Break the Limit

Break the Limit
Sihir Livy



Keesokan harinya Raja Vigor memanggil Allard dan Livy ,ia mengatakan bahwa Ratu Calesthane ingin Livy kembali ke Mediocris, ada sesuatu yang ingin Ratu bicarakan.


Allard mengantar Livy ke perbatasan sungai obice.


"Tidak perlu menjemputku nanti, aku akan kembali sendiri saja"


"Kau yakin? kau yakin tidak akan tersesat?"


Livy mengangguk pasti, Allard mencium bibir Livy sebelum ia pergi.


Para peri memandang Livy yang berjalan menuju istana, terlihat Letitita berlari kearahnya dan memeluknya.


"Livy... aku merindukanmu" rengek Letitita.


"Yaa.. aku juga merindukanmu, aku harus menemui Ratu Calesthane.. setelah ini aku akan menemuimu"


"Umm baiklah, aku akan menunggumu di ayunan"


"Baiklah"


Ratu Calesthane tersenyum lembut menyambut kedatangan Livy yang terlihat gugup.


Livy menunduk hormat "Ratu Calesthane"


"Livy... lama tidak berjumpa denganmu, apa kau baik baik saja?"


"Ya Ratu Calesthane, saya baik baik saja..."


Ratu Calesthane mengambil gelas berwarna emas berisi air putih.


"Livy... maafkan aku telah mengambil sihirmu, kukira dengan mencabut sihirmu, kau akan pergi dari Diabolus dan kembali kemari... tapi aku salah, aku sadar seharusnya aku tidak melarangmu mencintai siapapun juga"


Livy tersenyum "Tidak apa apa Ratu Calesthane, lagipula itu bukan sepenuhnya kesalahan Ratu"


Ratu Calesthane memberikan segelas air itu kepada Livy.


"Minum ini... dan kekuatanmu akan kembali"


Livy terkejut dengan perkataan Ratu Calesthane, air mata mengalir dipipinya.


"Kenapa menangis Livy?"


Livy segera menghapus air matanya


"Tidak.. saya hanya merasa senang... terimakasih Ratu Calesthane.. setidaknya saya tidak akan menjadi peri yang tidak berguna lagi"


Livy meminum airnya, cahaya hijau dengan kelap kelip mengelilinginya dan masuk kedalam tubuhnya.


Livy mencoba menggunakan sihir dari tangannya, dan muncul cahaya hijau yang berarti sihirnya telah kembali.


Livy memeluk Ratu Calesthane.


"Terimakasih banyak Ratu Calesthane"


Ratu Calesthane tersenyum.


Livy menghampiri Letitita yang menunggunya di ayunan.


"Apa sudah selesai?"


"Ya... Ratu Calesthane mengembalikan sihirku"


"Syukurlah...apa kau akan kembali ke Diabolus?"


"Aku ingin bertemu pangeran iblis mu itu.. apa dia sangat tampan sampai kau tergila gila padanya?"


Livy mengangguk "Ya.. dia sangat tampan.. dia punya 2 orang kakak yang juga sama tampannya"


"Apa disana tempatnya indah atau menyeramkan?"


"Ada tempat yang indah dan ada juga yang menyeramkan... apa kau mau berjalan jalan sebentar?"


"Bolehkah?"


"Hanya sebentar, aku akan mengantarmu kembali kemari"


"Baiklah"


Livy dan Letitita berjalan menuju sungai Obice, untuk pertama kalinya Letitita menyebrangi sungai itu dan menginjakkan kakinya ke wilayah Diabolus.


Livy dan Letitita mengeluarkan sayapnya, mereka terbang melewati hutan yang menyeramkan.Letitita tidak bisa berhenti menengok ke kanan kiri melihat pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.


Dari kejauhan terlihat istana yang besar dan terlihat menakutkan.Letitita berhenti, ia merasa takut untuk masuk kedalam istana.


"Sebaiknya aku kembali saja"


"Kenapa? sebentar lagi kita sampai"


"Aku hanya merasa takut"


Tiba tiba seorang pria berada dibekang Livy dan membuat Letitita terkejut bukan main.


"Allard.. kau membuat temanku ketakutan"


Allard tersenyum.


"Maafkan aku, aku hanya ingin mengejutkanmu saja"


"Jadi.. ini pangeran yang sudah membuatmu tergila gila?"sahut Letitita yang membuat wajah Livy memerah karna malu.


"Namaku Allard" sambil menjulurkan tangannya.


Letitita menjabat tangan Allard tanpa senyuman sedikitpun "Letitita.... apa kau benar benar mencintai Livy?"


"Ya... kenapa?"


Letitita terbang mengitari Allard, memandang setiap bentuk tubuh Allard.


"Ya.. kau memang tampan.. kukira iblis itu sangat jelek dan menakutkan. Wah.. sayapmu hitam legam dan sangat kokoh... ukurannya lebih besar dari sayap kita Livy"


Livy menarik tangan sahabatnya "Oke.. berhenti berputar putar.."


Allard tertawa kecil "Ayo masuk ke istana"


"Tidak perlu, aku harus kembali"


Livy menggenggam tangan Letitita.


"Ayolah.. hanya beberapa jam saja temani aku, aku dan Allard akan mengantarmu pulang nanti"


Allard mengangguk setuju.


Letitita menarik hidung Livy gemas.


"Ya.. ya.. baiklah"