
Allard merasakan punggungnya terasa lebih baikan, ia membuka matanya dengan pelan dan mendapati seorang wanita yang ia rindukan tengah tertidur pulas disebelahnya.
Allard menggosok matanya memastikan ini nyata atau tidak, Allard membelai pipi wanita itu yang membuat wanita itu terbangun.
"Allard.. kau sudah bangun.. aku sangat mengkhawatirkanmu, apa lukamu masih terasa sakit ? aku mengobatinya dengan sihirku.. tapi aku kelelahan jadi aku tidak bisa menyembuhkannya sepenuhnya... aku akan menyembuhkannya sebentar lagi"
Allard hanya terus memandang wajah Livy tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Hey... kenapa diam saja?.. ah apa jangan jangan Ayahmu mencabut suaramu dan kau jadi bisu.. kau tidak bisa bicara lagi denganku begitu?" ujar Livy yang mulai menangis.
Allard tertawa melihat Livy, ia segera duduk dan memeluk tubuh hangat Livy.
"Aku tidak apa apa... aku hanya sangat senang kau ada disebelahku saat ini" jelas Allard sambil menyeka air mata Livy.
Livy tersenyum lalu mencium bibir Allard dengan lembut.
"Aku akan menyembuhkan lukamu, cepat balik badanmu"
Livy menggunakan sihirnya dan menyembuhkan luka Allard.
"Aku bertemu kakak pertamamu"
"Apa dia menyakitimu?"
"Ummm.. hampir... tapi aku tidak apa apa... kakak pertamamu sungguh membuatku kesal, tidak seperti Cedric yang baik sepertimu"
"Sthynx mungkin masih marah... tapi dia sudah menolongku, dia menerima 3 cambukan yang seharusnya tidak ia terima"
"Aku sudah membantunya mengobati lukanya.. dan dia tidak berterimakasih padaku"
"Tidak usah pedulikan dia.. yang terpenting kau ada disisiku sekarang"
Ketiga pangeran Diabolus berkumpul dalam satu ruangan, dan tentunya ada Livy yang merasa seperti tikus kecil dalam segerombolan burung elang.
Livy hanya duduk disebelah Allard, menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Allard yang masih diperban. Cedric duduk di jendela sambil memainkan pedangnya sementara Sthynx yang duduk dengan menyilangkan kakinya sambil menatap mata Livy dengan tajam.
Livy mendekatkan dirinya pada Allard.
"Lihatlah tatapan mata kakakmu itu" bisik Livy ke telinga Allard. Allard hanya tersenyum kecil.
"Yang Mulia Raja Vigor menyuruh Pangeran Cedric dan Pangeran Allard untuk menemuinya segera"
"Oke.. kita akan kesana" sahut Allard.
Allard memakai bajunya dan pergi menemui ayahnya bersama Cedric meninggalkan Livy berdua dengan Sthynx dikamarnya.
Livy menoleh kearah Sthynx yang tersenyum untuk menakuti Livy.
Livy naik ke ranjang milik Allard dan menutupi badannya menggunakan selimut.
"Jangan mendekatiku" sahut Livy dengan nada ketus.
"Hahaha... tidur sajalah... setelah kau tertidur nanti aku akan melemparmu di jendela."
Livy terdiam, ia hanya bisa menunggu sampai Allard kembali sambil menahan dirinya agar tidak tertidur.
Sthynx berdiri lalu duduk disebelah Livy.
"Apa kau tau kalau sebenarnya Allard mempunyai seorang tunangan yang sudah dijodohkan sejak ia kecil?"
Livy terdiam, ia tak bisa menjawab.
"Suatu hari nanti kau akan tau... atau kau tanyakan langsung saja kepada Allard."
Livy menghela nafas "Bisakah kau berhenti menggangguku? aku sama sekali tidak peduli dengan perkataanmu... sebaiknya kau kembali ke kamarmu."
"Ini tempat tinggalku... kenapa kau mengusirku?"
"Haaahh... kalau begitu biar kau saja yang pergi... aku tidak mau berada satu ruangan dengan mu"
Livy melepas selimutnya dan berjalan keluar istana, ia memilih untuk duduk di bangku yang berada didepan istana.
Ia melihat seorang wanita dikejauhan sedang menatapnya dingin.
"Tatapannya seperti akan membunuhku" gumam Livy