Break the Limit

Break the Limit
She run away



Allard, seorang pria dari dunia iblis atau Diabolus. Ia adalah pangeran ke tiga dari raja Vigor. Allard mencoba membunuh seekor Prodigius.Prodigius adalah monster raksasa.


Allard tak sengaja membangunkan Prodigius yang sedang tertidur, ia melupakan pedangnya di kamarnya. Allard hanya mengandalkan sayap hitamnya untuk menyerang Prodigius.


Namun monster itu begitu marah, monster itu mencoba menangkap Allard yang terbang diatasnya, Allard mencoba menghindar tapi tak bisa, akhirnya ia terkena cakaran monster itu. Allard terpental jauh dan tergeletak di sungai Obice.


Allard merasakan dingin di kepala dan badannya, seperti air mengalir.Sesuatu menyentuh dadanya yang terasa sangat perih namun semakin lama rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya.


Tak lama kemudian ia merasakan dahinya diberi sesuatu yang lengket.


Perlahan ia membuka matanya, ia terkejut melihat seorang wanita yang sangat cantik bersinar, memiliki rambut coklat yang seharum mawar. Bibir mungil wanita itu menganga seperti terkejut akan sesuatu.


Belum sempat ia berbicara wanita itu berlari pergi dengan tergesa gesa.


Allard segera berdiri, badannya terasa linu seperti dipukuli beberapa pria kekar.


Allard teringat kejadiannya saat bersama monster, ia segera melepas bajunya yang robek dan terkejut melihat luka didadanya telah sembuh total.


Ia menyentuh dahinya yang terluka, terasa lengket.


'Apa wanita itu yang menyembuhkanku?'batin Allard.


Allard segera kembali pulang.


_Livy_


Livy menutup semua pintu dan jendela rumahnya, ia berbaring di tempat tidurnya.


Ia tidak menyangka akan melihat iblis hari ini , ia juga tidak menyangka bahwa iblis terlihat begitu tampan. Dalam pikirannya iblis itu menyeramkan dengan sayap hitam lebar dan tanduk dikepalanya.


Livy mengamati kedua tangannya, ia teringat ketika ia menyembuhkan iblis tampan itu.


Livy segera menutupi wajahnya menggunakan selimut.


"Bodoh, kenapa aku memikirkan pria itu... tidak... dia adalah iblis bukan pria... iblis adalah iblis.. mereka sangat jahat."


Keesokan harinya Allard kembali ke perbatasan sungai, ia duduk diatas pohon besar.


Hari sudah siang, Allard sudah menunggu wanita itu sedari pagi.


Allard berbaring diatas tangkai pohon yang besar, lalu ia segera duduk ketika melihat seorang wanita memakai kain putih dikepalanya sedang berjalan mengendap endap.Wanita itu memetik dedaunan dan sesekali menoleh kekanan dan kekiri.


Wanita itu mendongak keatas, dan memetik buah di pohon yang tak terlalu tinggi.


selendang putih wanita itu terjatuh,Allard tersenyum kecil "Oh... itu dia".


Allard melihat penjaga sedang sibuk dengan aktivitasnya, Allard segera berlari dan bersembunyi dibalik batu besar yang berada di tengah sungai.


"Ssstt... hey"


Wanita itu menoleh dengan wajah terkejut.


Ketika wanita itu hendak berlari pergi, Allard menggunakan sihir yang baru ia pelajari untuk menarik sesuatu.


Wanita itu tak bisa lari lagi, mulutnya tertutup rapat oleh mantranya, dan dalam sekejab wanita itu sudah berdiri didepannya.


"Jangan berteriak, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku akan melepas sihirku kalau kau berjanji tidak berteriak"Ujar Allard pada wanita itu, wanita itu mengangguk lalu Allard menghilangkan sihirnya.


"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya wanita itu dengan wajah takut.


Allard melepas tali bajunya dan memperlihatkan dadanya.


"Lihat bekas luka ini, aku adalah pria yang kau selamatkan semalam"


Wanita itu memandang dada Allard.


"Aku hanya menyembuhkan lukamu, lalu apa lagi yang kau mau?"


Allard membelai rambut coklat wanita itu.


"Siapa namamu?"


"Livy"


"Livy, namaku Allard.. terimakasih telah menyembuhkanku".


Livy menatap mata merah pria itu sambil mengangguk pelan.


Allard membelai pipi Livy "Apa aku terlihat menakutkan ? kenapa menatapku seperti itu?"


Livy menunduk "Karna kau adalah iblis, iblis akan membunuh para peri"


Allard menarik pinggang Livy, jarak mereka sangat berdekatan. Ia memandang wajah cantik Livy yang ketakutan, tangannya gemetaran.


Allard membelai pipi Livy "Jangan takut... aku tidak akan membunuh wanita cantik yang menyelamatkanku"


Allard mencium bibir Livy sekilas.


Pipi Livy merona, Allard tersenyum lalu pergi ke tempat asalnya meninggalkan Livy yang masih terdiam.