
"Cedric.. apa yang kau lakukan?"
Livy tidak bisa melepas pelukan Cedric.
"Livy... sepertinya aku menyukaimu"
Livy terdiam seketika, tak percaya dengan apa yang ia dengar. Cedric melepas pelukannya dan duduk di batu besar.
"Livy... aku tidak akan memaksamu..aku hanya perlu membuatmu jatuh cinta padaku dan memilihku"
"Cedric... yang aku cintai hanya Allard, bagaimana bisa kau jatuh cinta padaku.."
"Aku tidak peduli... setidaknya aku akan mencoba agar kau mencintaiku"
Livy terdiam, kebaikan Cedric padanya selama ini karna Cedric menaruh rasa suka padanya.
"Ayo kembali ke istana,Allard pasti mencariku... aku tidak ingin kalian bertengkar"
"Tidak apa apa, lagipula aku tidak akan segan bertarung melawan adikku sendiri... asal aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan"
Livy mulai khawatir, Cedric yang sekarang terlihat berbeda, tatapan matanya juga berubah.
"Baiklah... aku bisa pulang sendiri"
Livy mengeluarkan sayapnya, namun Cedric memegang tangan Livy.
"Tunggu... biarkan aku saja"
Sepanjang perjalanan pulang kembali ke istana, mereka diam tanpa berbicara.
Mereka hampir sampai, namun tiba tiba seorang pria yang terbang melesat dengan cepat mendaratkan pukulannya di wajah Cedric yang menyebabkan Livy terjatuh, namun pria itu menangkap Livy.
"Allard..."
Allard menggendong Livy kembali ke istana.
Allard menjatuhkan Livy ke ranjangnya.
"Jadi benar kalian pergi berdua"
"Allard tenanglah... aku dan Cedric tidak melakukan apapun"
Wajah Allard terlihat marah.
Sesaat sebelumnya, ia mencari Livy ke kamarnya untuk mengajaknya berlatih.Raine menghampirinya dan mengatakan bahwa Cedric masuk kekamar Livy dan menggendong Livy pergi keluar istana.
Allard duduk diatas tubuh Livy dengan tatapan kesal, ia merobek baju Livy.
Livy ketakutan, ia menggelengkan wajahnya "Tidak... sudah kubilang kita tidak melakukan apa apa."
Allard membelai perut rata Livy.
"Kau tidak berbohong padaku kan? kau tidak melindunginya kan Livy?"
Livy tersenyum, menarik tangan Allard dan menaruhnya di pipinya.
"Aku milikmu, aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuhku"
Allard tersenyum dan membenamkan wajahnya di leher Livy.
Brakk...
Sthynx membuka pintu kamar Allard dengan paksa.
"Allard.. kau lama....... sekali"
Keadaan menjadi canggung seketika, Sthynx menatap pemandangan mesum didepannya.
Wajah Livy memerah "I... ini bukan seperti yang kau pikirkan Sthynx... Allard cepat turun"
"Kalau aku turun Sthynx akan melihat tubuhmu"
Sthynx keluar dari kamar Allard dengan wajah yang sedikit merona.Ia sendiri tidak pernah berpacaran dengan seorang wanita,melihat sepasang kekasih berciuman saja sudah membuatnya canggung.
Cedric berbaring di ranjangnya, saat ia memeluk Livy, ia merasakan jantungnya berdegup dengan kencang yang artinya ia menyukai gadis itu.
Raine terbang dan duduk di jendela Cedric.
"Kau sudah memikirkannya?"
"Ya.."
"Apa kau setuju?"
"Aku setuju...asal kau jangan sampai menyakiti Livy, sekali saja kau menyakitinya.. aku akan mematahkan kedua sayapmu"
Raine tertawa dan pergi meninggalkan Cedric.
Raine duduk didepan meja riasnya memandang wajah cantiknya.
"Allard... aku tidak peduli kalau peri sialan itu terluka atau bahkan mati... asalkan kau menjadi milikku"