
Pagi pagi sekali Cedric membawa Livy ke belakang istana, ia berniat mengajari Livy cara menggunakan pedang.
Livy mengikat rambutnya dengan rapi dan bersiap menggunakan pedangnya.
"Pasang kuda kuda, dan siapkan tanganmu, ayunkan seperti yang aku contohkan"
Livy mempraktekkan gerakan Cedric.
"Lakukan itu sampai 50x ayunan"
"Ayolah 30 saja.. ini juga masih permulaan"
"Baiklah... 30x ayunan"
Cedric duduk dibawah pohon sambil mandang setiap gerakan Livy yang masih sangat kaku.
Allard menghampiri Cedric dan duduk disebelahnya.
"Oh lihat wanita ku yang lucu itu, dia terlihat seperti boneka kayu yang kaku" sahut Allard sambil memandang lucu gerakan Livy.
"Ini masih permulaan... aku akan mengajarinya sampai bisa"
"Ya.. asal jangan sampai jatuh cinta"
Cedric tersenyum kecil "Apa kau takut?"
Allard tersenyum "Tidak sama sekali"
Livy selesai dengan latihannya, tangannya terasa kram dan bengkak.
Livy duduk dikursi kamar Allard sambil memgompres lengannya menggunakan air hangat.
"Kalau kau tidak sanggup, kau tidak perlu berlatih lagi... aku bisa melindungi mu" sahut Allard yang memijat punggung Livy.
"Tidak.... aku ingin belajar pedang, setidaknya aku akan berguna nanti..."
"Apa kau mau jalan jalan ke hutan?"
Livy menggeleng "Tidak.. aku mau istirahat, nanti malam aku akan berlatih lagi bersama Cedric"
"Tidak besok pagi saja? kau tidak perlu memaksakan diri"
"Tenang saja, lagipula Cedric melatihku dengan baik".
Allard terdiam, ada rasa tak suka didalam hatinya ketika Livy mengatakan nama Cedric, namun ia memilih diam dan menuruti kemauan Livy.
Malam harinya Livy mengetuk kamar Cedric.
Tok... Tok... Tok...
Klekk... suara pintu terbuka.
Cedric memandang Livy dengan wajah kusut bangun tidur.
"Oh.. apa aku mengganggumu?"
"Tidak..masuklah dulu dan duduk di kursi itu dengan tenang"
Livy mengangguk, kamar Cedric penuh dengan senjata senjata yang terlihat memyeramkan, terutama kapak yang sangat besar berwarna keemasan dengan ukiran sayap iblis di gagangnya.
Cedric memakai baju nya yang baru ia ambil dan mendekati Livy.
Cedric membelai rambut Livy.
"Hmm.. sepertinya kau genit juga ya... memandang badanku saat ganti baju"
Pipi Livy memerah seketika "A.. apa..?? si.. siapa yang genit.. aku hanya penasaran dengan bekas luka didadamu... itu saja"
Cedric hanya tersenyum.
Mereka berjalan melewati lorong bebatuan dan membuka pintu besi yang menuju ke belakang istana.
Livy memegang pedangnya menggunakan kedua tangannya, kakinya bersiap seperti yang dicontohkan Cedric.
"Ayunkan seperti tadi pagi sampai 40x, besok pagi 50x.. setelah 50x aku akan mengajarimu teknik yang lain"
"Kalau aku menyelesaikannya sekarang, besok pagi kita bisa berlatih teknik yang lain"
"Tidak... jangan memaksakan diri,kalau kau sakit pangeranmu akan memarahiku"
Livy hanya bisa menurut, ia mengayunkan pedangnya dan berusaha agar tidak kaku.
Ayunan ke 30 Livy merasa lengannya tak sanggup lagi.
"Boleh beristirahat sebentar?" pinta Livy dengan wajah memelas.
"Hanya kurang 10 ayunan saja"
"Lenganku sudah tidak kuat, ini melelahkan"
"Oke kemarilah"
Livy duduk disebelah Cedric sambil memijat lengannya.
Cedric memegang pedang Livy yang terasa ringan baginya.
"Mungkin pedang tidak cocok untukmu, bagaimana kalau senjata lain?"
"Senjata apa?"
"Entahlah... besok kuajak kau ke tempat aku membeli pedang itu"
Livy terdiam sesaat sambil menatap wajah Cedric yang terlihat lembut tidak seperti biasanya.
"Emmm... kalau iblis lain tau aku adalah peri dan mereka akan membunuhku bagaimana?"
"Apa menurutmu mereka berani ? bukankah aku juga seorang pangeran?"
Livy tersenyum "Ya .. kau benar"
Cedric tersenyum sambil mengacak acak rambut Livy.
"Oke kembalilah kedalam.. aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan.
Livy mengangguk "terimakasih Cedric"
Disebuah jendela lantai atas, Allard memandangi Livy dan Cedric yang semakin akrab, tangannya mengepal melihat Cedric menyentuh dan membelai rambut Livy.