
Livy terbangun dari tidurnya ketika seseorang membelai rambutnya, ia membuka matanya dan melihat pangeran tampan dihadapannya.
"Allard?... apa kau sudah bangun dari tadi?"
Allard hanya diam sambil terus membelai rambut Livy yang masih berbaring.
Livy duduk dan meminum segelas air di meja, kali ini Allard tidak lagi membelai rambutnya namun masih menatapnya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" sahut Livy sambil menepuk nepuk pelan pipi Allard.
"Apa kau akan berlatih lagi?"
"Tidak... hari ini cedric mengajakku keluar istana untuk membeli senjata yang cocok untukku"
"Kau mau?"
Livy mengangguk '' Ya... kurasa lebih bagus jika aku memilih senjata ku sendiri"
Allard melepas genggaman tangan Livy dengan kasar.
" Kau tidak pernah mau kuajak keluar.. dengan banyak alasan.. sekarang kau mau kalau Cedric yang mengajakmu ?"
Livy sedikit takut ketika Allard marah, ia menyentuh lengan Allard dan menjelaskannya dengan lembut.
"Allard... bukannya aku lebih suka bersama Cedric.. aku hanya takut kalau diluar sana banyak yang membenciku.. itu saja. Lagipula aku juga mau mengajakmu, kita pergi keluar bersama"
"Kau Bohong!!! bahkan kau juga menunggu Cedric di dalam kamarnya, atau jangan jangan kalian sudah tidur bersama ?"
Plakk...
Livy menampar pipi Allard dengan keras, air mata mengalir di pipinya. Ia tidak menyangka Allard mencurigainya telah tidur bersama Cedric, sedangkan ia masih menjaga kesuciannya walaupun harus berada dalam satu kamar bersama Allard.
Allard memeluk Livy seketika, tidak tega melihat Livy menangis.
"Maafkan aku... aku berlebihan, aku hanya tidak suka kau terus bersama Cedric"
"Aku tidak ada rasa cinta kepada Cedric... selain kau, hanya dia yang baik padaku, kalau aku menjauhi Cedric lalu aku harus berteman dengan siapa?.. lagipula aku tidak mau menjadi wanita yang tidak berguna untukmu"isak Livy sambil menenggelamkan wajahnya ke dada Allard.
Allard menghapus air mata di pipi Livy dan mencium kening Livy dengan lembut.
''Maafkan aku.. seharusnya aku lebih mempercayaimu, kau boleh pergi kalau kau mau"
Livy menggeleng pelan "Tidak perlu.. aku bisa menundanya"
"Aku tidak apa apa, pergilah"
"Tidak mau... umm bagaimana kalau kau bawa aku ke danau atau kolam, apa disini ada ?"
Allard menggendong Livy keluar dari istana, sudah menjadi kebiasaan Livy digendong Allard setiap kali keluar meskipun ia sendiri punya sayap. Mereka terbang melewati hutan dengan pohon yang daunnya berwarna orange kecoklatan.
Livy memandang wajah Allard yang terlihat sangat tampan dan mata merahnya yang menatap lurus kedepan.
"Apa aku setampan itu sampai kau melihatku tanpa berkedip?" sahut Allard
Wajah Livy merona, ia mengakui Allard memang sangat tampan dan mempesona.
Allard tersenyum bangga.
Mereka sampai di sebuah sungai yang bersih dengan pohon pohon berdaun lebat.
"Sungai ini dalam, jadi kau bisa berenang disana"
"Ya ampun aku lupa membawa baju ganti"
"Kau bisa berenang telanjang, tidak ada orang disini"
"Yaa tapi ada kau...''
Wajah Livy memerah ketika Allard membuka bajunya, Livy segera menutup wajahnya ketika Allard juga membuka celana hitamnya.
"Hey.. apa yang kau lakukan Allard.. pakai bajumu kembali"
Byurr....
Livy membuka matanya, ternyata Allard sudah masuk kedalam sungai.
''Ayo cepat.... airnya tidak terlalu dingin, apa kau masih saja malu? lihat, ini juga dalam... badanmu tidak akan terlihat"
Livy bersembunyi dibalik pohon besar dan membuka bajunya, badannya tidak telanjang sepenuhnya, ia masih memakai dalaman tipis berwarna putih yang hanya menutupi bagian depan tubuhnya saja.
"Aku akan kesana.. bisakah kau menghadap belakang?"
"Ya.. cepatlah"
Livy menengok, Allard sudah membalikkan badannya, iapun berlari dan melompat kedalam sungai.
Allard bersandar di batu, Livy membiarkan rambut panjangnya basah, ia membersihkan rambutnya sambil memandangi pepohonan.
Livy mendekati Allard dan membantunya membersihkan rambutnya.
"Kenapa rambut ayahmu berwarna hitam sedangkan rambutmu putih?"
"Karna batu jiwa Ayah sudah diambil oleh ratu Calesthane.. itu membuat rambutnya menghitam dan kekuatannya berkurang... tapi ayahku adalah raja iblis, kekuatannya tetap tidak tertandingi"
Allard memandang wajah Livy yang cantik dengan bibir merahnya yang merona.
Diciumnya bibir merah itu sambil memeluk pinggang Livy.
Allard menyentuh punggung Livy yang tanpa sehelai benangpun, terasa lembut dan menggoda.
Livy mencoba mendorong Allard ketika pria itu menciumi lehernya, namun pelukan Allard semakin kuat. Tangannya kini merambat ke perutnya, merobek satu satunya kain yang menutupi tubuh Livy.
Livy bersandar di batu, tubuhnya tidak bisa menolak aktivitas apapun yang Allard lakukan.
Livy menutup matanya, merasakan rasa sakit di bagian intimnya.
Allard hanya tersenyum dan mencium bibir Livy.
"Sshh...tahan, kau milikku sekarang"