
Sudah dua hari Livy tidak pergi ke perbatasan sungai Obice untuk memetik tanaman herbal, ia takut akan bertemu dengan pangeran iblis itu lagi.
Allard memang sangat tampan namun ia tidak memungkiri bahwa Allard adalah iblis dan parahnya lagi dia seorang pangeran iblis.
Livy dan Letitita duduk di ayunan yang berada dibelakang istana sambil memangku bayi peri yang sangat imut.
"Livy, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" tanya Letitita yang penasaran melihat tingkah aneh Livy yang selalu melamun.
"Ti.. tidak.. aku tidak apa apa"
"Beberapa hari ini aku tidak melihatmu meracik obat"
Livy merapikan rambutnya "Aku meracik obat dikamar"
Saat mereka tengah asyik ngobrol Ratu Calesthane datang menghampiri mereka.
Livy dan Letitita membungkuk memberi salam.
"Livy, bisakah kau membantuku?"
"Tentu saya Ratu, apa yang Ratu inginkan?"
"Aku merasa kurang tidur, tolong buatkan aku obat agar aku bisa tidur dengan nyenyak.. oh dan juga tambahan krim herbal yang kau berikan padaku waktu itu, itu sangat manjur... kulitku terasa lebih kencang"
"Baik ratu, akan saya buatkan"
Sore harinya
Livy selendangnya untuk menutupi wajahnya, ia berjalan pelan sambil bersembunyi diantara pohon pohon.
Seseorang menyentuh pundak Livy "Livy"
Spontan Livy berteriak, ia segera menutup mulutnya ketika melihat paman Joel lah yang berada dibelakangnya.
"Paman Joel... haaah paman mengagetkanku"
"Kau ini... tidak biasanya kau begini, apa ada sesuatu?"
Livy menggeleng "Tidak ada apa apa kok paman"
"Aku mau pergi ke istana sebentar, tolong gantikan aku sebentar, duduklah di dalam gubukku.. ada apel disana"
Livy memaksakan senyumnya "Baiklah paman"
Livy memetik dedaunan yang ia butuhkan dengan terburu buru.Setelah semuanya terkumpul ia berlari masuk ke gubuk paman Joel dan segera mengunci pintunya.
Ia mengehela nafas lega.
Brukk.. Seseorang memeluknya dari belakang. Jantung Livy berdetak begitu cepatnya.
"Jangan berteriak"
"Allard.."
Allard melepas pelukannya dan tersenyum melihat wajah Livy yang sedikit pucat.
"Sudah 2 hari aku menunggumu, akhirnya bertemu denganmu juga.."
Livy terdiam sesaat, lalu mengambil tongkat kayu yang berada tepat disebelahnya.
"Pergilah ke duniamu sendiri,jangan ganggu aku"
Allard tersenyum "Ayo.. coba pukul aku"
Livy menghantamkan kayu itu ke badan Allard.
Allard tidak merasakan sakit sedikitpun, Livy tak percaya.. kayu yang ia pegang bahkan sudah hancur.
Allard menarik tangan Livy dan membelai bibir mungil merah itu.
"Kenapa kau sangat lemah... bukankan peri juga punya sihir?" ledek Allard
"Karna aku hanyalah peri penyembuh, jadi lepaskan aku... tidak ada gunanya kau menggangguku terus" bentak Livy.
Livy memandang mata merah Allard yang menakutkan, ia juga mengamati setiap bagian dari Allard.
Allard tersenyum "Apa kau tertarik padaku? kenapa memandangiku seperti itu?"
Livy menghela nafas panjang "Aku hanya tidak menyangka, kukira iblis akan terlihat menyeramkan"
"Ya... memang menyeramkan"
Livy tersenyum kecil "huh... kau bahkan tidak menyeramkan sedikitpun"
Livy terdiam ketika Allard mulai menampakkan sayap hitam lebarnya dan juga kedua tanduk hitamnya.
"Apa kau takut sekarang?"tanya Allard.
Livy tak dapat berkata kata, ia terus menatap sayap dan tanduk Allard.
Livy menyentuh tanduk Allard yang runcing dibagian ujungnya.
Allard kembali ke wujudnya yang semula.
Livy menarik kembali tangannya yang berada di kepala Allard.
"Kenapa?" tanya Allard yang melihat Livy terdiam.
"Itu... aku baru pertama kali melihatnya, apa itu sungguhan? bukan trik mu saja?"
Allard mendorong Livy ke pintu, ia menyentuh bibir Livy.
"Aku bisa saja membawamu ke tempatku.... tapi itu akan membuat keributan yang sangat besar"
"Hah ?"
"Aku pergi sekarang, penjaga itu sudah kembali"
Allard mencium bibir Livy dengan lembut lalu menghilang begitu saja.