BODYGUARD BERHIJAB

BODYGUARD BERHIJAB
Kepanikan Hana



Hana hanya bisa diam menatap Laila yang terus menceritakan kejadian kemarin sambil terisak.Setelah isakan Laila mulai terdengar mereda,Hana kembali bertanya pada Laila.


"Nona,pada saat pria itu tertangkap,apa anda yang menghubungi rekannya untuk membantunya?" tanya Hana.


Laila diam yak bersuara sedikitpun.Hal itu membuat alis Hana bertautan merasa bingung dengan reaksi Laila.


"Nona!!!"


"Tidak,aku bahkan tidak mengenalnya,dia datang dan langsung memintaku menutup mulutku jika aku tidak melakukannya dia malah mengancam akan membunuhku dan keluargaku lalu bagaimana caraku bisa menghubungi temannya" jelas Laila dengan cepat.


Hana berdiri dari posisi jongkoknya yang menghadap kearah Laila.Hana menghela nafas kasar,menggeram kesal dan mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.Hanapun semakin bingung sekarang,tidak ada satupun petunjuk tentang siapa pria itu,tentang siapa musuh yang sebenarnya,padahal dia sudah berlawanan langsung tapi malah kehilangan jejak.


"Kenapa anda tidak memberitahu kami waktu itu nona setelah polisi gadungan itu membawanya,padahal kita masih bertemu setelah itu?" Hana hanya mendesah geram menahan kekesalannya.


"Apa...apa maksudmu?po...polisi gadungan?apa maksudmu?" Tubuh Laila semakin gemetar dan jantungnya berdegup kencang.Sehingga kakinya pun rasanya tak sanggup menopang tubuhnya lagi.


"Dia berhasil lolos karena bantuan rekannya yang menyerang polisi sebelum sampai di perusahaan." Mendengar ucapan Hana seketika tubuh Laila membeku,Rasa takut sudah menjalar keseluruh tubuhnya,rasanya ia tak sanggup lagi untuk bernafas.Ia begitu takut,sangat takut.


"Apa...aku akan berakhir seperti ini,apa keluargaku juga akan tiada?apa dia akan menghabisi kami semua?" Ucap Laila gemetar,ia kembali terisak.


"Itu tidak akan terjadi,sekarang jawab pertanyaan saya kenapa anda tidak memberitahu kami nona perihal pria itu?" tanya Hana dengan nada dingin menatap tajam kearah Laila yang terus terisak.


"Aku...aku sangat panik dan juga takut pada waktu itu,aku tidak bisa berfikir jernih,yang kupikirkan hanya bagaimana caranya menyelamatkan diriku dan keluargaku setelah kejadian itu" ujar Laila terbata-bata.


Huh.....Hana menghembuskan nafas kasar "Bangunlah!!" Hana menjulurkan satu tangannya untuk membantu Laila berdiri.Laila mendongakkan kepalanya menatap Hana,ia meraih tangan Hana untuk menopang tubuhnya.Hana membantu Laila untuk duduk disofa.Setelah Laila duduk Hana juga duduk disampingnya.Tangan Hana terulur untuk mengusap punggung Laila agar dia tenang.


"Tenanglah,Anda tak perlu takut nona,dan...jika dia datang kembali segeralah hubungi saya" Hana meraih ponsel Laila yang ada diatas meja,ia memasukkan nomor ponselnya.


"Baiklah,kalau begitu saya akan pergi,saya masih ada urusan lain" lanjut Hana kemudian hendak melangkah pergi namun lenganya ditahan oleh cekalan Laila.


"Maafkan aku" lirih Laila masih menundukkan kepalanya.Hana menepuk pelan punggung tangan Laila yang berada dilengannya."Tidak apa apa nona,saya pergi assalamualaikum" Hana pergi setelah melepaskan lengannya dari cekalan Laila.


Hana kembali keapartemennya dan juga Arga.


"Apa tuan Arga sudah bangun?" guman Hana ketika berada tepat didepan pintu kamar Arga.


"Ah ya sudahlah mungkin tuan masih tidur,aku harus sarapan,cacing-cacing dalam perutku bahkan sudah mendemo karna lapar" guman Hana lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar miliknya.


Setelah memasuki kamarnya,Hana menelpon seseorang.


"Awasi dia!!" perintah Hana


Karna lapar Hana membuat sarapan untuk dirinya sendiri.Setelah sarapan Hana memutuskan untuk membangunkan Arga.Ini sudah terlalu siang pasti Arga belum sarapan pikir Hana.Hana menekan bel kamar Arga tapi tak mendapat sautan dalam.Hana mencoba menelpon Arga tapi juga nomornya tidak Aktif.Hana mulai panik.


"Kemana tuan Arga sebenarnya,jika dia masih tidur pasti dia akan terbangun saat aku menekan tombol bel atau saat aku mengetuk pintu dengan keras,ayolah tuan jangan membut aku panik begini dimana anda sekarang?"guman Hana terus mondar mandir didepan pintu kamar Arga.Seketika Hana memiliki ide,Hana berfikir untuk masuk saja langsung kekamar Arga tapi ia tidak tau paswordnya."aku harus bagaimana!!! tuan Refan...ya dia pasti tau pasword kamar tuan Arga".


Hana langsung menghubungi Refan yang kala itu berada dikantor.


"Assalamualaikum tuan Refan"


"Waalaikumsalam Hana,tumben sekali kau menelponku ada apa?"


"Saya....saya.....apa boleh saya meminta kode pasword kamar tuan Arga" Hana menggigit bibir bawahnya karna tak yakin bahwa Refan akan memberikan kode tersebut.


Refan mengernyit heran "Untuk apa kau meminta pasword kamar Arga?" tanya Refan yang membuat Hana terdiam.


"aku harus bilang apa,tidak mugkin aku bilang kalau tuan Arga tak bersuara didalam kamarnya atau menghilang!!!" Hana terus berperang dengan pikirananya,ia bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.Jika Hana memberitahu yang sebenarnya,pasti keadaan akan semakin kacau dan semua orang pasti panik.


"Hana!!!..apa kau masih disana?" Suara Refan membuyarkan lamunan Hana.


"Itu apa Hana?" tanya Refan


"Maaf tuan,maafkan saya,tuan Arga tak menyaut panggilan saya dari dalam kamar,saya telpon,nomornya tidak aktif,saya takut tuan Arga kenapa napa,saya rasa tuan Arga tidak ada dikamarnya jadi, tuan tolong bantu saya mencari tuan Arga dan jangan katakan pada siapapun kalau tuan Arga menghilang" jawab Hana cepat.Hana mengira Refan akan berteriak padanya karna kecerobohannya dalan menjaga Arga tapi tak disangka Refan malah tertawa terbahak disebrang sana,Hana mengernyit bingung ada apa dengan tuan Refan apa ada yang lucu? pikir Hana.


"A...ada apa tuan,ke..kenapa anda malah tertawa disaat keadaan panik seperti ini?" tanya Hana gugup."apa aku salah bicara?atau apa ada perkataanku yang mengandung lelucon?aku rasa tidak,lalu kenapa tuan Refan tertawa?apa...apa dia menertawakan cara kerjaku yang tidak becus dan ceroboh?" batin Hana.


Refan terus tertawa hingga tawanya mulai terdengar menjauh seperti ada yang mengambil ponselnya.Tiba-tiba suara yang begitu familiar terdengar ditelinga Hana.Hana sangat kaget,lidahnya terasa kelu untuk berbicara.


"Tu...tuan?" gugup Hana


"Katakan?kenapa kau meminta pasword kamarku?" ya..suara orang yang mengagetkan Hana adalah suara Arga.


"Ma..maaf tuan,saya...saya pikir terjadi sesuatu pada anda didalam kamar karna..karna anda tidak menyaut dari dalam kamar" ucap Hana terbata.


"aku sedang berada dikantor sekarang tentu saja tidak ada yang menyaut dari dalam kamar" Ketus Arga kesal dengan reaksi Hana yang berlebihan.


"Tapi kenapa nomor anda tidak aktif tuan?" tanya Hana


"Aku lupa mengecas ponselku dan meninggalkannya didalam kamar karna terburu-buru kekantor, Refan menjemputku dan kami langsung pergi,lagipun Refan memberitahuku apa yang kau lakukan tadi jadi aku membiarkanmu" jelas Arga santai,begitu santai tanpa memikirkan Hana yang sangat panik memikirkannya.


"Baiklah tuan,saya lega anda baik-baik saja,saya akan segera kesana sekarang"


"Terserah kau" Arga langsung mematikan panggilan secara sepihak tanpa salam.Hana mengelus dadanya"Sabar Hana sabar...kau tidak boleh menyerah ini demi nyonya mery yang memintamu untuk membantunya...setelah semuanya selesai aku pastikan aku tak akan melihat tuan sombong itu lagi" Batin Hana yang terus mengumpat tak suka.


Hana bergegas pergi kekantor Arga.


#Dikantor Arga.


"Nih!!" Arga melempar ponsel Refan kearah Refan yang masih tertawa.


Huf..hah...Refan menarik dan menghembuskan nafasnya untuk menghentikan tawanya.


"Hah...Hana itu sangat lucu,bagaimana bisa wanita yang begitu cantik dan imut sepertinya bisa jadi seorang bodyguard.aku bisa membayangkan ekspresi lucunya tadi saat dia berbicara begitu cepat karna mencemaskan dirimu Ar" puji Refan berusaha membayangkan wajah panik Hana.


"Apanya yang lucu dan imut,bahkan dia sangat menakutkan,selalu bersikap dingin dan berwajah datar,jika tersenyumpun hanya tersenyum paksa,sangat menyebalkan" Ketus Arga.


"Hei..hei...jangan begitu,wanita seperti dia itu sangat langka,dia itu wanita yang tangguh.Aku sarankan padamu Ar untuk jangan terlalu membencinya karna benci bisa jadi cinta lho" Goda Refan sambil menaik turunkan Alisnya.


Bruk..


Sebuah buku langsung mendarat tepat diwajah Refan.Arga menatap tajam kearah Refan membuat nyali Refan menciut.


"Maafkan saya tuan Arga Mahesya putra Admadja,jangan menatap saya seperti itu nanti bola mata anda bisa keluar" Ketus Refan kemudian langsung berlari keluar dari ruangan Arga.


"Kau.....!!!"


.


.


.


JANGAN LUPA LIKE VOTE AND COMEN YAH


Lopyu Reiders yang bertahan