Break the Limit

Break the Limit
Janin



Livy... Livy..


Suara yang sangat tidak asing memanggilnya.


"Allard..."


Livy berdiri disebuah ruangan tanpa pintu.


"Allard... dimana kau ? ... a.. aku ada dimana ?"


Livy menyentuh seluruh bagian tembok, mencoba menemukan pintu rahasia yang mungkin tersembunyi disana.


Ruangan semakin gelap dan pengap karna tak ada satupun lubang udara disana.


Semakin gelap hingga hanya terasa dirinya saja disana.


Livy berdiam diri, ia tak berani melangkahkan kakinya.


Livy..maafkan aku... ini demi kebaikanmu.


Livy mendengar suara Allard tapi tidak dapat menemukan sosoknya.


"Allard ? dimana kau ? aku tidak bisa melihat apapun disini!!"


Livy merasakan hangat di kakinya, ia menunduk melihat kedua kakinya.


"Hah ?"


Livy terkejut ketakutan saat ia melihat darah di kakinya.


Semakin deras aliran darah di kakinya sampai memenuhi lantai dibawahnya.


Livy berteriak ketakutan, ia memanggil manggil nama Allard, berharap Allard datang membantunya.


Sebuah cahaya kecil seperti kunang kunang datang dari kejauhan, cahaya berwarna kuning keemasan.


Livy menangkap cahaya itu.


Livy memandang cahaya keemasan itu, sangat indah, pikirnya.


Livy tak lagi merasakan ketakutan, cahaya kecil itu terbang keatas kepalanya, memberikannya semacam kekuatan.


Livy melihat darah di kakinya berubah menjadi air yang sangat jernih dan wangi.


Livy..


Lagi lagi terdengar suara Allard memanggil namanya.


Livy memejamkan matanya sebentar lalu membukanya dengan pelan.


NGIIIIIIIINNGGG...


Telinganya berdengung dan kepalanya terasa sedikit pusing.


Livy mengerjapkan matanya, berusaha memperjelas penglihatannya.


Livy melihat Sthynx duduk di sampingnya dengan tangan yang menyentuh perutnya.


Cahaya kemerahan menyelimuti perut rata Livy.


Livy menoleh ke samping, ia menemukan Allard berdiri membelakanginya.


"Sthynx... Allard.. apa yang kalian lakukan padaku ?" tanya Livy dengan suara yang lemah.


Allard dan Sthynx terlihat sangat terkejut melihat Livy yang tersadar.


Allard menghampiri Livy, menggenggam tangan kanannya.


"Livy... aku akan menjelaskannya padamu nanti"


Livy merasa perutnya mulai terasa sakit.


"A.. apa yang kalian lakukan.. i.. ini sangat sakit!!"


Livy teringat akan mimpinya, sebuah cahaya keemasan.


Sthynx jatuh tersungkur dari atas kasurnya.


Allard memegangi tangan kanannya.


"Livy tenanglah... ini demi kebaikanmu"


Livy menangis, ia menggunakan kekuatan pelindung peri miliknya.


Badannya mengeluarkan cahaya putih kebiruan, membuat iblis manapun akan kesakitan saat menyentuhnya.


Allard melepas tangan Livy, ia melihat tangannya melepuh seperti terbakar.


"Allard...biarkan aku sendiri.... aku membencimu"


Livy berjalan pergi keluar dari kamar Sthynx.


Allard terdiam ditemoatnya, ia benar benar terkejut karna Livy sampai menggunakan pelindung perinya padanya.


Livy keluar dari istana, ia terbang entah menuju kemana.


Raine hanya menyilangkan kedua tangannya saat melihat Livy pergi.


"Apa yang kau pandangi ?"


"Bukan urusanmu Cedric... sebaiknya kau jauhi aku"


Cedric memandang kearah yang dilihat Raine.


Cedric dikagetkan dengan apa yang ia lihat, Cedric segera mengeluarkan sayap hitamnya dan terbang dengan cepat mengejar Livy yang terbang semakin jauh.


Livy menyentuh perutnya yang masih terasa sakit.


"Livy.. " teriak Cedric.


Livy menoleh kebelakang.


"Livy.. tunggu aku "


Livy turun lalu duduk di sebuah batu besar yang ada disana.


"Livy.. apa yang kau lakukan? kenapa kau menggunakan pelindung perimu? itu hanya akan menarik iblis iblis jahat!! apa kau tidak takut mereka akan mengintaimu ?" bentak Cedric.


Livy menangis menjadi jadi membuat Cedric kebingungan.


Cedric mendekati Livy.


"Livy... kalau kau masih menggunakan sihirmu... aku tidak bisa mendekatimu... bisa kau hilangkan itu ?"


"Kau akan menyakitiku"


"Tidak!! Tentu saja tidak!!Kau kan tau perasaanku padamu"


Livy menghilangkan sihir pelindungnya.


Cedric menyeka air mata yang membasahi pipi Livy.


"Katakan padaku.. apa yang terjadi"


Livy menyentuh perutnya.


"Cedric... kurasa.. aku mengandung anak Allard".


Cedric sangat terkejut mendengarnya,tentu saja ia tak suka dan cemburu namun ia menahannya.


"A..apa ?lalu ?"


"Sthynx dan Allard berusaha menyakiti janin dikandunganku !! apa Allard tidak menginginkan janin ini ?"


Cedric memeluk Livy.


"Aku akan menceritakannya nanti, jangan menangis"