Break the Limit

Break the Limit
Mundur



Letitita dan Livy duduk dihalaman belakang sambil memakan apel yang baru saja ia petik.


"Aku ambilkan minum dulu, tunggu sebentar disini" sahut Livy yang dibalas anggukan oleh Letitita.


Dikejauhan Letitita melihat seorang pria berambut putih panjang sedang menggunakan sihirnya. Letitita menghampiri pria itu.


"Hai" sapa Letitita.


Pria itu terlihat tidak senang, ia menghampiri Letitita dengan tatapan tajam.


"Siapa kau? kenapa bisa ada di sini?"


"emm maaf, aku teman Livy"


Pria itu tersenyum, Letitita terpesona dengan ketampanannya.


"Jadi tikus kecil itu membawa teman tikusnya kemari"


"Apa maksudmu?"


"Lupakan saja"


Letitita menghentikan pria itu yang hendak pergi.


"Tunggu"


"Apa?"


"Kau iblis... kenapa seorang iblis bisa menggunakan sihir?bukankah iblis tidak bisa menggunakan sihir?"


Pria itu tersenyum "Kenapa semua peri menyebalkan?"


Livy berlari menghampiri Letitita.


"Letitita.. apa kau tidak apa apa? apa Sthynx menyakitimu?"


Sthynx menatap Livy dengan sinis.


Letitita tersenyum "Oh.. jadi dia pangeran Sthynx itu...aku tidak apa apa"


"Syukurlah, ayo kembali"


Letitita menjabat tangan Sthynx dengan paksa.


"Senang berkenalan dengan anda pangeran Sthynx, namaku Letitita.Anda sangat tampan tapi juga sangat dingin... sampai bertemu lain waktu"


Letitita dan Livy pergi meninggalkan Sthynx yang masih terdiam ditempatnya.


Sudah dua jam Letitita berada di istana Diabolus, Livy dan Allard segera mengantar Letitita kembali ke Mediocris.


Livy memeluk Letitita sebelum kembali ke istana.


Allard menggendong Livy dan membaringkannya ditempat tidur, ia juga berbaring disebelah Livy sambil memainkan rambut Livy yang terurai.


Keesokan harinya Livy berjalan keluar dari istana, ia duduk di bangku.


"Livy"


"Ya?"


"Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu,aku akan merebut Allard darimu"


Livy tersenyum "Coba saja"


"Oke"


Raine pergi meninggalkan Livy yang tetap duduk tenang.


Livy tak habis pikir mengapa Raine berkata seperti itu, yang pasti ia percaya bahwa Allard hanya mencintai dirinya.


Cedric memandangi Livy dari kejauhan, ia masih ragu akan rencananya dengan Raine.


Cedric menghampiri Livy yang terlihat tidak suka akan kedatangannya.


"Livy... aku ingin berbicara padamu"


"Apa lagi?"


"Bisakah kau ikut denganku?"


"Bicara disini saja"


Cedric duduk disebelah Livy.


"Maafkan aku...aku tau aku salah, tapi aku memang benar benar menyukaimu"


"Aku hanya menyukai Allard Cedric"


"Ya. aku tau, aku akan menyerah karna aku tidak mau kau menjauhiku"


Livy tersenyum "Aku tidak akan menjauhimu"


Cedric hanya tersenyum, ia hanya perlu memikirkan bagaimana caranya agar Raine tidak menyakiti Livy.


Cedric menghampiri Raine ke kamarnya.


"Ada perlu apa?"


"Raine.. sebaiknya kau jangan mendekati Livy"


"Hahahaaha... ada apa denganmu?bukankah kau ingin merebutnya?"


"Aku tidak akan memaksanya untuk menjadi milikku"


"Terserah kau saja... aku tetap akan menjadikan Allard milikku"


"Aku tidak peduli itu asal kau jangan menyentuh Livy atau aku akan membunuhmu"