
Prolog
Kita berbeda namun hati kita sama
Kita berjuang melewati batas
Menghancurkan batas
Mematahkan batas
Sampai kita sama sama merasakan....
bahwa kematianlah yang akan mempersatukan kita selamanya.
_BreakTheLimit_
Mediocris adalah dunia tempat para peri tinggal, sedangkan Diabolus adalah dunia tempat para iblis.Dunia ini berdampingan, namun peri dan iblis tidak ditakdirkan untuk bersama.Sebuah sungai pembatas menjadi tanda bahwa para peri maupun iblis tidak boleh melewati batas itu, mereka menyebutnya sungai Obice.
Mediocris memiliki seorang ratu cantik bernama Calesthane sedangkan Diabolus memiliki raja bernama Vigor.
Ratu Calesthane dan raja Vigor sepakat untuk tidak mengganggu satu sama lain atau akan terjadi peperangan diantara mereka.
Para peri Mediocris memiliki beraneka ragam sihir, sedangkan para iblis Diabolus hanya mengenakan pedang, sayap hitam dan tanduk dikepalanya sebagai senjatanya.
Seorang peri penyembuh atau peri Medicus berjalan di pinggiran sungai Obice untuk mencari beberapa tanaman herbal.
"Livy... jangan terlalu jauh" sahut seorang penjaga sungai.
"Aku mengerti" sahut Livy si peri penyembuh.
Livy memetik beberapa tanaman herbal dan memasukkannya kedalam keranjang kecil yang ia bawa.Ia melihat seekor Lepus (sebutan untuk hewan kecil berbulu putih seperti kelinci ) terbaring tak berdaya.
Livy menghampirinya dan melihat robekan kecil dikaki Lepus itu.
"Ooh lihat siapa yang kesakitan, tenang aku akan menyembuhkanmu"
Hanya dengan menyentuh bagian yang terluka, dalam beberapa menit luka itupun sembuh.
Livy menggendong Lepus kecil yang sudah sehat itu lalu melepaskannya.
"Byebye, tidak perlu berterima kasih padaku"
Livy kembali kerumahhya.
Livy tinggal di sebuah rumah pohon yang besar, ia menghiasnya dengan bunga bunga indah agar terlihat lebih berwarna.
Livy meracik tanaman tanaman herbal yang ia petik dan menjadikannya obat.
"Livy..."
Suara teriakan Letitita teman Livy dari bawah pohon.
"Kemarilah" sahut Livy.
Letitita segera memanjat lalu masuk kerumah Livy.
"Livy... apa kau sudah membuat obatnya?"
"Ini... minum ini setiap mau tidur, dalam 3 hari penyakit nenekmu akan sembuh"
Letitita meraih obat itu dan menyimpannya kedalam sakunya.
"Terima kasih Livy, setelah nenekku sembuh aku akan membawamu ke toko paman joel"
Livy tersenyum, setelah Letitita pulang Livy berbaring di tempat tidurnya.
Sore harinya
Livy dan Letitita mengunjungi istana ratu, mereka bermain bersama para peri kecil yang tinggal di istana.
Ratu Calesthane memperbolehkan mereka bermain sepuasnya asal tidak membawa peri kecil keluar dari istana.
Setiap peri yang hamil dan melahirkan bayi peri, ratu akan membawa bayi mereka ke istana untuk sementara waktu. Para bayi kecil itu diberkati dan diberikan sihir sesuai dengan kemampuan mereka. Setelah bayi itu berumur 1 tahun dan bisa berjalan, ratu akan mengembalikan mereka pada ibu kandung mereka.
Latitita adalah peri penjaga bayi bayi ini, Latitita memiliki paras yang lembut dengan rambut kuningnya yang panjang bergelombang.Hanya dengan satu nyanyian dari Letitita, para bayi bayi akan tertidur lelap.
Livy segera pulang ketika malam telah datang, ia berjalan pulang sendirian karna Letitita masih harus menjaga para bayi.
Livy menyapa setiap peri yang ia temui dijalan.Saat hampir sampai dirumahnya, ia melihat sinar terang di perbatasan sungai.
" Paman Orby!! " (Penjaga sungai Obice)
Livy berlari ke perbatasan sungai untuk memastikan apakah paman Orby si penjaga sungai baik baik saja.
Jarak rumah ke perbatasan tidaklah jauh, sampai diperbatasan, Livy naik ke gubuk paman Orby.Ia melihat pamar Orby tertidur, dan itu aneh karna tidak biasanya paman Orby tidur lebih awal.
Livy mendengar suara erangan diluar, ia keluar mencari tahu pemilik suara itu.
Livy bersembunyi di balik pohon besar saat melihat sesuatu bergerak disungai yang tak dalam itu.
Livy berjalan mendekatinya, ia terkejut melihat seorang pria yang terbaring dibebatuan sungai berlumuran darah.Livy semakin mendekati pria itu, pria berambut putih, wajah yang tampan namun sayang berlumuran darah.
Livy mengambil ranting pohon lalu menyentuh lengan pria itu menggunakan ranting pohon yang ia ambil.
"Hey... hey apa kau sudah mati?"
Tak ada jawaban, hanya gerakan tangan yang lemah.
'Sepertinya dia masih hidup tapi sekarat' batin Livy.
Livy mencoba menarik tubuh pria itu agar mendekat namun tubuh pria itu terlalu berat untuknya, akhirnya Livy memberanikan diri mendekati pria itu.
Livy membersihkan darah diwajah dan didada pria yang terluia itu. Lukanya seperti bekas cakaran yang tajam dan besar melihat luka sobek yang cukup parah didadanya.
Livy menyentuh dada pria itu dan menggunakan sihirnya, butuh waktu 15 menit bagi Livy untuk menyembuhkan luka sobek itu.
Setelah 15 menit akhirnya luka itu tertutup dan hanya memberikan sedikit bekas.
Untuk luka dikepala yang tak terlalu parah, Livy hanya mengoleskan salep obat yang ia buat.
Livy terdiam ketika pria itu mulai sadar, ia ternganga ketika melihat mata pria itu berwarna merah menyala.
"I.... iblis...."gumam Livy.