
Seorang gadis berhijab yang memakai cadar sedang berjalan tertunduk didalam gedung yang serba putih.Gedung yang hampir dua bulan ini ia datangi.Hanya satu ruangan yang menjadi tujuannya,ruangan yang keamanannya dijaga ketat oleh para pengawal yang handal dan terlatih.Itu adalah ruangan Arga dirawat,sudah hampir dua bulan ia masih tak sadarkan diri.
Gadis itu adalah Hana,ia memakai cadar agar tak seorangpun mengenalinya dan itu akan mempermudah dirinya untuk menjalankan rencananya tanpa diketahui oleh siapapun.
Hana berjalan dengan wajah datarnya,sesekali ia menganggukkan kepala sebagai balasan dari sapaan para penjaga yang ada pintu masuk ruangan Arga.Bukannya Hana sombong atau apa,tapi sikap yang dingin dengan orang lain masih melekat pada dirinya.
Hana menghembuskan nafas kasar sebelum memutar kenop pintu ruangan tersebut.Hana dengan perlahan memutar kenop pintu dan menolak pintu tersebut agar terbuka.Ketika pintu telah terbuka dengan posisi masih memegang kenop pintu,Hana melihat dua sosok manusia disana,ada Arga yang masih setia memejamkan matanya,sedang sosok yang lainnya ialah Maryana yang duduk dikursi kecil disamping brangkar Arga.Maryana menggenggam erat tangan putranya dan kepalanya yang ditidurkan disamping genggamannya,sepertinya ia tertidur karna kelelahan menjaga Arga.
Hana memasuki ruangan tersebut,dengan perlahan ia menutup pintu itu kembali.Hana mengucapkan salam dengan pelan agar tak membangunkan Maryana.
"Assalamualaikum..."
Setelahnya Hana meletakkan tasnya diatas sofa.Iya berjalan menghampiri Maryana lalu menusap lembut bahu Maryana untuk membangunkannya.
"Nyonya!!!"
Maryana mengerjapkan matanya kemudian menegakkan tubuhnya dari posisi semula.Ia menatap Arga sekilas lalu beralih menatap Hana.
"Kau sudah pulang Hana?"
Hana menganggukkan kepalanyanya.Hana meminta Maryana untuk segera pulang dan istirahat.
"Nyonya sebaiknya anda pulang dan beristirahat.Supir anda sudah menunggu dibawah nyonya"
Maryana tersenyum lembut kearah Hana,setelah itu Maryana berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pulang.Memang selama Arga koma,Maryana dan Hana selalu bergantian menjaga Arga.Kerap pula Merry dan Kessy juga datang untuk sekedar melihat kondisi Arga.
Refan?dia juga sudah mengetahui kondisi Arga karna Hana tak ingin sahabat tuannya ini khawatir kehilangan Arga.Hana menjalankan rencananya dibantu oleh Refan,Kessy, Asraf dan juga beberapa rekannya yang dulu pernah satu fakultas dengannya.Tentunya mereka adalah orang orang yang bisa dipercaya.
Hana mengantar Maryana sampai keluar ruangan kemudian ia memberi intruksi kepada salah satu penjaga untuk mengantar Maryana kebawah.Setelah Maryana pergi Hana kembali masuk kedalam ruangan.
Hana mendudukkan tubuhnya di atas tempat duduk yang ditempati Maryana tadi.Hana menatap Arga lekat.
"Mau sampai kapan anda akan tertidur seperti ini tuan,apa kasur rumah sakit ini terlalu nyaman sehingga anda enggan untuk membuka mata anda" monolog Hana sendiri.
Hana terdiam beberapa saat,kemudian kembali bermonolog lagi,menceritakan apa saja yang dia lakukan.
"Tuan!!!,anda benar musuh anda bukanlah orang biasa,mereka merencanakannya dengan rapi dan sangat sempurna.Saya melihat pergerakan mereka tapi saya tidak tau siapa pelakunya.Sungguh konyol sekali saya begitu payah,memecahkan kasus ini saja saya tidak bisa.Kapan anda bangun tuan,kalau saja anda tidak seperti ini pasti anda akan menatap tajam dan kesal pada saya karna tak bisa mengerjakan tugas dengan baik,lalu pasti anda akan memarahi saya"
Hana memejamkan matanya agar lebih tenang.Kemudian Hana beranjak dari duduknya.Ia duduk disofa lalu mengeluarkan leptop dan beberapa kertas kertas dari dalam tasnya.Hana melanjutkan tugasnya,mengumpulkan beberapa informasi dari para rekannya.
Keesokan paginya,Hana terbangun karna mendengar suara adzan dari ponselnya.Hana mengerjapkan matanya,mengumpulkan seluruh kesadarannya.Saat matanya menatap Arga,betapa terkejutnya Hana mendapati Arga yang sudah terbangun dan berusaha mendudukkan tubuhnya.
Dengan gerakan cepat Hana berlari menghampiri Arga,tak peduli lagi dengan kertas yang berserakan dilantai karna ulahnya.Hana langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
"Tuan!!!"
"Tuan,anda sudah sadar,jangan duduk dulu,berbaring saja,sebentar lagi dokter akan segera kesini" Ucap Hana yang melihat Arga hendak bangun dari posisi baringnya.
"Kenapa aku bisa dirumah sakit?" tanya Arga lemah.
"Tuan apa anda tidak mengingat kejadian malam itu?...tunggu tunggu apa anda mengenali saya tuan?" Melihat reaksi Arga membuat Hana bingung dan khawatir,jangan jangan tuannya amnesia.
"Kau bodyguardku,tentu saja aku kenal" ketus Arga.Hana menghela nafas lega,ia bersyukur karna tuannya tak amnesia.
Dokter Zain sudah datang,ia dengan segera memeriksa Arga.
"Tuan Arga sekarang sudah baik-baik saja,tapi dia belum boleh pulang karna kondisinya masih lemah" Hana mengucapkan hamdalah mendengar ucapan dokter Zain.
"Terima kasih dokter Zain"
"Sama sama kalau begitu saya akan kembali,banyak pasien yang harus saya periksa"
"Baik dokter Zain"
Hana membungkukkan sedikit badannya memberi hormat pada dokter Zain dan dibalas dengan senyuman oleh dokter Zain setelah itu dia pergi keluar darinruangan tersebut.
"Aku hanya ingin air putih"
Hana segera mengambilkan air mineral untuk Arga dan memberikan padanya.Hana dengan segera menghubungi Maryana dan Leon.Pasti mereka sangat bahagia mendengar ini.Setelah menghubungi Maryana dan Leon Hana juga menghibungi Merry, Asraf, Refan dan juga Kessy.
Hana membereskan kertas-kertas yang berserakan dilantai ia kembali memasukkannya kedalam tas.Arga berusaha mendudukkan posisinya,ia mengernyit heran kertas kertas apa yang dibawa oleh Hana.
"Kertas apa itu,kenapa banyak sekali dan kenapa kau bawa kesini?"
Aku kasih tau tidak ya,ah jangan dulu tuan mudakan baru sadar jika aku perlihatkan ini semua pasti dia akan shock,bagaimana jika dia koma lagi.
"Hei kau mendengarku?" Teriak Arga membuyarkan lamunan Arga.
"Eh? iya tuan saya mendengar anda" ucap Hana masih kaget.
Baru sadar dari koma saja sudah membuat telinganku panas apalagi kalau sudah mulai bekerja pasti sifat menyebalkannya kembali lagi.
"Kau melamun lagi?ayo jawab pertanyaanku" teriak Arga sekali lagi.
"Saya mendengar anda tuan jangan berteriak seperti itu,telinga saya panas jika anda berteriak nanti anda bisa koma lagi" ceplos Hana tanpa sadar
"Kau....." geram Arga,Hana langsung tersadar dengan ucapannya.
"Maaf tuan bukan begitu,ini bukan kertas sembarangan,ini beberapa dokumen penting selama saya bekerja" jelas Hana gelagapan untuk menghindari amukan Arga.
"Bekerja?"
"Itu....saya....saya...." Hana bingung harus menjawab apa tapi suara orang membuka pintu membantu Hana untuk menyembunyikan hal tersebut terlebih dahulu.Maryana dan Leon datang, Maryana langsung menghambur memeluk putranya itu,sedangkan Leon hanya menatap lekat putranya tersebut masih merasa bersalah karena kelakuannya waktu itu.
Maryana menyudahi pelukannya,ia menangkup kedua sisi wajah Arga dan menatapnya lekat lekat.
"Nak kamu jangan buat mama khawatir lagi ya" lirih Maryana yang dibalas anggukan oleh Arga.Arga menatap Leon yang ada dibelakang Maryana.Leon berdehem karena merasa diperhatikan oleh putranya itu.
"Arga!!!" panggil Leon.Arga menaikkan sebelah alisnya.
"Papa mau minta maaf karna telah memaksamu menikahi Clarissa dan membuatmu berakhir seperti ini.Hana sudah memberitahu papa semuanya dan sekarang papa tau kenapa kamu menolaknyanya jadi sekali lagi papa minta maaf" Ucap Leon,Arga yang mendengar penuturan Leon mengalihkan pandangannya pada Hana.Hana yang juga melihat Arga membuat pandangan mereka bertubrukan.Hana tersenyum tipis melihat Arga.Kemudian Arga kembali menatap Leon.
Hah....Arga menghembuskan nafas kasar.Arga tersenyum tulus kearah papanya.
"Tidak apa pa,Arga tau hal itu papa lakukan demi kebahagiaan Arga,Arga sudah memaafkan papa karna sekarang papa sudah tau semuanya.Dan..Arga juga mau minta maaf karna sudah membentak papa waktu itu" Jelas Arga.Leon pun langsung mendekap Arga.Maryana yang melihat itu terharu hingga meneteskan air mata.Leon mengulurkan tangannya pada Maryana untuk ikut berpelukan dengan mereka.
Hana tersenyum Lega melihat semua sudah kembali sepeti semula.
Suara pintu yang dibuka menghentikan adegan berpelukan mereka.Refan dengan keras membuka pintu membuat semua orang menghadap kearahnya.Ia terlihat ngos ngosan seperti selesai berlari.Refan menghampiri Arga dan lansung memeluknya kilas tak mempedulikan orang sekitar.Leon dan Maryana hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Refan,mereka sudah tau seberapa dekat Refan dan Arga.
"Masuk itu baca salam jangan main masuk langsung saja" tegur Leon.
Refan nyengir menunjukkan deretan giginya.
"Assalamualaikum om,tante" Salam Refan sambil mencium tangan Maryana dan Leon.
"Waalaikumsalam" ucao Maryana dan Leon serempak,Hana yang mendengar salam Leon juga ikut menjawab salam dengan suara pelan.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMEN YAH
Lopyu Reiders yang bertahan