BODYGUARD BERHIJAB

BODYGUARD BERHIJAB
Masalah Besar



" Tapi untuk saat ini aku tidak bisa membantunya, kau taukan statusku seperti apa sekarang?"


" Jika tentang hal itu, yang paling dibutuhkan saat ini adalah kepercayaan anda pada tuan Refan "


" Ya kau benar "


Dzzzzz.....Dzzzzzz......Dzzzzz


Atensi Hana dan Arga teralihkan karna ponsel milik Arga berbunyi. Arga melirik Hana sekilas lalu beralih pada ponsel miliknya yang tegelatak diatas meja kerjanya.


" Siapa tuan? " Tanya Hana.


" Bukan urusanmu" jawab Arga. Arga segera menganggkat panggilan telpon tersebut.


" Assalamualaikum Refan!"


"Huh..ternyata tuan Refan ya? ih apa sulitnya sih memberitahu bahwa tuan Refanlah yang menelpon? memang dasar pria menyebalkan" racau Hana dalam hati.


"Waalaikumsalam Ar "


"Ada apa? apa kau punya masalah dikantor?" tanya Arga.


"Iya, ini sangat darurat Ar sangat darurat"


Arga mengernyit heran, Arga sangat bingung kenapa Refan terdengar sangat panik.Melihat wajah bingung Arga, Hana juga ikut bingung.


"Speakerkan tuan " bisik Hana


" Kau terlalu ikut campur" bisik Arga balik.


"Ayolah tuan" ujar Hana dengan memelas, membuat jantung Arga berdegup kencang.


" Hah...kau ini " karna tak tahan Arga langsung menspeakerkan panggilannya.


" Tenanglah dulu, sebenarnya ada apa?" tanya Arga pada Refan.


"Sepertinya ada yang menjebakku diperusahaan, ada yang memfitnahku menggelapkan uang perusahaan"


Mendengar hal itu, Arga dan Hana langsung saling pandang. Mereka sudah tau itu ulah siapa jadi tidak terlalu terkejut.


"Ada beberapa kerja sama dengan perusahaan besar lain yang dibatalkan dengan mengatas namakan namaku membuat kita rugi besar dan membuat mereka meminta ganti rugi"


Kali ini ucapan Refan benar-benar membuat Arga dan Hana kaget, bagaimana tidak, jika dituduh menggelapkan uang perusahaan saja itu masih bisa diatasi tapi apa ini? membatalkan kerja sama dengan perusahaan lain?.


Brak...


Trak...


Arga yang sudah naik pitam langsung menggeprak meja kerjanya lalu melempar ponselnya begitu saja. Hana yang tak siap pun langsung terperanjat kaget.


Arga sekarang benar-benar sudah diselimuti oleh amarahnya.


" Sa...sabar tuan muda, istighfar"


" Kali ini dia sudah benar-benar keterlaluan" teriak Arga. Hana hanya bisa memejamkan matanya mendengar teriakan Arga yang seperti menusuk gendang telinganya.


Arga berdiri didepan Hana dan tanpa sadar mencengkram kuat kedua bahu Hana membuat Hana meringis kesakitan.


" AKU TIDAK MAU TAU, APAPUN CARANYA KAU HARUS BISA MEMBUATKU KEMBALI KEPERUSAHAAN DAN INGAT!!! KAU HARUS MELAKUKANNYA BESOK, AKU INGIN BESOK AKU BISA KEMBALI KEKANTOR!!! " Teriak Arga didepan Hana yang mengabaikan pemberontakan dari Hana.


Plak....


Hana menampar Arga tepat dipipinya. Arga terdiam merasakan pipinya yang terasa panas.


" Ma...ma...maaf " ucap Hana gagap, ia langsung memandangi tangannya yang menampar Arga tadi."Habislah aku, tuan muda pasti sangat marah padaku, aaaaa! hei tangan kenapa kau begitu ringan pada tuan muda"


" Tu..tuan!, maafkan saya, saya tak sengaja, ta..tangan saya refleks, maafkan saya" Arga masih tetap diam seakan nyawanya tak berada ditubuhnya. Hana hanya bisa menundukkan kepalanya, meratapi kesalahannya.


" Maaf "


Hana langsung mendongakkan kepalanya menatap Arga yang berjalan menuju kearah sofa dan terduduk disana. Ia menundukkan kepalanya sambil sesekali mengusap kepala dan wajahnya kasar.


Hana meringis melihat keadaan Arga yang sepertinya sangat marah bercampur dengan rasa keputus asaan.


" Maaf " lirih Arga lagi.


" Maafkan saya tuan muda, tak seharusnya saya menampar anda tadi dan soal masalah ini, maafkan saya yang tidak bisa memperkirakan dan mengatasinya tuan muda " Hana kembali menundukkan pandangannya.


" Maafkan aku, tak seharusnya aku berbuat kasar padamu tadi, ini semua salahku, ini semua karna aku sangat lemah, karena kebodohanku, semua masalah ini terjadi karena aku, apa yang akan aku katakan pada papa nanti" lirih Arga.


"Jangan salahkan diri anda tuan, ini juga kesalahan saya tuan muda, saya tidak becus mengurusi masalah ini dan membuat mereka berada satu langkah didepan kita"


Arga diam begitu pun Hana. Merekan tak tau lagi harus berbicara apa.


DZzzzz......Dzzzzz....


Kali ini handphone milik Hana yang berbunyi. Hana mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan segera menjawab panggilan tersebut.


"Kessy? ada apa dia menelponku? apa jangan-jangan...."


" Waalaikumsalam Hana"


" Ad..ada apa?" gugup Hana yang melirik Arga sekilas yang masih menundukkan kepalanya.


" Hana! kali ini Refan sudah sangat keterlaluan, dia membatalkan begitu saja kerja samanya dengan perusahaan ayahku, aku tau aku memiliki banyak kesalahan tapi apakah patut dia membatalkan kerja sama dengan ayahku?" Ucap Kessy menggebu disebrang sana.


" Dasar pria brengsek, dasar pria tak punya hati, perusahaan ayahku banyak mengalami kerugian karenanya" lanjutnya.


Hana meringis, ini bukanlah salah Refan tapi Kessy sudah memakinya.


" Tenanglah Kessy, sekarang aku mau kau segera datang kerumah tuan muda Arga, ku mohon jangan banyak bertanya dan cepat datang kesini" ucap Hana


" Baiklah, assalamualaikum "


" Waalaikumsalam"


Ceklek...


Pintu ruang kerja Arga terbuka menampakkan sosok Maryana yang tampak bingung.


" Nyonya besar"


Arga mendongakkan kepalanya menatap Hana lalu beralih menatap kearah pintu. Maryana melangkah masuk.


" Ada apa Nak? tadi mama mendengar suara keras dari sini?"


Arga dan Hana sama-sama saling menelan saliva susah. Mereka saling pandang membuat Maryana mengernyit heran.


" Hana apa terjadi sesuatu?"


" Hah? " Hana melirik Arga. Tatapan Arga seperti mengatakan jangan mengatakan apapun pada Maryana untuk saat ini. Hana yang mengerti pun langsung mengalihkan pembicaraan.


" Hana!"


" Iya nyonya, apa tuan besar sudah merasa baikan?"


" Ya, suamiku sudah merasa baikan, ada apa? Arga apa ada masalah? kenapa wajahmu kusut sekali"


" Tidak apa ma, lebih baik mama menemani papa saja, mungkin apa sekarang butuh sesuatu" ucap Arga dengan tersenyum.


" Ah..ya kamu benar nak, kalau begitu mama akan pergi kekamar sekarang"


Untung saja Maryana bukan orang yang banyak tanya, Arga menghela nafas lega begitupun Hana.


Maryana keluar dari ruangan tersebut dan keheningan kembali menyelimuti mereka.


" Oh..itu..Hana maafkan aku karna berlaku kasar padamu tadi dan terima kasih karna sudah menyembunyikan masalah ini dari mama " Ucap Arga yang sepertinya salah tingkah.Ia mengusap tengkuknya yang tak gatal.


" Hah? tidak apa tuan, saya juga minta maaf karna menampar anda tadi"


" Iya, lalu apa rencanamu?"


" Rencana? ah iya saya akan menyuruh tuan Refan dulu kesini" Hana segera menelpon Refan.


》》》


Mobil Refan dan taksi Yang ditumpangi Kessy datang bersamaan didepan rumah besar Admadja. Kessy keluar dari mobil begitupun dengan Refan.


" Kau?" mereka saling kaget dan menunjuk satu sama lain.


" Kau? apa yang kau lakukan disini?" Ketus Refan


"Hei tuan, seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini? pria brengsek dan arogan seperti anda tak pantas berada disini" jawab Kessy kasar.


" Apa yang kau katakan? coba katakan sekali lagi" Refan seketika berubah dingin menatap tajam wanita yang barusan mengatai dirinya seenaknya.


" Ya, kau pria brengsek, arogan, pria yang begitu saja membatalkan kerja sama dengan perusahaan lain tanpa memikirkan dampaknya apa" murka Kessy.


" Kau tidak tau apa-apa lebih baik kau diam" Bentak Refan.


" Kau yang seharusnya diam" Teriak Kessy.


Pengawal yang berada didepan pintu merasa bingung begaimana menghentikan tuan dan nona yang ada didepanereka ini mereka terus saja saling membentak dan berteriak satu sama lain. Hingga salah satu dari pengawal itu masuk dan segera memanggil Hana dan juga Arga.


" HEI KALIAN!!!"


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMEN YAH


Lopyu Reiders yang bertahan