
Raine duduk diam dikamarnya, mengingat kenangan kenangannya dulu bersama Allard.
Raine sendiri dari dulu memang tidak mempunyai seorang teman karna sifatnya yang lebih suka menyendiri, ia berfikir cukup bersama Allard maka ia tidak butuh seorang teman lagi.
Raine memandangi botol kaca berisi ramuan air yang telah ia buat untuk menjalankan rencananya.
'Maafkan aku Allard...'
Allard duduk di halaman belakang bersama Cedric, Cedric memberitahu Allard tentang perasaannya pada Livy dan tentunya Allard marah mendengarnya.
"Aku tidak akan merebutnya darimu.. tenang saja, lagipula ada yang lebih penting dari itu"sahut Cedric.
"Apa?"
"Sebaiknya kau berbicara pada Raine, dia menyukaimu sejak lama dan dia juga sedang merencanakan sesuatu... jangan biarkan dia melakukan sesuatu terhadap Livy"
Sore harinya Allard mengunjungi Raine dikamarnya, ia menyuruh Livy untuk menunggu diluar saja.
Raine menyambut kedatangan Allard dengan senyuman manisnya.
"Duduklah dulu Allard''
Allard duduk disofa merah sambil bersandar disana.
Raine membawakan secangkir teh untuk Allard.
"Tumben sekali kau kemari?"
"Raine.. aku tau kau menyukaiku, tapi aku sudah mencintai Livy... aku menganggapmu sebagai adikku, jadi tolong mengertilah"
Raine terdiam mendengar perkataan Allard.
Allard menghela nafas "Kau pikir aku tidak tau apa yang kau masukkan didalam teh itu?.. berhentilah melakukan hal konyol sebelum aku membencimu"
Raine membanting cangkir teh dihadapannya, air mata mengalir deras dipipinya.
"Kenapa??... kenapa kau tidak bisa menyukaiku? sejak kecil kita selalu bersama, aku tidak punya siapa siapa selain kau"
Allard menghampiri Raine lalu memeluknya, membelai lembut rambutnya.
"Raine, aku menyayangimu.. walaupun aku bersama Livy, aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja".
Diluar Livy mendengar suara benda yang pecah dari kamar Raine, ia takut Allard akan menyakiti Raine karna marah. Livy segera masuk dan mendapati Allard tengah memeluk Raine yang menangis.
Allard segera melepas pelukannya dan menghampiri Livy yang masih diam ditempatnya.
Livy hanya menurut mengikuti Allard berjalan keluar.Livy merasa kasihan terhadap Raine, ia sangat paham bagaimana perasaan wanita itu.
Allard memilih berlatih bersama Sthynx untuk menjernihkan pikirannya, sedangkan Livy mencoba untuk berbicara kepada Raine.Livy mengetuk pintu kamar Raine namun tak ada jawaban didalam.
Livy membuka pelan pintunya sambil menengok kedalam.
"Raine....aku Livy, apa kita bisa bicara sebentar?"
Masih saja tak ada jawaban, Livy masuk kedalam dan mendapati Raine yang pingsan di lantai.Livy berlari menghampiri Raine yang terlihat pucat dengan bibir membiru.
Livy melihat botol disebelah Raine yang ternyata botol racun, Livy memeriksa denyut nadi ditangan Raine yang sangat lemah.
Livy menggunakan sihirnya untuk memulihkan Raine sambil berdoa agar ia masih sempat menyelamatkannya.
Wajah Raine terlihat pulih namun masih belum sadarkan diri juga, Livy menghentikan sihirnya lalu mencoba menggotong Raine ke ranjangnya.Dengan susah payah Livy menggotong Raine.
Livy mengambil selimut tebal lalu menyelimuti Raine yang masih belum sadarkan diri.
"Jangan...pergi..."
Livy menatap wajah Raine, wanita itu mengigau. Livy menyentuh dahi Raine yang terasa panas, Livy mengambil kain untuk mengompres dahi Livy menggunakan air.
Sambil menunggu Raine sadar, Livy tidur bersandar di tembok sebelah Raine.
Raine membuka matanya secara perlahan, ia menyentuh keningnya yang basah.
Raine menoleh, ia terkejut melihat Livy tertidur disebelahnya.
"Sudah baikan?" sahut Livy sambil mengucek matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku menyelamatkan nyawamu, seharusnya kau berterimakasih padaku"
Raine duduk sambil menggulung rambutnya.
"Aku tidak butuh bantuanmu, apa kau merasa kasihan padaku? kau pasti senang Allard menolakku"
"Hei... bisakah kau jangan terlalu arogan padaku?... aku tidak ada maksud apa apa, aku hanya ingin mengatakan kalau kau tidak perlu merasa sendiri... kau juga bisa menganggapku sebagai temanmu"
Livy berjalan pergi meninggalkan Raine yang masih diam di tempat tidurnya.