Break the Limit

Break the Limit
Raja Vigor dan Ratu Calesthane



Ratu Calesthane dan para penjaga nya berdiri di perbatasan sungai begitupula Raja Vigor yang hanya bersama Sthynx Cedric Allard dan juga Livy.


Livy baru pertama kali ini melihat seorang raja Iblis dengan jarak sedekat ini, tanduk dikepalanya menjulang keatas bahkan lebih panjang dan tajam daripada para pangeran, sayapnya terlihat kokok dan menakutkan, wajah raja Vigor sangat menyeramkan, taring panjang mata merah menyala keseluruhan dan kulit badannya berwarna coklat kemerahan.


"Ayahmu terlihat sangat menyeramkan... lalu kenapa para pangeran terlihat tampan?? bukankah seharusnya wajah kalian mirip dengannya?"Bisik Livy ke telinga Allard


"Ayahku juga tampan" balas Allard.


Livy hanya terdiam.


"Vigor!! long time no see" sahut ratu Calesthane.


Raja Vigor tersenyum "Calesthane... kecantikanmu masih sama seperti dulu"


"Cukup basa basinya, apa tujuanmu memanggilku kemari?"


"Salah satu perimu berada diwilayahku... bahkan memiliki hubungan dengan putraku"


"Kembalikan dia padaku atau aku tidak akan segan melawanmu"


"Biarkan saja mereka Calesthane!! Berhentilah berhentilah memikirkan masa lalu"


"Jangan ingatkan aku tentang masa lalu yang menjijikkan itu!!!" bentak ratu Calesthane yang terlihat marah.


Livy penasaran tentang masa lalu itu, masa lalu yang sampai membuat ratu Calesthane marah seperti ini.


"Jangan menghalangi kebahagiaan mereka Calesthane... "


Raja Vigor meninggikan suaranya "Tidakkah kau ingat penderitaanku Calesthane??? aku lakukan semua keinginanmu dan kau malah mengkhianatiku!!!"


Terlihat air mata mengalir di pipi ratu Calesthane.


Raja Vigor merubah wujudnya, Livy terkejut dengan wajah raja Vigor yang tampan rambut hitam panjang terurai serta kulit putih pucat.


Raja Vigor melepas jubah hitamnya dan memperlihatkan bekas luka didadanya.


"Aku masih mengingat rasanya waktu kau berpura pura mencium bibirku dan kau tusuk dadaku demi permata yang ada didalam tubuhku.... kau membuat penghalang agar aku tidak bisa menemuimu Calesthane ku yang licik"


"Kalau aku tidak melakukannya, kau akan membantai seluruh peri dan menguasai semuanya"


Raja Vigor teesenyum kecil "itu yang dikatakan ibumu.... dan nyatanya... ibumu yang menggunakan permata itu untuk memperkuat dirinya, sudahlah Calesthane... ini permintaan terakhirku, Permata itu kutukar dengan salah satu perimu untuk putraku... "


Livy berlutut dihadapan ratu Calesthane.


"Ratu Calesthane... maafkan aku, tapi aku mohon ratu mengizinkanku bersama pangeran Allard"


Ratu Calesthane tetap terdiam.


Livy menunduk pasrah, jikalau ratu menolaknya, ia tetap membulatkan tekadnya untuk pergi bersama Allard walaupun ratu membunuhnya.


"Baiklah... kau boleh bersama dengan pangeranmu, tapi aku mencabut semua sihirmu"


Livy terdiam kaku mendengar perkataan ratu Calesthane, walaupun ia senang diperbolehkan bersama Allard.. namun peri tanpa sihirnya bukanlah seorang peri.


Livy menahan emosinya dan berterimakasih kepada ratu Calesthane.


Livy dan Allard pergi meninggalkan mereka, Allard menggendong Livy menuju istananya.


"Bisakah kita berhenti sebentar?" pinta Livy.


Allard segera turun, mereka duduk dibawah pohon.


Allard membelai pipi Livy "Ada apa? apa yang kau pikirkan?"


Livy bersandar di dada bidang Allard.


"Ratu mencabut sihirku...aku bukan lagi seorang peri.. aku tidak akan bisa mengobati lukamu lagi, aku akan menjadi peri yang tidak berguna Allard" ujar Livy dengan suara parau.


Allard memeluk Livy "Apa kau menyesal?... maafkan aku Livy"


"Aku tidak menyesal... hanya saja.. aku merasa tidak pantas berada disampingmu... sedangkan kau adalah seorang pangeran"


Allard mencium bibir Livy dengan lembut dan segera menggendongnya, membawanya pergi ke istana.