Break the Limit

Break the Limit
Mencari tau



Livy dan Allard kembali ke istana, Livy merasa canggung memandang wajah Allard.


Allard memeluknya dari belakang.


"Ada apa?... apa kau merasa kesakitan?"


Livy menggeleng dengan cepat "Bisakah kau jangan mengungkitnya..."


Allard tertawa "Emm ya responmu sangat lucu, ini juga pertama kalinya bagiku"


"Benarkah? kau pasti bohong"


"Aku tidak berbohong, ayolah apa kita akan melakukannya lagi malam ini" goda Allard sambil menciumi telinga Livy.


Livy menginjak kaki Allard.


"Ah.. hei ..."


"Dasar iblis mesum, aku akan menemui Cedric dan bilang padanya kalau aku tidak jadi keluar"


Livy meninggalkan Allard dan pergi ke belakang istana.


Ia melihat Cedric berbaring di bawah pohon sambil membaca buku.


"hei" sapa Livy


"mmm"


Livy duduk disebelah Cedric "Maaf tadi pagi aku tidak menemuimu"


"Tidak masalah, apa pangeranmu cemburu?"


"Awalnya... tapi sekarang tidak lagi"


"Tidak apa apa.. lain kali saja kita keluar dan melanjutkan latihanmu"


"Baiklah, terimakasih Cedric"


Livy kembali kekamarnya, dan sesaat kemudian seorang wanita menghampiri Cedric.


"Hmm.. tampaknya kau juga jatuh cinta pada gadis itu pangeran Cedric...."


Cedric mendengus kesal "Pergilah Raine"


Raine duduk disebelah Cedric,


"Bagaimana kalau kita bekerja sama?"


"Kerja sama apa?"


"Aku akan membantumu mendapatkan Livy, sedangkan kau bantu aku mendapatkan Allard''


Cedric tertawa kecil "cih... dasar,sudahlah aku pergi dulu"


" baiklah... tolong pikirkan tawaranku"


Cedric duduk di jendela kamarnya sambil memikirkan perkataan Raine.Ia masih belum pasti dengan perasaannya kepada Livy dan ia akan segera mencari tau.


Allard dan Livy berbaring di ranjangnya.


"Ya.. namanya Raine, dia temanku dari kecil yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, memangnya ada apa? apa dia mengganggumu?"


"Tidak... aku hanya bertanya saja"


Tok... tok..


Livy membuka pintu, Sthynx berdiri dihadapannya.


"Allard...beberapa hari ini aku membiarkanmu bersantai dengan wanitamu....kau juga melewatkan latihanmu"


"Sebentar lagi aku kesana"


"Sekarang juga kau harus latihan bersamaku, jangan jadi pangeran yang pemalas.. kau sudah tertinggal jauh dariku, cepat bangun atau aku akan menghukummu"


Allard mencium bibir Livy sekilas dan dengan malas mengikuti Sthynx ke tempat berlatih.


Sthynx dan Allard berlatih kecepatan sayap mereka dan kemampuan berpedangnya.


Untuk masalah teknik Sthynx lebih unggul karna ia lebih cerdas dalam memikirkan strategi, sedangkan Allard unggul dalam kecepatannya, itu sebabnya saat Allard masuk ke daerah Mediocris untuk menemui Livy, para penjaga tidak ada yang menyadari kedatangannya.


Setiap pangeran memiliki bakat tersendiri, Cedric yang lebih cenderung menguasai segala jenis senjata, menolak untuk berlatih bersama mereka, ia lebih memeilih berlatih diluar istana sendirian.


Cedric mengetuk pintu kamar Allard, terlihat Livy membuka pintu dengan wajah mengantuk.


"Hmm Cedric... ada apa?"


Cedric memandang Livy tanpa berkata apapun membuat Livy bingung.


"Cedric?"


"Livy..."


Dengan tiba tiba Cedric menggendong Livy dan membawanya pergi keluar istana.


"Hey... Cedric... kau mau membawaku kemana?''


"Berpegangan atau kau akan jatuh"


Cedric meregangkan sayap kokohnya dan melesat dengan cepat.


Mereka terbang melewati rumah para penduduk, Livy tak berani membuka matanya karna Cedric terbang melesat dengan sangat cepat.


Mereka turun disebuah pondok kecil yang berada di gunung.


"Dimana ini Cedric.. kenapa membawaku kemari?"


"Aku hanya ingin mengetahui sesuatu yang masih belum pasti"


"Sesuatu apa?"


Cedric tak menjawab,Livy melihat sekeliling, pemandangan yang memperlihatkan seluruh area Diabolus.


Cedric berdiri dibelakang Livy, dipeluknya Livy yang sangat cantik baginya.


Livy terkejut bukan main


"Cedric.. apa yang kau lakukan"