
Beberapa hari telah berlalu semenjak pertemuan raja iblis dan ratu Calesthane.
Livy mulai terbiasa berjalan jalan keliling istana, namun ia tetap tidak berani keluar dari istana karna takut para iblis lain akan membencinya.
Livy duduk di bangku depan istana, tempat favoritnya walaupun tak seindah istana Mediocris.
Seperti biasa setiap Livy duduk di bangku ini, seorang wanita menatapnya dengan rasa tak suka, berhari hari ini Livy membiarkannya namun semakin lama Livy penasaran dengan tingkah wanita itu.
Livy berpura pura hendak kembali kedalam istana, Livy bersembunyi dibelakang pilar batu besar, diintipnya wanita yang selalu menatapnya itu.
Setelah yakin wanita itu kembali masuk ke ruangannya, Livy segera berjalan cepat menuju depan pintu sebuah ruangan yang dimasuki wanita itu.
Tok... Tok... Tok....
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampakkan sesosok wanita iblis bermata kuning seperti ular tengah terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Hai" sapa Livy dengan sedikit senyuman yang terpaksa.
"Apa yang kau lakukan disini? aku tidak memanggilmu kemari" sahut wanita itu dingin, masih dengan tatapan yang sinis.
"Matamu terlihat sangat indah... aku merasa terhormat selalu diawasi oleh sepasang mata yang indah itu setiap kali aku duduk dibangku sana"
Wanita itu menjadi salah tingkah "Oke... jelaskan saja apa maumu datang kemari?"
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu, aku Livy.. namamu siapa?"
Wanita itu hanya menghela nafas dan menutup kembali pintunya dengan acuh.
"Wanita kasar" gumam Livy dan pergi kembali ke istana.
Cedric menghampiri Livy dengan membawa sesuatu ditangannya.
"Livy...tunggu"
Livy menoleh dan melihat Cedric berjalan kearahnya.
"Hmm.. ada apa?"
"Aku punya sesuatu untukmu, ayo ikut ke belakang istana"
Livy menurut dan mengikuti Cedric ke belakang istana.Livy hanya mendengus kesal melihat Sthynx yang juga berada disana sedang melatih otot ototnya.
"Bisakah kita ambil jarak yang lebih jauh dari kakakmu itu?"
Cedric tertawa kecil "Baiklah.. kita duduk dibawah pohon itu"
Livy duduk sambil mengikat rambutnya, Cedric mengeluarkan sesuatu yang terbalut kain ditangannya, sebuah pedang yang terlihat simple dan ringan.
"Ini untukmu, aku membelinya saat berjalan jalan diluar.. ini pedang yang paling ringan disana.. kurasa akan cocok untukmu"
"Woowww... aku tidak pernah memegang pedang sebelumnya"
Livy berdiri dan mencoba mengayunkan pedangnya.
"Ini masih agak berat untukku, tapi kurasa aku akan terbiasa"
"Ya.. karna ini pertama kalinya untukmu"
"Hey.. biarkan aku memegang pedangmu juga"
"sudahlah... kau tidak akan sanggup mengangkatnya"
Hahahahaha
Livy menoleh dan mendapati Sthynx memandanginya sambil tertawa.
"Dia itu sangat lemah... tidak perlu kau beri pedang Cedric... cukup beri dia tongkat kayu untuk mengambil apel untukku"
Livy menatap kesal Sthynx yang slalu ikut campur dengan apa yang ia lakukan.
"Aku mau masuk saja... melihat kakakmu itu aku seperti akan meledak disini"
Cedric tersenyum "Beri dia pelajaran"
"Hah?"
Cedric memberikan Livy sebuah apel "Kau tau kan"
Livy mengangguk, ia melihat Sthynx tengah memakai jubah hitamnya, dan disaat itulah Livy berlari kecil mendekati Sthynx dan melemparkan apel itu tepat dikepala Sthynx.
"Sialan.."
Sthynx menoleh kebelakang dan melihat Livy yang sudah kabur darinya.
"Larilah... aku akan memberimu pelajaran sebentar lagi"
Brakk...
Allard terkejut ketika Livy masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras.Livy mengunci pintu dan setiap jendela lalu berbaring disebelah Allard yang duduk diranjangnya sambil membaca bukunya.
"Ada apa?.. apa kau ada masalah?"
Livy menggeleng cepat " Tidak.. aku hanya menghindar dari kejaran hewan buas yang hendak menerkamku"
"Sthynx ?"
Livy mengangguk kecil.
"Ini sudah beberapa hari, dan kalian tidak bisa berteman?"
"Salahkan saja kakakmu yang gila itu"
Tok.. Tok..
"Allard buka pintunya"
"Aku sibuk.."
"Aku ada urusan dengan tikus peliharaanmu itu"
Livy memelas agar Allard melindunginya.
"Aku sibuk... apa kau mau melihatku bercinta disini?..."
Dalam sekejab tidak ada lagi suara Sthynx diluar.
"Kenapa kau bilang begitu? itu sangat memalukan" sahut Livy sambil menutupi wajahnya.
Allard hanya tersenyum kecil " lagipula itu hanya sebuah perkataan saja... dan Sthynx akhirnya pergi.. atau kau mau melakukannya sekarang ?"
Livy menutupi wajahnya menggunakan bantal, menutupi wajah nya yang merona.
Allard hanya tertawa kecil melihat Livy yang terlihat malu dihadapannya.