Break the Limit

Break the Limit
Sihir Sthynx



Livy duduk termenung di bangku depan istana.


"Livy"


Livy menoleh "Allard"


"Apa kau memikirkan sesuatu ?" tanya Allard sambil duduk di sebelah Livy.


Livy bersandar di bahu Allard sambil menghela nafas panjang.


"Haaaahh... aku.. merasa ada yang aneh"


"Aneh ? apa ?"


"Entah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana... aku merasa semakin harinya tubuhku terasa melemah"


DEG


Allard terdiam mendengar perkataan Livy.


"Padahal aku sudah beristirahat... tapi badanku masih saja terasa lemah, apa aku akan baik baik saja Allard ?"


Allard tersenyum dan memeluk Livy


"Tentu saja kau akan baik baik saja"


"Kau yakin ?"


"Ya... ayo ikut aku, biar Sthynx memeriksa badanmu"


"A.. apa ? mengapa harus dia ?"


"Emm... karna Sthynx memiliki sihir yang kuat disini, ayo cepat"


Livy hanya bisa menurut walaupun sebenarnya ia sangat malas bertemu dengan Sthynx yang selalu mengejeknya.


Mereka berdua sampai di depan kamar Sthynx.


Tok Tok


Hanya dalam hitungan detik pintu kamar Sthynx terbuka.


"Hmm ? ada apa menggangguku ?" sahut Sthynx yang berdiri di pintu kamarnya dengan rambut putih panjangnya yang terurai.


Livy mengamati Sthynx yang hanya mengenakan celana hitam panjang.


Bagian atas tubuhnya terlihat kekar dan menggoda bagi wanita manapun yang melihatnya.


"Livy... tunggu disini sebentar" sahut Allard.


Allard masuk kedalam kamar Sthynx dan menutup pintu kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Allard keluar dari kaar Sthynx.


"Livy.. Sthynx akan memeriksamu, aku akan kembali nanti setelah urusan mendadakku selesai"


"Umm baiklah.. tapi jangan terlalu lama"


"Iya.. aku janji hanya sebentar saja" sahut Allard sambil mencium kening Livy dan berlalu pergi.


Livy masuk kedalam kamar Sthynx setelah kepergian Allard.


Ia duduk di sofa panjang sambil memandangi kamar Sthynx yang lebih besar dan rapi dari yang lainnya.


"Aku tidak akan membantumu kalau bukan Allard yang memintanya" sahut Sthynx yang sedang berdiri bersandar di tembok.


"Baiklah.. sebaiknya aku kembali ke kamarku sendiri"


"Aku hanya bercanda"


"Tidak.. kau tidak bercanda"


"Terserahlah... sekarang cepat berbaring di kasurku"


Livy segera berbaring di kasur besar milik Sthynx.


"Jangan mengotorinya" sahut Sthynx datar.


Livy hanya bisa memelototkan matanya, ingin sekali ia mencakar wajah tampan Sthynx sampai hancur agar Sthynx tidak lagi sombong padanya.


Sthynx membuka buku catatan sihir miliknya lalu berdiri di samping Livy.


"Umm Sthynx"


"Apa?"


"Bisakah kau pakai bajumu ?"


"Kenapa ? bukankah ini kamarku ?"


"tsk... ya tapi ada aku disini... tidakkah kau merasa malu ?"


"Kenapa aku harus malu ?... oh.. apa jangan jangan kau tertarik ?"


Livy tertawa "Ahahahaha...lucu sekali... bagaimana bisa aku tertarik pada laki laki yang bahkan tidak tertarik pada wanita"


Sthynx melempar bukunya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Livy.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Livy ketakutan ketika Sthynx berada sangat dekat dengannya.


Livy akui Sthynx memang tampan, namun ketampanannya tertutupi aura iblis yang menakutkan.


"Aku tertarik pada wanita... hanya saja itu bukan dirimu"


Sthynx menempelkan jari telunjuknya di dadi Livy dan merapalkan mantra sihir.


Seketika ujung jarinya mengeluarkan cahaya berwarna biru keunguan, mata Sthynx tertutup dan tubuhnya semakin memancarkan aura iblisnya.


Livy merasakan sedikit panas di dahinya, matanya terasa berat dan mengantuk.


Entah apa yang terjadi padanya, Livy merasa tubuhnya semakin melemah.


Livy menepis tangan Sthynx agar berhenti melakukan sihirnya.


Sthynx membuka matanya.


"Apa yang kau lakukan padaku ?" tanya Livy sambil menyentuh dahinya.


"Aku tidak bisa mengatakannya padamu"


"Katakan saja"


"Tidak.. Allard memintaku untuk diam... kau tanyakan saja padanya"


Livy segera bangkit dari tidurnya, kepalanya terasa pusing dan pandangannya buram seketika.


Livy mencoba mempertahankan keseimbangannya namun kepalanya semakin terasa sakit dan membuatnya jatuh pingsan begitu saja.