Break the Limit

Break the Limit
Livy didunia Diabolus



Livy membuka matanya, punggungnya terasa pegal.Livy teringat semalam ia menyemprotkan ramuan tidur ke wajah Allard, Livy tidur dengan posisi duduk di depan meja tempat ia meracik obat.


Livy menoleh ke tempat tidurnya, sialnya dia Allard ternyata masih tertidur di ranjangnya.


"sial sekali hidupku... kenapa iblis mesum ini masih saja tidur"gumam Livy.


Livy mendekati Allard, ia terkejut sampai menabrak kayu dibelakangnya ketika Allard membuka matanya.


"Siapa iblis mesum itu?" sahut Allard


Livy terdiam, Allard meregangkan otot ototnya.


"Berani sekali kau membuatku pingsan huh?"


Livy tersenyum dengan penuh paksa "Tidak... aku hanya membuatmu tidur saja"


Allard duduk dihadapan Livy


"Hmm padahal tinggal sedikit lagi... pintar juga kau ini"


"Jadi.... bisakah kau pergi dari sini sekarang ?"


Allard memeluk Livy dengan erat, dalam sekejab mereka menghilang.


Livy membuka matanya, ia kini berada diatas pohon besar yang sangat tinggi dan rimbun.


"Dimana ini?" tanya Livy


"Diabolus... "


"APA!!!! cepat pulangkan aku... aku tidak mau mati disini"


Allard menyentuh pipi Livy "Ada aku yang melindungimu.. tidak usah takut, tunggulah disini aku akan membawakanmu makanan"


Allard mengeluarkan sayap hitamnya, Livy menarik baju Allard.


"Biarkan aku ikut denganmu... aku tidak mau sendirian disini"


Allard tersenyum "kalau begitu pegangan yang erat"


Allard menggendong Livy yang terasa ringan baginya, Livy melingkarkan tangannya di leher Allard.


Allard membawanya terbang menyusuri hutan Tristis, hutan yang begitu suram tanpa adanya tanda tanda makhluk hidup disana.


Allard melihat pohon apel ditengah hutan, ia segera terbang kesana.


"Petik apel itu"


Livy menjulurkan tangannya dan memetik dua buah apel.


"Aku dapat"Sahut Livy sambil tersenyum.


Dengan sengaja Allard melepas Livy, Livy berteriak ketika ia terjun jatuh kebawah.


Livy menutup matanya.


Bugh....


'Eh ?tidak sakit' batin Livy.


Allard menangkap Livy dari bawah sambil tertawa melihat ekspresi ketakutan Livy.


Livy mendorong dada bidang Allard.


"Itu sama sekali tidak lucu"


Livy tak memperdulikan perkataan Allard, ia segera menggigit apelnya.


"Hey.. kalau kau tidak mencuci apel itu, kau akan mati keracunan"sahut Allard


Dengan spontan Livy memuntahkan apel yang sudah ia kunyah.


Lagi lagi Allard tertawa terbahak bahal.


"aku hanya bergurau saja... dan kau benar benar percaya"


Livy membuang apelnya dan berjalan pergi.


Allard mengikuti Livy dari belakang.


"Hey... aku minta maaf, jangan marah oke?"


Livy tetap berjalan tanpa menjawab perkataan Allard.


Allard menarik tangan Livy dan menggendongnya dengan paksa, Allard mengeluarkan sayapnya lalu terbang kembali ke pohon tempat ia membawa Livy.


Livy duduk diatas pohon itu sambil memandangi sekitar, Allard berbaring tidur dipangkuan Livy.


"Aku menyukaimu Livy".


Wajah Livy merona "Berhenti menggodaku"


Allard menggenggam tangan kiri Livy.


"Aku serius, aku ingin membawamu ke istanaku, tapi aku takut itu akan menimbulkan masalah"


"Kalau begitu jangan menyukaiku... dengan begitu tidak akan ada masalah. Kau cukup berhenti menemuiku, dengan begitu kau akan bisa melupakanku"


Allard segera berdiri dengan kesal.


"Kenapa kau malah berbicara seperti itu!! apa kau tidak ada rasa suka sedikitpun padaku Livy" bentak Allard dengan wajah marah.


Livy terdiam memikirkan perkataan Allard, ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya, hanya saja ia sangat senang ketika bertemu dengan Allard walaupun terkadang Allard menjengkelkan.


Allard memeluk Livy dan dengan sekejab mereka berada didalam rumah Livy.


Allard masih memasang wajah marahnya.


"Aku pergi sekarang"Sahut Allard dengan wajah datar.


Livy menarik lengan baju Allard.


"Maafkan aku"sahut Livy.


"Untuk apa?"


Livy menunduk terdiam, ia sangat takut untuk memandang wajah Allard saat ini.


Allard menyentuh dagu Livy.


"Aku harus pulang sekarang, sepertinya kakak pertamaku marah.jangan lupa makan, tadi kau membuang apelmu"


Livy mengangguk pelan, Allard memeluk Livy dan mencium kening Livy dengan lembut, Livy balas memeluk Allard.


Allard tersenyum senang ketika Livy menerima pelukannya.


"Aku pergi sekarang"