Break the Limit

Break the Limit
Allard



Allard berbaring di tempat tidurnya, semenjak pertemuan pertamanya dengan Livy, ia selalu pergi dari sana untuk bertemu atau sekedar memandang Livy dari kejauhan.


Semua peri memiliki pesonanya masing masing, tak heran kalau Allard terpesona dengan kecantikan Livy yang terlihat sangat cerah dan memukau.


Aroma mawar khas Livy, bibir mungil merahnya.Di dunia iblis juga banyak wanita cantik, namun karna Livy adalah seorang peri, kecantikannya terlihat berbeda.


Tok Tok Tok


"Masuk"


Seorang pria berambut panjang putih masuk menghampiri Allard, dia adalah Sthynx kakak Allard atau pangeran pertama.


"Allard.. ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu"


Allard tetap beebaring tanpa memandang Sthynx."Apa?"


"Beberapa hari ini kau selalu keluar dari istana tanpa sepengetahuan siapapun. Ada yang melihat, kau selalu pergi ke sungai Obice... apa itu benar?"


Allard terdiam sesaat.


"Ya... memangnya kenapa? lagipula aku tidak menyebrang... aku hanya suka tidur dipohon pohon sana karna disana sepi"


Sphynx membalikkan badannya "Jangan sampai kau berbohong"


Setelah Sphynx keluar dari kamarnya, Allard mengambil pedangnya dan berlatih di belakang istana.


Raine, seorang wanita iblis cantik berambut hitam panjang. Matanya kuning seperti ular.


Raine teman masa kecil Allard, Allard sudah menganggap Raine sebagai adiknya sendiri sedangkan Raine tidak, ia menyukai Allard sejak kecil.


Raine menghampiri Allard


"Allard"


"Humm??"


"Setelah berlatih, apa kau mau ikut denganku?"


"Kemana?"


"Hutan Tenebris, kudengar ada monster besar yang tinggal disana.. bagaimana kalau kita berlomba ?"


Allard tersenyum "Baiklah aku akan menemuimu 1 jam lagi"


Livy_


Livy memetik beberapa daun Pharmacum, daun ini digunakan untuk pereda nyeri.


Hari ini Livy memetik banyak dedaunan tanpa gangguan apapun.


Hari sudah menjelang malam, setelah keranjangnya penuh Livy kembali ke rumahnya.


Livy merendam daun daun yang ia ambil agar bersih, setelah direndam ia menumbuk daun Pharmacum dengan beberapa daun yang lain.


Setelah jadi, ia menambahkan sihirnya dan menaruh ramuan itu diatas mejanya.


Livy mengikat rapi rambutnya


"Livy..." teriak Letitita memanggilnya dari bawah.


"Aku datang.."


Mereka segera pergi ke kolam Lacus, kolam tempat para peri mandi.


Air kolam itu hangat dan jernih, kolam itu dikelilingi pagar kayu besar agar saat berendam tidak terlihat.


Livy dan Letitita melepas bajunya, mereka berendam disana.


"Aahhh .... memang kalau berendam malam hari kolamnya akan sepi" sahut Letitita sambil membasahi rambutnya.


Livy membasahi rambut coklatnya, lalu menutup matanya sambil bersandar di bebatuan.


Ia teringat Allard tiba tiba, ia merasa Allard sedang melihatnya.


Perasaannya semakin yakin, udara jadi dingin.


"Livy... kenapa malam ini sangat dingin?"


"Ayo pulang saja... kita berendam besok siang saja"


"Ya kau benar"


"Aku pulang sendiri saja, kau hati hati dijalan ya" sahut Livy sambil mengenakan baju putih tipisnya.


Livy merasakan perasaan tidak enak, ia berlari kecil menuju rumahnya.


Livy segera memanjat dan masuk kedalam rumah.Ia segera mengunci pintunya.


Livy menghela nafas lega.


"Apa terjadi sesuatu?"


Livy segera menoleh, ia melihat Allard dengan santainya berbaring di tempat tidurnya.


Livy menghampiri Allard.


"Apa yang kau lakukan disini.. bagaimana caranya kau bisa masuk kesini?"


Allard tersenyum "itu sangat mudah... seharian ini aku sibuk, dan saat menunggumu di sungai.. kau malah tidak datang..aku mengikuti aromamu, dan aku yakin rumah ini rumahmu"jelas Allard dengan santai.


Livy menghela nafas dengan kesal.


"Cepat pulang, aku tidak mau terjadi sesuatu disini, akan sangat berbahaya kalau para peri lain melihatmu"


Allard mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah batu kristal berwarna merah darah.


"Aku mengambilnya langsung di hutan monster, ini untukmu"


Livy tak pernah melihat batu kristal berwarna seperti ini sebelumnya, ia mengambil kristal itu dan memandanginya.


"Kau menyukainya ?"


Livy mengangguk sambil terus memperhatikan kristal itu.


Allard menarik Livy, Livy duduk di pangkuan Allard.


"Jadi.. bisakah kau membantuku menyembuhkan lukaku?"


Livy menatap mata Allard yang warnanya sama dengan kristal ini.


"Hah ?"


Allard melepas kancing bajunya dan memperlihatkan bekas tusukan di perutnya.


Livy segera turun dari pangkuan Allard dan melihat luka Allard.


"Luka ini tidak parah, berbaringlah"


Setelah Allard berbaring, Livy membersihkan luka Allard menggunakan air lalu menyentuh luka itu.


Allard melihat tangan Livy mengeluarkan sinar putih, ia merasakan lukanya sedikit demi sedikit tak sakit lagi.


Wajah Livy terlihat sangat cantik terkena pantulan sinarnya.


"Selesai" sahut Livy.


Allard menarik Livy, Livy terjatuh diatas tubuh Allard. Mata mereka saling pandang.


Allard menyentuh lembut pipi Livy lalu mencium bibir Livy dengan lembut, Allard memeluk pinggang ramping Livy.


Baju Livy yang tipis membuat setiap lekukan tubuhnya terasa.


"Kau harus pergi sekarang Allard" sahut Livy


"Ya... setelah aku memilikimu"