
" Apa saja yang kau lakukan hah?! kenapa bisa dipecat, dasar bodoh mengurus hal itu saja kau tidak bisa! apa kau mau mati hah! " teriak seseorang penuh amarah.
Orang itu tak henti-hentinya menyiksa bawahannya itu.
" Maafkan aku, maafkan aku, hiks ... aku terlalu takut, aku sangat takut hiks ..." lirih bawahan itu
" Oh jadi kau takut padanya tapi kau tidak takut jika aku membunuh ibu dan adikmu? baiklah kau tidak memberikanku pilihan "
" Jangan! jangan sakiti mereka! aku mohon, hiks ... jangan sakiti mereka "
" Lalu kenapa kau sangat bodoh, kau mempersulit jalanku untuk menghancurkannya !!! "
" Aww!! hisss!!... "
Orang itu menarik rambut bawahannya dengan sangat kuat sedang bawahannya itu hanya bisa meringis dan menangis.
" Maafkan aku, hiks ... apa kau tidak kasihan dengan ibu? dia juga ibumu! "
" Haha ... kau bilang apa? ibuku? tidak sudi aku memiliki ibu sepertinya "
orang itu semakin kuat menarik rambut bawahannya.
Bugh....
Dengan sekali hentakan bawahannya jatuh terduduk sangat keras dilantai.
Orang itu pergi begitu saja keluar dari ruangan kosong itu.
》》》
Hana terbangun pada waktu subuh, ia segera membersihkan tubuhnya dan segera menunaikan shalat subuh. Hana sudah kembali keapartemen karena Arga juga kembali kesana.
Disisi lain, Arga juga terlihat sudah bangun dan sekarang sedang menunaikan shalat subuh. Setelah selesai shalat subuh Arga melihat membuka ponselnya apakah ada pesan yang masuk ataupun email.
Alis Arga terangkat sebelah saat ia melihat ada satu pesan dari nomor tak dikenal.
" Aku rasa aku tidak memberikan nomor ponselku pada siapapun kecuali keluarga " guman Arga.
" Haha ... ternyata kau selamat ya, aku pikir kau sudah tiada, boleh juga rencanamu mengelabuiku tapi ... untuk mengalahkanku kau tidak akan bisa dengan rencana kecilmu itu.
Bersiaplah untuk mati Arga " Isi Pesan.
Emosi Arga melonjak, ia segera menghubungi nomor itu ternyata nomornya sudah diblok.
" Sialan " Arga melempar ponselnya untung saja tepat di atas sofa.
" Argkk ... " Arga mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Arga mengambil ponselnya kembali, ia langsung menelpon Hana dan menyuruhya untuk segera kekamarnya.
" Datang kekamarku sekarang juga!!! " Teriak Arga setelah Hana menerima pnggilannya kemudian langsung mematikannya. Hana terjingkat kaget saat mendengar teriakan Arga spontan ia menjauhkan ponselnya dari telinganya.
" ada masalah apa lagi tuan? kenapa pagi-pagi begini anda sudah marah-marah? aduuh telingaku, telingaku terasa sangat panas." batin Hana.
Hana segera pergi keluar dari apartnya menuju apart Arga sambil mengusap-ngusap telinganya.
Hana sudah berada diapart Arga sekarang. Saat ia masuk Arga langsung melemparkan ponselnya pada Hana. Hana yang tidak siap pun gelagapan menangkapanya.
" Lacak nomor yang mengirimkan pesan itu padaku " perintah Arga pada Hana setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Hana mengernyit bingung bergantian menatap ponsel Arga dan tuannya.
" Lacak? pesan? apa maksudnya? apa tuan ingin aku memeriksa sesuatu? "
Hana mengangkat bahunya acuh, ia segera memeriksa ponsel Arga. Ia takjub dengan Arga karena ponselnya tidak dikunci sama sekali. Hana memeriksa pesan yang masuk, Hana kaget saat membaca satu pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal.
" Apa tuan menyuruhku memeriksa ini? ya pasti ini yang membuatnya marah "
Hana berpikir sejenak, ia menjentikkan jarinya ketika sudah menemukan cara untuk melacak nomor itu.
Hana langsung berbalik badan hendak pergi dari ruangan Arga, namun terhenti saat Arga kembali bersuara.
" Belum tuan, saya akan mengambil leptop saya dulu " Ucap Hana yang dibalas Anggukan oleh Arga.
Sekitar 5 menit, Hana sudah kembali dengan leptopnya. Arga menggeser duduknya dan menyuruh Hana duduk disampingnya. Hana mendudukkan tubuhnya setelah itu mulai beraksi melacak nomor itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Hana sudah selesai melacak nomor itu.
Hah .... Hana menghembuskan nafas kasar.
" Ada apa? apa kau tidak menemukan apa-apa? " Tanya Arga saat melihat raut wajah Hana yang terlihat masam.
" Sepertinya nomor ini sudah tidak digunakan lagi tuan " Jawab Hana
" Maksudmu dia langsung membuang kartunya setelah mengirimkan pesan padaku? " Hana menganggukan kepalanya pelan.
" Tapi ... "
" Tapi apa?
" Tapi saya tau lokasi terakhir saat nomor ini digunakan "
" Dimana? "
" Entahlah tuan, sepertinya ini daerah terpencil "
" Benarkah? "
Hana menganggukkan kepalanya.
》》》
Sekarang Hana dan Arga sudah berada diperusahaan. Sedari tadi Hana hanya menatap Arga yang mondar-mandir tidak jelas.
" Tuan, apa ada yang bisa saya bantu? " tanya Hana.
" Bantu? " Hana menganggukkan kepalanya.
" Oke, mulai hari ini kau yang akan jadi sekretariku " Ucap Arga terdengar seperti memerintah dibanding meminta.
" Apa? yang benar saja tuan? kenapa harus saya? kenapa bukan tuan Refan saja, kan nona lucy sudah tidak berada disini " ucap Hana tidak terima, bagaimana ia harus menghadapi semuanya sekaligus, masalah Arga saja sudah membuatnya pusing, sekarang ia diminta jadi sekretaris yang akan mengurusi perusahaan, yang benar saja bisa mati ditempat ia.
" Bukankah kau mau membantuku, sekarang aku ingin kau menjadi sekretarisku dan untuk Refan, apa kau bodoh jika aku memasukkan Refan kembali keperusahaan tanpa membersihkan namanya, bisa bisa semua rencana kita akan diketahui oleh musuh, kita tidak tau ada berapa banyak orang mereka diperusahaan ini " jelas Arga.
Hana hanya bisa cengo mendengar Arga yang berbicara panjang lebar, baru kali ini ia mendengar Arga berbicara sepanjang itu.
" Hei !! apa kau mendengarku? " teriak Arga.
" Hah? iya tuan saya mendengarnya "
" Jadi kau harus menerima ini, jika tidak maka aku akan memotong gajimu " ancam Arga
" Iihh ... selalu saja mengancam akan memotong gajiku, apa kau tidak kasihan sedikit pun padaku tuan? dasar kau pria tak berperasaan " racau Hana dalam hati.
" Jangan mengumpatiku atau kau benar-benar ingin aku memotong gajimu "
" Tidak tuan, jangan potong gaji saya baiklah saya menerima menjadi sekretaris anda tuan " Ucap Hana dengan malas.
" Baiklah, karna kau baru kau akan dibantu oleh asisten papa, aku akan mengabarinya "
" Baik tuan "
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMEN YAH
Lopyu Reiders yang bertahan