Break the Limit

Break the Limit
Hukuman



Allard berdiri didepan Sthynx kakaknya, Sthynx menyentuh pergelangan tangan kiri Allard.


Allard menarik tangannya ketika ia merasakan perih ditangannya, ia melihat ada tanda hitam melingkar di pergelangan tangannya.


"Tanda itu akan menghilang dalam tiga hari, selama tiga hari kau tidak boleh keluar dari istana ini, kalau kau masih saja membangkang, coba saja.... tanda itu akan mematahkah pergelangan tanganmu."


"Kenapa kau mencampuri urusanku!! Aku mau kemana saja itu urusanku"


Sthynx menatap mata Allard.


"Aku tau semuanya, peri cantik bernama Livy...hubunganmu dengannya. dan bahkan kau sudah berani masuk ke wilayah mereka. Kalau Ratu disana mengetahui keberadaanmu tamatlah riwayatmu... apa kau juga mau Ayah mengetahui ini? Livy mu akan dalam bahaya kalau kau meneruskan ini"


Sthynx pergi meninggalkan Allard.


Allard masih terdiam ditempatnya dengan wajah kesal.


Seorang pria berpakaian serba hitam dengan rambut putih duduk di jendela.


"Butuh bantuan adikku ?" sahut Cedric pangeran kedua yang selalu menyembunyikan dirinya dan tidak pernah berbicara kepada siapa pun kecuali anggota keluarga.


Allard mendekati Cedric.


"Aku butuh bantuanmu"


Cedric tersenyum "Apa itu?"


"Temui Livy, katakan padanya aku tidak bisa menemuinya dalam 3 hari ini , aku tidak mau dia sedih"


Cedric tertawa kecil "Cih.. kau ini masih saja sempat memikirkan wanita itu... apa wanita itu menaruh sihir padamu?"


"Kau akan tau setelah bertemu dengannya..., jangan sampai kau juga jatuh cinta pada wanitaku"


Cedric tersenyum lalu menghilang dari tempatnya.


Cedric mengawasi Livy yang sedang memetik dedaunan.Ia berjalan ke tepian sungai Obice.


"Livy"panggilnya.


Livy menoleh dan berlari kecil menghampirinya.


Livy berhenti setelah mengetahui itu bukan Allard.


" Allard menyuruhku untuk mengatakan sesuatu padamu" sahut Cedric.


Livy kembali berjalan mendekatinya.


"Siapa kau?"


Cedric segera menarik tangan Livy dan menggendongnya pergi.


Mereka berhenti disebuah pohon besar .


"Kau kakak Allard, pastinya kau tidak akan melukaiku"


Cedric tertawa kecil lalu duduk di bebatuan.


"Allard tidak bisa menemuimu selama 3 hari ini ,dia sedang menjalani hukuman.."


"Kenapa dia dihukum?"


"Karna dia berani masuk ke wilayah peri.... apa kau menaruh semacam ramuan atau sihir pada Allard? bagaimana bisa dia tergila gila padamu?"


Livy duduk diatas rumput yang kering.


"Dia sendiri yang terus mengejarku.. aku tidak melakukan apapun padanya"


Cedric menatap mata Livy dengan tajam.


"Kenapa melihatku seperti itu... lebih baik antarkan aku pulang"


Hanya dalam satu detik saja Cedric sudah berada didepan Livy, ia mendorong Livy jatuh ke tanah. Cedric menahan kedua tangan Livy, ia menatap mata Livy dengan tajam.


"Hey..lepaskan aku atau aku akan berteriak"


"Kau yakin mau berteriak disini? silahkan saja"


Cedric tersenyum kecil lalu mencium bibir Livy. Livy meronta sambil memukuli badan Cedric.Cedric melepas ciumannya "Oh.. jadi kau yang menolong Allard.."


Livy menampar Cedric dengan keras lalu segera berdiri.


"Dasar lelaki cabul!! kalian berdua selalu berbuat sesuka hati kalian..."


Cedric tersenyum "Ayo kuantar pulang"


"aku akan membuatmu pingsan kalau kau berani macam macam"


Cedric segera menggendong Livy dan membawa Livy kembali ke sungai Obice.


Livy berlari pergi meninggalkan Cedric, sedangkan Cedric kembali ke istana.


Allard menghampiri Cedric.


"Apa kau sudah bertemu dengannya?"


"Ya.. dan dia memberiku hadiah sebuah tamparan di pipi... kalian berdua sangat cocok.. aku tertarik pada wanita itu"


"Jangan mendekati Livy"


Cedric mengusap rambut Allard "aku hanya menggodamu saja bodoh"