
Saat mereka berjalan, dari kejauhan tampak ada beberapa penjaga disana, Refan mengamati sekeliling, benar benar sepi, pikirnya. Tiba-tiba ...
" Aaa! ... " kessy berteriak dari belakang Revan saat ada seseorang yang memegang pundaknya, tapi mulutnya langsung dibekap oleh orang yang berada dibelakangnya. sontak Revan terkejut, dia merasa ini bukan bagian dari akting mereka dan langsung melihat ke arah kessy.
"Hana?" Revan mengernyitkan keningnya. Kessy berhenti memberontak saat Refan menyebutkan nama Hana. Iya benar, yang datang adalah Hana. Hana merasa ia tidak bisa membiarkan Refan dan Kessy pergi begitu saja berdua, perlu keamanan untuk mereka berdua, tidak ada yang tau apa yang ada didalam rumah itu, bisa saja disana banyak jebakan. Melihat dari luar saja seperti pagar sudah sangat berbahaya karna memiliki arus listrik bertegangan tinggi, tidak mungkin sembarangan orang bisa masuk ke dalam rumah itu. pasti banyak rahasia besar didalam sana. Jadi Hana memutuskan untuk datang dan membantu Refan dan Kessy.
"Hana kenapa kau datang? apa terjadi sesuatu atau ada masalah?" tanya Kessy setelah Hana melepaskan bekapan di mulutnya.
" tempat ini berbahaya, aku sangat khawatir jika harus membiarkan kalian berdua saja yang menyelidikinya, lagi pula sepertinya tidak semudah itu untuk masuk ke dalam rumah itu" jawab Hana
"kau benar Hana, Lalu apa rencanamu Hana?" tanya Refan
"Bisakah kita masuk ke mobil dulu, aku takut para penjaga itu melihat ke arah kita" Kessy dan Refan pun mengangguk dan mereka masuk ke dalam mobil. Setelah menyusun rencana mereka, Hana meminta Refan dan Kessy untuk memasang alat penyadap, sekiranya nanti mereka butuh bantuan Hana bisa langsung datang untuk membantu mereka.
"Eh lihat itu! mobil tadi sudah pergi lagi" ucap Kessy. Mobil yang Refan dan Kessy lihat memasuki rumah tersebut sudah pergi lagi. Tapi walau begitu mereka akan tetap mencari tau apa yang ada didalam sana, kenapa bisa penjagaan nya bisa seketat itu. Mereka keluar dari mobil kecuali Hana karna Hana hanya akan memantau mereka dari dalam mobil melalui penyadap suara. Sebelum Kessy keluar Hana membisikkan sesuatu pada Kessy yang membuat wajah Kessy memerah.
"Kessy, kamu sangat cantik sudah sangat cocok menjadi istri tuan Refan dan menjadi seorang ibu, tolong jaga anak kalian baik baik ya, tolong jagalah keponakan ku"
"Hana!" Ketus Kessy, ia sangat kesal lalu langsung pergi menghampiri Refan, sedangkan Hana sudah terbawa lepas melihat itu.
Kessy dan Refan mulai berakting. Awalnya Refan memapah Kessy seperti layaknya seorang suami yang memapah istrinya yang kesusahan berjalan karena sedang hamil besar. Sesampainya didepan para pengawal, Kessy berpura-pura kelelahan dan meminta kepada Refan untuk beristirahat.
"Suamiku, bisakah kita beristirahat sebentar, aku sangat lelah dan haus," ucap Kessy dengan suara yang memelas. Tentunya mereka tidak luput dari pandangan para penjaga. Refan mengedarkan pandangannya, setelah itu ia menemui salah satu penjaga di dekat rumah tersebut.
"Tuan, bisakah kami beristirahat sebentar di dalam sana? istri saya sangat kelelahan berjalan, mobil kami mogok, sudah satu jam kami menunggu bantuan tapi tidak ada yang lewat di jalan ini tuan, boleh kah tuan?" Ucap Refan mendramatisir. Dua penjaga yang ada disana terlihat kebingungan, mereka tidak bisa membolehkan sembarangan orang untuk masuk kedalam sana. Tiba tiba saja ada seorang ibu yang datang menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya ibu tersebut.
"Nyonya, istri saya sudah sangat kelelahan, mobil kami mogok nyonya, sudah satu jam kami menunggu bantuan tapi tidak ada satu pun kendaraan yang lewat di jalan ini," jelas Refan.
"Disini memang sepi, ah tidak masalah kalian masuklah jika ingin beristirahat, lagi pun aku kasihan melihat istrimu kelelahan seperti itu," ucap ibu tersebut. Awalnya penjaga disana tidak mau, tapi dengan sedikit bujukan dan sogokan dari sang ibu berupa berjanji akan mengantarkan makanan yang banyak nantinya, akhirnya Kessy dan Refan diizinkan masuk ke dalam. Tidak lupa Kessy dan Refan mengucapkan terima kasih kepada Ibu tersebut.
setelah mereka sampai di dalam rumah, Kessy dan Refan di persilahkan untuk duduk di ruang tamu. Menurut kessy rumah tersebut terkesan sederhana, tidak ada hal-hal yang mencurigakan atau berbahaya. Kemudian Ibu tersebut pergi ke dapur.
"Refan! aku merasa rumah ini biasa saja, tidak ada hal yang mencurigakan, yang tinggal pun hanya seorang ibu yang sudah rentan, tidak mungkin rasa jika ibu tadi yang menjadi musuh tuan Arga," ucap Kessy berbisik pada Refan.
"Kau benar, aku juga merasa begitu tapi kita tidak tau rahasia di balik rumah yang sederhana ini, sepertinya kita perlu lebih teliti lagi,"
"Iya, kau benar!"
Ibu tadi kembali ke ruang tamu dengan 2 buah gelas air dan sedikit cemilan untuk Kessy dan Refan.
"Ini nak, minumannya, maaf jika hanya ada air putih dan sedikit cemilan," ucap ibu itu merasa tidak enak.
"tidak apa Nyonya tidak usah repot-repot, terima kasih telah mengizinkan kami beristirahat dan sudah menjamu kami juga Nyonya" jawab Kessy. Kessy dan Refan dilarang oleh Hana untuk minum atau makan di rumah tersebut karna takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk mengalihkan itu, Kessy mulai bercengkrama dengan ibu tersebut.
"Oh iya Nyonya, perkenalkan nama saya Dila dan ini suami saya Rafly Nyonya, kami berdua ingin pergi ke kota tapi sayangnya mobil kami mogok tidak jauh dari rumah nyonya, kami pikir kami tidak akan menemukan rumah disini karna disini sangat sepi jangankan rumah, kendaraan saja jarang sekali lewat disini Nyonya," ucap Kessy
"Iya nak Kessy, tidak usah memanggil nyonya panggil saja ibu, perkenalkan juga nama ibu, Zahra, disini memang tidak ada satupun rumah penduduk kecuali rumah ini dan juga disini juga jarang sekali ada kendaraan yang berlaku lalang, mungkin hanya satu dua kendaraan seperti kalian," balas Bu Zahra.
"Baik buk, oh iya maaf sebelumnya buk, kenapa ibu bisa terfikir untuk membuat rumah disini? apakah ini tanah warisan keluarga ibu?" Bu Zahra tersenyum mendengar pertanyaan dari Kessy.
"Tidak nak, ini bukan tanah warisan tapi ... hah ..." Bu Zahra seperti tertekan untuk menjawab pertanyaan ini, wajahnya terlihat memancarkan kesedihan.
"Tapi kenapa buk?" lama Bu Zahra terdiam, Kessy pun mulai menyenggol Refan dengan sikunya, meminta pertolongan untuk mengembalikan suasana, ia menjadi bingung karna Bu Zahra hanya diam.
" ah maaf sebelumnya buk, jika tidak ---" ucapan Refan terhenti karena ada yang masuk ke dalam rumah tersebut.
"Assalamualaikum!"
"Lucy?"