BODYGUARD BERHIJAB

BODYGUARD BERHIJAB
Markas Rahasia



Keesokan harinya, Hana memutuskan untuk mengajak Arga kemarkas rahasianya yaitu tempat yang dijadikan olehnya dan teman-temannya untuk merancang semua rencananya. Hana juga memberitahukan kepada semua teman-temannya untuk bertemu hari ini juga untuk membahas rencana yang telah ia susun sebelum.


Sekarang mobil Arga sudah berada disebuah rumah yang terbilang cukup sederhana dan jauh dari keramaian. Setelah keluar dari mobil, Arga mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu.


Begitu asri dan damai, aku sangat suka dengan tempat ini. Batin Arga.


" Tuan! mari ikut dengan saya! "


Arga menganggukkan kepalanya setelah itu ia mengikuti Hana memasuki rumah itu. Setelah sampai didepan pintu utama Hana memasukkan kode pasword untuk membuka pintu tersebut setelah sebelumnya ada sebuah alat didepan pintu memindai matanya. Hana yang sedari tadi memperhatikan Hana hanya memilih diam tanpa ada niat untuk bertanya walau sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang ada dikepala.


Setelah pintu terbuka, Hana mempersilahkan Arga untuk masuk kedalam rumah tersebut. Arga terpana setelah masuk kedalam rumah tersebut, bagaimana tidak rumah tersebut kosong dan tidak ada barang atau perabot rumah tangga satupun. Arga hanya melihat ada beberapa pintu yang menurutnya itu ada pintu kamar. Hana yang melihat kebingungan Arga mengerti.


" Tuan berhati-hatilah! walau rumah ini terlihat kosong, tapi disini banyak sekali jebakan " jelas Hana menjawab kebingungan Arga.


" Benarkah, siapa pemilik rumah ini? "


" Benar tuan, jika anda melakukan sesuatu tanpa berhati-hati, pisau atau peluru bisa datang dari arah mana saja dalam rumah ini, dan pemilik rumah ini adalah saya tuan " Jelas Hana


" Waw ... luar biasa, siapa Arsitek yang membangun rumah ini? aku juga ingin membuat rumah ini " Ucap Arga.


" Saya juga tidak tau tuan, ini adalah hadiah ulang tahun saya yang ke-21 tahun yang diberikan oleh Tuan besar Aldrick, tuan muda" Ya rumah itu adalah rumah pemberian dari suami Nyonya Merry, Tuan Pervaiz Aldrick.


" Baiklah "


Setelah itu, Hana membawa Arga memasuki sebuah ruangan, disana ruangnya tidak kosong melainkan ada banyak buku yang tersusun rapi dirak buku. Disana juga terdapat meja dan kursi untuk membaca. Tak hanya itu disana juga terdapat sofa panjang dan sebuah meja kecil didepannya. Hana mendekat kearah meja dan kursi untuk membaca, disisi meja terdapat sebuah tombol yang tidak bisa terlihat karena permukaannya rata, persis menyerupai meja sehingga tidak akan ada orang yang menyadarinya.


Seketika lantainya bergerak dan membuka akses sebuah jalan menuju ruang bawah tanah. Arga kaget, bagaimana mungkin ada ruangan tersembunyi seperti itu. Sangat luar biasa, pikirnya.


Hana kemudian menuntun Arga memasuki ruangan rahasia tersebut. Setelah mereka sampai dibawah sana dan sedikit berjalan menyusuri ruangan dibawah sana hingga mereka sampai didepan pintu sebuah ruangan. Hana membuka pintu itu dan ...


" Assalamualaikum! " Salam Hana.


" Waalaikumsalam! " Jawab mereka serempak.


Arga kaget melihat teman-temannya dan 2 orang yang menurutnya itu adalah teman Hana sudah berada diruangan itu. Namun, ia kembali menetralkan mimik wajahnya kembali menjadi datar.


" Akhirnya kalian sampai juga! " Ucap Refan mendramtis.


" Iya Hana, kenapa lama sekali, kita disini sudah jamuran menunggu kalian " Ujar Dimas menimpali ucapan Refan.


" Halah ... kau saja juga baru datang! " Ucap Kessy sambil memukul pelan bahu bahu dimas.


Hana yang melihat sikap teman-temannya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


" Sudah-sudah, oh ya tuan muda silahkan duduk"


Arga segera mendudukkan tubuhnya disamping Refan. Saat ini, pandangannya tak lepas dari Dimas dan juga Rey yang bergabung bersama mereka sekarang. Hana yang merasa tuannya hanya diam saja, lalu melihat kearah Arga. Hana mengernyit heran kemudia ia mengikuti arah pandang Arga. Seketika Hana menepuk jidadnya sendiri. Ia lupa untuk memperkenalkan Rey dan Dimas pada arga.


" Tuan! perkenalkan ini teman-teman saya, yang pakai kaca mata itu Rey, dia adalah orang yang memebantu saya untuk mencari data orang-orang yang kami curigai seperti pada waktu itu, anda masih ingat dengan Nona Laila Juanda? nah dia inilah yang membantu saya menemukan nona Laila" Ucap Hana memperkenalkan Rey


" Lalu ini adalah Dimas, dia adalah orang yang membantu saya dalam menyelidiki dan mendatangi beberapa tempat yang sedang kami pantau, dan dialah yang membantu saya menyelidiki nona Lucy hingga kita bisa menemukan bukti tentang penghianatan nona Lucy " Lanjut Hana menjelaskan


" Terima kasih aku ucapkan untuk kalian semua karena sudah membantuku dalam menghadapi masalahku ini " Ucap Arga tulus


" Ah tidak masalah tuan muda, anda adalah tuan dari temanku Hana, Hana sering sekali membantuku jadi sudah sewajarnya juga aku membantunya dalam menyelesaikan masalah tuannya. Karna Hana pernah bilang jika masalah tuannya juga merupakan masalahnya dan bagiku masalah Hana juga adalah masalahku, jadi aku akan selalu membantunya " Ucap Rey. Hana tertegun mendengar ucapan Rey, ia merasa sangat beruntung memiliki teman-teman yang baik padanya.


" Iya, tidak perlu mengucapkan terima kasih, Mai juga sering membantuku jadi saat dia butuh bantuan aku akan selalu ada untuknya " Ucap Dimas sambil tersenyum kearah Hana dan dibalas pula dengan senyuman hangat oleh Hana.


" Mai? " satu kata itu yang menggantung dipikiran Arga


" Oh ... Dimas adalah teman Hana sedari kecil jadi Dimas memanggil Hana dengan Mai. Umm panggilan sayang, bukan begitu Hana? " Ucap Kessy menggoda Hana.


" Kamu ini apa-apaan sih Kessy! " Ucap Hana datar


" Kessy benar, aku dan Hana itu sudah saling menyayangi sedari kecil, aku sangat sayang padanya dan dia juga sangat sayang padaku " jelas Dimas mantap. Refan, Kessy, dan Rey tertawa mendengar ucapan Dimas, tapi tidak dengan Arga dan Hana yang hanya menampilkan wajah datar mereka.


" Ekhem ... apa yang akan kalian rencanakan untuk selanjutnya? " Tanya Arga menghentika tawa mereka. Tapi hanya sesaat karna Refan kembali tertawa.


" Hahaha sepertinya ada yang cemburu, Dimas! sepertinya kau punya saingan yang sangat sulit hahaha ... " Ucap Refan disela-sela tawanya.


" Kau ... " Ucapan Arga terhenti karna Dimas langsung menyelanya.


" Gunung tinggi 'kan ku daki, lautan dalam 'kan ku seberangi, demi mendapatkan mu Mai ku sayang, dan untukmu wahai tuan muda, relakanlah Mai ku ini karna ia hanya milikku seorang " Ucap Dimas yang terdengar sangat ... sangat ... sangat ... lebay. Mereka kembali tertawa kecuali Hana dan Arga yang lagi-lagi Hanya menunjukkan wajah datarnya.


Karna tingkah Dimas Hana mulai jengkel dan kesal dengan teman-temannya yang selalu saya menggodanya.


Aku benar-benar muak berada disini. Batin Arga.


" Hentikan tawa kalian atau aku akan pergi dari sini, kalian membuang waktuku saja " Ucap Arga yang hendak berdiri tapi ditahan oleh Hana.


" Sebaiknya kalian diam dan fokus pada rencana kita, jika tidak kalian bisa kembali ketempat kalian masing-masing " Ucap Hana benar-benar dingin tersirat kemarahan dan kekesalan. Semuanya bungkam, mereka menelan saliva mereka saat melihat Hana bersikap dingin dan itu menandakan kalau ia benar-benar marah.


" Tidak Hana, maafkan kami " Ucap Kessy pelan.


Hana menghembuskan nafas berat. " Baiklah aku maafkan, lain kali jangan seperti ini lagi, kalian tau ini masalah serius bahkan taruhannya adalah nyawa, aku harap masalah ini segera selesai " Ucap Hana lirih.


" Aku tidak melarang kalian untuk bercanda, tapi bisakah kalian tidak berlebihan seperti tadi, ya ... aku juga merasa tidak nyaman dengan itu " Lanjut Hana.


Wanita ini tidak bisa ditebak, tadi dia begitu marah seperti ingin memakan manusia saja, tapi setelah itu berubah seperti manusia yang minta dikasihani, aneh sekali. batin Arga.


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMENNYA


Yang ngerasa bingung sama episode lanjutan ini, baca ulang ya?! soalnya aku REVISI ulang.


SHARE YA 😢