
Cedric membawa Livy ke dalam gua miliknya.
"Duduklah, tenangkan dirimu"
Livy duduk sambil memegang perutnya yang masih rata.
"Minum air ini" sahut Cedric sambil memberikan air miliknya.
"Terimakasih Cedric"
Cedric duduk disebelah Livy "Mm... asal kau tau saja... Allard melakukannya demi kebaikanmu Livy.. percayalah"
Livy tidak menjawab perkataan Cedric.
"Ibuku Ratu Sara, bukan dari kaum iblis seperti kami... Ratu Sara merupakan seorang penyihir dari Magicius.Apa kau ingin tau apa yang terjadi padanya?"
Livy mengangguk "Ya... aku ingin tau"
"Ratu Sara hamil anak pertama dari Raja Vigor"
"Sthynx?"
"Ya... kehamilan pertamanya tidak menyebabkan masalah karna Ratu Sara juga seorang penyihir yang tangguh. Kehamilan kedua dan ketiga..a"
Livy menutup bibir Cedric menggunakan jari jemarinya "Tunggu... kehamilan kedua dan ketiga ? apa maksudmu ? apa kalian kembar ?"
Cedric mengangguk "Ya.. Allard lahir lebih dulu"
"Allard tidak menceritakannya padaku"
"Apa menurutmu wajahku tidak mirip Allard hah ?"
Livy memandangi wajah Cedric, ia baru sadar bahwa Cedric dan Allard memiliki wajah yang sama, namun gaya rambut mereka yang berbeda dan juga Cedric memiliki bekas luka di dahinya.
"Maaf.. aku baru menyadarinya... lalu apa yang terjadi ?"
"Kehamilannya membuatnya kehabisan energi, sihir Ratu Sara melemah dan juga pertahanan tubuhnya, tapi Ratu Sara berhasil melahirkan kami... namun setelah melahirkan kami Ratu Sara meninggal"
Livy terdiam mendengarnya, Ratu Sara yang seorang penyihir hebat pun tidak mampu bertahan, apalagi dirinya yang hanya seorang peri penyembuh.
Cedric membelai rambut Livy "Ayo kembali... Allard pasti menunggumu"
"Tapi aku masih tidak ingin menemuinya... bagaimanapun aku masih sangat kesal karna Allard tidak menjelaskan apapun padaku, bahkan tanpa persetujuanku dia mau membunuh janin di perutku ini"
Cedric menuruti perkataan Livy agar wanita itu merasa tenang terlebih dahulu.
Allard berkeliling mencari keberadaan Livy namun tak kunjung menemukannya.
Allard kembali ke istana dengan wajah kesal, di tengan perjalanannya ia mendengar suara Cedric lewat telelepatinya.
"Livy bersamaku, dia ada ditempatku sekaranh.. kemarilah"
Dengan cepat Allard mengepakkan sayap hitamnya menuju gua milik Cedric.
Sesampainya disana, Cedric telah menunggunya.
"Dia tertidur.. aku sudah tau apa yang terjadi dan aku sudah menjelaskannya padanya"
"Terimakasih Cedric"
"Allard... tolong jangan membuatnya menangis" sahut Cedric lalu terbang pergi.
Allard terdiam mendengarnya lalu menghampiri Livy yang sedang tertidur disana.
Allard membelai rambut Livy lalu menciuminya dengan lembut. Livy terbangun karnanya.
"Allard..."
"Maafkan aku..."
Livy memandang wajah Allard yang terlihat lesu lalu menyentuh bibir Allard dengan jari telunjuknya.
"Jangan sakiti janin ini Allard.. kumohon, kalau kau menyakitinya.. kau sama saja menyakitiku juga"
Allard mencium kening Livy " Aku berjanji tidak akan menyakitinya.. aku akan mencari cara agar kalian berdua selamat"
Livy tersenyum, ia meraih tangan Allard yang terluka karna sihir pelindung miliknya lalu menyembuhkannya dengan sihirnya.
Livy melepas baju atasnya lalu menggunakan sihir penyembuhnya untuk mengobati rasa sakit diperutnya.
"Allard... aku bermimpi berada disebuah ruangan gelap dengan darah yang membanjiri kakiku... tiba tiba sebuah cahaya kecil muncul menyelamatkanku"
"Cahaya kecil ?"
"Ya... cahaya kecil itu memberiku kekuatan dan juga membuat darah yang membanjiri kakiku itu berubah menjadi air yang jernih... setelah kupikir pikir... mungkin saja ini ada hubungannya dengan kehamilanku"
Allard memandang wajah Livy dengan serius " Kita kembali sekarang ke istana... kau harus beristirahat".
"Tapi.."
"Tenang saja.. aku akan mencari segala cara dan juga mencari tau apa arti mimpimu itu"