sudah dimasak Theo.


"Kenalkan Kak, saya Tika."


"Theo."


Ketika Deo datang bersama Selfy, Tika berhenti mengemas makanan memandang Theo kemudian mengalihkan pandangan ke Deo, juga orang orang yang antre di situ.


"Kembar?" Tidak ada yang memberi aba aba, spontan mereka berkata bersama sama dan Theo tertawa.


"Dia pacarnya, Kak?" Tanya Tika.


"Bukan. Dia adikku."


Deo dan Selfy tidak peduli, mereka berjalan melihat halaman belakang dan mencari batas luas halaman.


"Deo, Besuk kamu ada acara?"


"Ada urusan dengan Anggy"


"Ya sudah. Nanti aku ke notaris dengan Mamak" Selfy permisi pulang dan Deo mengendarai motor lalu pergi.


Theo masih sibuk dengan pembeli.


"Kemana mereka Kak?


"Siapa tahu. Sejak tadi aku di sini, kan?"


"Kakak pendatang ya?


"Ya. kamu masih sekolah?"


"Baru saja lulus dari akademi perhotelan, Kak?


"Rencana melanjutkan atau bekerja?"


"Mau melamar pekerjaan ke hotel Larasati milik Tante aku".


"O,... ya. Bagus itu".


"Ayo kak. Kita melamar bersama. Kakak pinter masak nanti jadi juru masak di restoran nya".


"Tapi aku tidak punya ijazah yang sesuai".


"Sementara boleh aku bantu Kakak jualan? Tidak dibayar tidak apa apa"


"Kalau kamu tidak repot, silakan".


"Terima kasih, Kakak".


"Tapi aku belum mampu bayar kamu"


Dagangan sudah habis. Theo dibantu Tika membersihkan tempat dan alat dapur. Tika terpesona melihat ketampanan Theo, tapi dia masih terbatas pada rasa kagum dan Theo menganggap dia masih kekanak kanakan. Meskipun baru sehari mereka bersama tapi sudah akrab, Theo bersikap seperti Kakak menyayangi adiknya dan Tika sudah berani manja tapi malu malu.


Setelah Tika pulang, Theo sendirian di rumah. Dia merebahkan badan di kursi panjang, melepaskan lelah.


Theo tidak pernah memikirkan kebutuhan hidup setiap hari seperti ketika papanya masih di puncak kejayaan. Dia tinggal di sebuah apartemen, transfer uang tiap bulan untuk kebutuhan.


.


Maaf.. masih perlu pembenahan tulisan ini guys...


Bersambung.