Break the Limit

Break the Limit
I Love you



Allard duduk di jendela kamarnya ditemani Cedric yang berbaring di ranjangnya.


Tok..tok..


Sthynx masuk ke kamar Allard.


"Oh finally....cepat hilangkan tanda ini"


Sthynx menghilangkan tanda hukuman di pergelangan tangan Allard.


"Jangan memaksaku melakukannya lagi... aku bisa memberimu hukuman yang lebih dari ini"


"Aku tidak peduli" sahut Allard dan segera melompat dari jendela kamarnya.


Cedric hanya tersenyum kecil.


Allard berhenti di pohon perbatasan sungai, ia tidak melihat Livy di sana.Allard memutuskan menyebrangi sungai Obice, ketika penjaga sungai lengah..dengan secepat kilat ia sudah berhasil melewati perbatasan sungai.


Allard berhenti didepan rumah Livy, tercium aroma Livy yang ia rindukan dari sana.


Allard segera masuk, ia melihat Livy tengah tertidur pulas di ranjangnya.


Allard mendekati wanita pujaannya itu dan berbaring di sebelahnya.


Allard membelai rambut Livy yang terurai dan mencium lembut kening Livy.


Livy membuka matanya secara perlahan sambil berusaha mengamati seorang pria yang berada disampingnya.


"Mm...Allard?"


Sekali lagi Allard mencium kening Livy dengan lembut.


"Apa yang kau lakukan disini?bukankah Cedric sudah memberitahumu?"


"Aku tidak peduli...aku hanya sangat merindukanmu"


Livy duduk bersandar sambil mengikat rambutnya.


"Ratu Calesthane sudah tau.. kau akan berada dalam bahaya Allard"


"Ssssttt.... apa kau tidak merindukanku Livy?"


Livy terdiam menatap mata Allard.


Allard memeluk Livy dengan erat.


"Aku tidak peduli kalau mereka menghukumku, jadi... jangan suruh aku pergi..untuk malam ini saja biarkan aku bersamamu"


Livy balas memeluk Allard.


"Maafkan aku" gumam Livy.


Allard mencium bibir Livy yang terasa lembut dan manis. Dipeluknya pinggang Livy yang ramping, Allard memperdalam ciumannya dan turun menciumi leher Livy yang beraroma mawar.


BRAKKK.....


Pintu rumah Livy terbuka, Livy terkejut ketika para pengawal ratu Calesthane datang.


Ratu Calesthane masuk ke rumah Livy dan menatap tajam Allard.


"Berani beraninya putra dari raja iblis memasuki wilayahku" bentak ratu Calesthane


Livy bersujud di hadapan ratu Calesthane.


"Allard menunduk hormat " Ratu Calesthane...saya Allard pangeran ketiga Diabolus, saya minta maaf atas kelancangan saya... tapi izinkan saya bersama Livy, saya benar benar mencintai Livy, saya tidak akan mengganggu para peri lain"


"Sesuai perjanjian, siapapun yang melanggar itu berarti mereka menyatakan perang"


Ratu Calesthane yang marah langsung menampakkan sayap bulu putih gagahnya dan menghempaskan Allard hanya menggunakan sayapnya. Allard terlempar keluar sampai sampai rumah Livy berlubang.


"ALLARD...!!!" teriak Livy.


Ratu Calesthane melompat turun dan terus menghempaskan Allard berkali kali, namun Allard hanya diam.


"Ratu Calesthane... kumohon jangan" teriak Livy yang tidak bisa berbuat apa apa karna kedua tangannya dipegangi para pengawal.


Ratu Calesthane terbang keatas dan menyiapkan sihirnya di kedua tangannya.


Allard hanya memandang mata Livy.


Livy menggigit tangan para pengawal dan mengeluarkan sayapnya, ia terbang melesat kearah Allard membuat sihir ratu Calesthane mengenainya.


"No..Livy!!!"teriak Allard.


Ratu Calesthane terkejut dan menghentikan sihirnya.


Allard yang melihat Ratu Calesthane terkejut langsung mengeluarkan sayapnya dan membawa Livy pergi.


"Kau takkan bisa membawa peri ku pergi dari sini iblis"Bentak ratu Calesthane dan mengejar Allard.


Allard terbang dengan sangat cepat, sedikit lagi ia sampai di perbatasan namun ratu Calesthane melemparkan semacam pedang yang terbuat dari sihir dan menancap tepat di punggung kanan Allard.


Allard mengerang kesakitan, dengan sisa tenaganya ia melesat jauh melewati perbatasan.


Allard berhenti dibelakang batu besar, ratu Calesthane tak lagi mengejarnya.


Livy membuka matanya dan merasakan sakit dipunggungnya.


Livy melihat pedang tertancap di punggung Allard.


"Aku akan melepasnya"


Livy mencabut pedang sihir itu dan menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan luka Allard.


Namun kondisi Livy yang juga terluka tidak dapat menggunakan sihirnya dengan maksimal.


"Aku hanya menghentikan pendarahannya, aku tidak bisa mengeluarkan sihirku lagi...."


Allard memeluk Livy.


"Aku peri yang sangat lemah..."Isak Livy.


"Tidak... ini salahku, maafkan aku Livy... karna aku kau terluka.. maafkan aku"


Allard mencium kening Livy.


"Aku benar benar mencintaimu Livy"


Allard membelai pipi Livy, Livy tersenyum kecil.


"Aku juga mencintaimu"